Budaya
Balogo, Permainan Tradisional Banjar yang Tergerus dan Kian Terpinggirkan
Balogo merupakan salah satu permainan tradisional yang mungkin hanya orang tua saja yang pernah memainkannya saat kecil. Seiring perkembangan zaman era digital permainan anak-anak zaman dulu ini perlahan tapi pasti mulai ditinggakan.
Nama balogo sendiri diambil dari kata logo, karena permainan itu menggunakan logo. Permainan tradisional Suku Banjar ini biasanya dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa, baik secara beregu maupun perorangan. Jumlah pemain terdiri atas dua hingga lima orang.
Merasa rindu akan permainan tradisional ini, warga desa Tambangan, Kecamatan Astambul mencoba menghidupkannya kembali dengan mengelar lomba balogo. Acara ini dilaksanakan untuk menggali kembali tradisi kearifan lokal yang kian tergerus, dengan mencoba mengenalkan permainan ini kembali kepada generasi muda. Diikuti sebanyak 16 tim, dalam satu tim terdiri yang dikenakan biaya pendaftaran Rp 50.000.
Atas inisiatif mandiri dari tokoh masyarakat yang peduli tradisi lokal, lomba balogi diadakan setiap malam dan setiap ada kegiatan perkawinan atau acara lainnya.
Antusias warga pun sangat terlihat kala setiap pemain melancarkan aksinya. Semua lapisan masyarakat ikut. Laki laki, perempuan, dewasa dan anak-anak ikut serta menyaksikan perlombaan. Riuh penonton semakin menambah suasana hangat dan kekeluargaan.
Asrun warga RT 2 RT 1 begitu gembira saat bermain. “Balogo adalah salah satu permainan sewaktu kecil,†akunya. “Melihat acara ini jadi ingat masa kecil dan saya berterimakasih saat ini masih ada yang peduli dengan kebudayaan,†komentar Asrun mengenai lomba ini.
Logo terbuat dari tempurung kelapa, dengan garis tengah sekitar 5-7 cm dan tebal sekitar 1-2 cm. Kebanyakan dibuat berlapis dua yang direkatkan dengan bahan aspal atau dempul supaya berat dan kuat. Bentuknya bermacam-macam, ada yang berbentuk bidawang (bulus), biuku (penyu), segi tiga, layang-layang, daun dan bundar.
Dalam permainan balogo harus dibantu dengan sebuah alat yang disebut panapak atau kadang-kadang beberapa daerah ada yang menyebutnya campa, yakni stik atau alat pemukul yang panjangnya sekitar 40 cm dengan lebar 2 cm berbahan bambu.
Fungsi panapak atau campai adalah untuk mendorong logo agar bisa meluncur dan merobohkan logo pihak lawan yang dipasang saat bermain.
Cara memasang logo adalah dengan mendirikannya secara berderet ke belakang pada garis-garis melintang. Inti dari permainan ini adalah keterampilan memainkan logo untuk merobohkan logo lawan yang dipasang. Regu yang paling banyak dapat merobohkan logo lawan adalah yang keluar sebagai pemenang.
Pada akhir permainan, pihak yang menang disebut dengan ‘janggut’. Pemenang boleh mengelus-elus bagian dagu atau janggut pihak lawan yang kalah sambil berulang-ulang meneriakkan ‘janggut-janggut’.
Permainan ini sering dilakukan masyarakat Banjar hingga tahun 1980-an. Namun, sekarang pemerintah daerah sedang gencar mengadakan pertandingan balogo untuk tetap melestarikan permainan tradisional agar tetap ada. (devi)
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari
-
Kota Banjarbaru3 hari yang laluWali Kota Banjarbaru Minta Layanan RSD Idaman Tanpa Diskriminasi
-
HEADLINE3 hari yang laluJanal Afnan Addani Terbaik Pertama Tahfiz 30 Juz Putera MTQN ke-37 Kalsel
-
HEADLINE2 hari yang laluGedung Layanan Kedokteran Nuklir dan Pusat Layanan Jantung Terpadu Bakal Hadir di RSUD Ansari Saleh
-
Budaya2 hari yang laluAngie Carvalho Bawakan Dua Lagu ‘Kaum Patah Hati’ Banjarmasin
-
Infografis Kanalkalimantan3 hari yang laluHANI 2026 “Menjaga Generasi Muda Tanggung Jawab Bersama”
-
DPRD Kapuas2 hari yang laluFraksi-Fraksi DPRD Kapuas Meminta Penagihan Denda Keterlambatan Pekerjaan Rekanan




