Kanal
Penyiapan Generasi Emas, Amuntai Perangi Stunting
AMUNTAI, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten HSU menggelar sosialisasi penyiapan generasi emas sesuai dengan kearifan lokal, 27-30 November 2018. Bertemakan “Beapik Palihara Anak Dengan Kapas†(Kota Amuntai Perangi Stunting).
Acara diisi dengan berbagai lomba seperti lomba yel-yel, pentas seni dan juga lomba penyuluhan dari peserta kader 10 desa stunting di Aula BKPP/BKD HSU.
Kabid KS BKKBN Provinsi Kalsel Hj Mila Rahmawati menuturkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan pilar utama pembangunan suatu bangsa, karenanya SDM sangat menentukan kemajuan bangsa.
Bangkitnya generasi emas Indonesia diperlukan pembangunan pengasuhan dalam perspektif masa depan, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas, maju, mandiri, dan modern, serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Keberhasilan dalam membangun kualitas pengasuhan dari dalam keluarga akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan.
“Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya,†ujarnya.
Pendidikan berkarakter juga perlu diberikan saat anak anak baru masuk dalam lingkungan sekolah. “Disinilah peran guru untuk menjadi contoh dan teladan bagi anak didiknya , karena guru merupakan ujung tombak yang berhadapan lansung bagi peserta didiknya,†terang Mila.
Sementara itu, Kabid KSPK DPPKB HSU Dra Vivi Suprihati mengatakan, kegiatan ini sebagai ajang kreatifitas pengembangan media penyiapan generasi emas melalui kearifan lokal.
Saat Indonesia genap berusia 100 tahun, menjadi salah satu alasan munculnya ide, wacana dan gagasan tentang Generasi Emas 2045. Istilah ini digaungkan tanpa sebab, pasalnya ada satu harta karun yang sejatinya bisa menjadi modal untuk kelangsungan bangsa dan negara ini kedepannya, bernama bonus demografi.

Pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.
Mencetak generasi emas merupakan amanah dan perjuangan yang besar, sehingga diperlukan kerjasama dan sinergitas dengan berbagai institusi dan pihak terkait untuk mewujudkannya .
Untuk itu persiapan generasi emas bangsa tidak semata-mata dengan pengasuhan yang tersusun dalam silabus pendidikan anak semata, namun lebih dari itu, diperlukan penyesuaian dengan lokasi dimana calon orang tua serta dimana anak akan tumbuh dan berkembang.
“Oleh karenanya, faktor budaya sangat berperan dalam menanamkan dan mengajarkan norma, menyosialisasikan nilai, dan menanamkan etos di kalangan masyarakat,†pungkasnya (dew)
Editor: Abi Zarrin Al Ghifari
-
Bisnis3 hari yang laluJaecoo Merambah Banjarbaru, Buka Dealer Resmi di A Yani Km 33
-
HEADLINE2 hari yang lalu“Aksi Reset Indonesia” di DPRD Kalsel, Ditinggal Supian HK Tiga Mahasiswa Luka
-
Kota Banjarmasin3 hari yang laluPepelingasih – Perumda PALD Banjarmasin Bahas Pengelolaan Limbah Domestik
-
HEADLINE2 hari yang laluDilarang! Petugas Dapati Rice Cooker dan Pemanas Air dari Koper Jemaah Kloter BDJ 01
-
HEADLINE2 hari yang laluHaji 2026: Bandara Syamsudin Noor Siap Terbangkan 6.758 Jemaah
-
Kalimantan Selatan2 hari yang laluAliansi BEM se Kalsel: MBG Rawan Bocor, Pengawasan Minim






