Connect with us

HEADLINE

‘Atmosfer Keruh’ Pemilu Picu Menguatnya Golput Kaum Milenial Kalsel

Diterbitkan

pada

Meningkatnya jumlah Golput terus menjadi ancaman di setiap pemilu Foto: net

BANJARMASIN, KPU Kalsel menyatakan ada total 120.459 orang pemilih baru berusia 17 tahun pada Pemilu 2019 yang miliki kesempatan memilih pertama kalinya dalam pesta demokrasi. Maka partisipasi politik milenial akan sangat penting dalam menentukan persentasi tingkat pemilih nanti. Mengingat sebelumnya KPU Kalsel menargetkan partisipasi pemilih bisa mencapai 77 persen.

Berdasarkan dari KPU RI, jumlah pemilih milenial mencapai 70 juta-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35-40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin pada masa mendatang.

Disisi lain, faktanya sejumlah milenial masih belum menentukan sikap politik. Cici, salah satu mahasiswa ULM misalnya, ia mengaku masih bingung. Bukan karena kurang informasi, namun iklim dan suasana demokrasi yang dipenuhi saling hujat yang ada saat ini justru membuatnya bimbang. Alih-alih, ia merasa ragu dan hampir memutuskan untuk golput.

“Entah, bagiku pemilu kali ini lebih banyak saling serang dan sebar hoaks daripada adu pencapaian dan kualitas. Kalau begini terus, lebih baik aku golput saja,” ucapnya.

Hal yang serupa terlontar dari mulut seorang pekerja lepas di bidang fotografi, Rahmat. Sebagai seorang mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi yang juga gemar mengikuti perkembangan politik, ia merasa gerah dengan pemilu kali ini. “Apalagi para pendukung paslon yang mati-matian membela sampai relasi dengan rekan yang beda pilihan pun sampai renggang. Apa mereka lupa masih ada kehidupan setelah pemilu?” ujarnya.

Di sisi lain, caleg muda PSI, Stephanie K mengatakan, keputusan golput atau tidaknya generasi muda tentu sangat berpengaruh. “Mungkin untuk yang golput berpikir ‘apa pengaruhnya kalau aku nyoblos?’ atau sama saja ah, tidak ada perubahan. Suara kita itu menentukan masa depan kita, dengan kita tidak mencoblos kita memberi peluang untuk dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab dan kita pula memberi peluang oang-orang haus kekuasan yang tidak memikirkan masyarakat utk kembali duduk atau akan duduk di pemerintahan,” jelasnya

Siti Hamidah, selaku mantan komisioner KPU Kota Banjarmasin pesimis total angka para pemilih 17 April mendatang akan mencapai target.  Ia mengatakan, rendahanya angka partisipatif masyarakat Banjarmasin dipengaruhi tingkat pendidikan maupun kesadaran politik yang tinggi. Berdasarkan Pemilu 2014 lalu, jumlah pemilih di Banjarmasin merupakan yang terendah Banjarmasin.

“Karena tingkat pendidikannya dan kesadaran politk tinggi, maka sulit dipengaruhi ikut partisipasi. Jadi susah merubah mindset mereka untuk ikut memilih, karena punya pemikiran sendiri,” jelasnya.

Di samping itu, generasi milenial diharapkan mampu membawa dinamika politik yang sehat dan dinamis adanya unsur SARA. Tahun 2019 merupakan momentum politik yang membutuhkan para generasi milenial yang kritis, tanggap, kreatif, dan advokatif. Langkah-langkah yang dapat mereka lakukan dalam mengisi pesta demokrasi dapat dengan beragam cara, misalnya mendorong gerakan anti golput, saling menghargai satu sama lain, atau ikut berkampanye hashtag yang positif demi pemilu berkualitas.

Memang, potensi masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya (Golput) pada pemilu 17 April 2019 masih menjadi tugas berat bagi KPU Kalsel. Harapannya, tingkat partisipasi pemilu bisa mencapai 77,5 persen pada pemilu nanti. Terget tersebut bahkan sudah lebih besar dibandingkan capaian pada Pilkada Serentak tahun 2015 yang cuma mencapai 66,34%.

Komisioner KPU Kalsel Edy Ariansyah sebelumnya mengatakan, target 77 persen partisipasi pemilih cukup rasional. “77,5 persen untuk pemilih provinsi merupakan standar minimal. Kalau bisa sih ya harus 100 persen” ungkapnya saat acara di di Siring Balai Kota, Kamis (10/1) lalu.

Target tersebut menurut Edy dirasakan cukup realistis. Mengingat saat ini, rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap hasil perbaikan kedua (DPTH-2) yang disahkan dalam rapat pleno KPU Provinsi Kalsel 11 Desember lalu, mencatat ada 2.869.166 jumlah pemilih di seluruh kabupaten/kota. Dengan jumlah laki-laki 1.436.959 orang dan perempuan 1.432.207 orang.

Sebagai data pembanding, partisipasi pemilih provinsi Kalsel pada pilkada sertentak tahun 2015 lalu tercatat sebanyak  2.897.057 pemilih dengan laki-laki 1.454.713 pemilih dan perempuan 1.442.344 pemilih.  Namun, masyarakat yang menggunakan hak pilihnya ketika itu sebanyak 1.921.946 orang, yang berarti 975.111 orang di Kalsel tidak menggunakan hak suaranya. “Hanya 66,34 persen masyarakat yang menggunakan hak pilihnya dengan jumlah laki-laki 940.402 pemilih dan perempuan dengan 981.554 pemilih,” terangnya.

Edi mengatakan, yang harus dipahami adalah memilih merupakan hak bagi masyarakat. Bukan kewajiban. Namun demikian, melihat waktu pemilu yang semakin dekat, pihaknya terus menggenjot sosialisasi kepada masyarakat. “Di antaranya melalui rumah pintar pemilu, dan juga kita membuat RELASI (Relawan Demokrai). Semua pemilih dan masyarakat kita himpun,” ungkap Edy.

Langkah tersebut diakukan tentunya untuk meningkatkan pemahaman tentang demokrasi dan pemilu. Termasuk meningkatkan partisipasi pemilih, membangun kepercayaan publik, dan sebagai bentuk kontrol agenda publik  terhadap penyelenggaraan pemilu. Sehingga rangkaian-rangkaian diselenggarakan, dibangun, dan dihidupkan bersama secara demokrasi dengan masyarakat.

Kedua Capres ‘Takut’ Suara Golput

Founder dan CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menilai, kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dibayang-bayangi kelompok yang memilih golput. Namun, masing-masing pasangan calon dibayangi jenis golput yang berbeda. “Kedua kandidat ini sama-sama dihantui oleh golput dengan jenis yang berbeda,” kata Hasanuddin saat diskusi ‘Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda’, di Upnormal Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (26/3) lalu, dilansir kompas.com.

Ia menilai, pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin “terancam” oleh pemilih yang golput karena ideologi. Golput ideologis adalah pemilih yang menganggap kedua pasangan calon tidak ada yang sesuai dengan ekspektasinya. Pasangan calon nomor urut 01 itu dinilai paling dirugikan oleh golput kategori ini karena beberapa kebijakan Jokowi dianggap tak sejalan ekspektasi publik. “Itu lebih berpengaruh ke Jokowi karena kita bisa melihat bahwa di beberapa bulan terakhir itu ada beberapa kebijakan Jokowi yang tidak sesuai dengan ekspektasi publik,” kata dia.

Sementara itu, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai paling dirugikan oleh pemilih yang golput apatis. Pemilih dalam kategori golput apatis, kata dia, tidak peduli dengan pesta demokrasi tersebut. Menurut Hasanuddin, pemilih yang golput apatis kebanyakan anak muda. Oleh karena itu, paslon nomor urut 02 yang paling dirugikan karena banyak pemilihnya yang juga merupakan anak muda. “Kalau kita baca hasil survei banyak pemilih 02 itu mayoritas anak-anak muda 17-21 tahun. Padahal kalau kita lihat yang golput apatis itu kebanyakan dari pemilih muda atau pemilih pemula,” ujar Hasanuddin. “Sehingga kalau kita lihat pemilih pemula banyak yang paling dirugikan adalah 02 karena potensi suaranya akan berkurang,” lanjut dia.(mario)

Reporter:Mario
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->