Connect with us

Kota Banjarbaru

2017, Dishut Kalsel Rehabilitasi Hutan Seluas 16.188 Hektare

Diterbitkan

pada

Dishut Kalsel memaparkan sejumlah kegiatan yang dilakukan selama tahun 2017. Foto : devi

BANJARBARU, Dinas Kehutanan Kalsel telah melakukan rehabilitas hutan dan lahan dengan melakukan penanaman di lahan seluas 16.188 hektare untuk mendukung program Revolusi Hijau yang dicanangkan Gubernur Sahbirin Noor, selama tahun 2017. Selain itu, yang membanggakan adalah keberhasilan menurunkan titik hotspot dibanding tahun 2015 dan 2016 lewat kerjasama berbagai pihak.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Hanif Faisol Nurofiq, pada konferensi press, Sabtu (30/12), saat menyampaikan beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan instansinya selama 2017. Berbagai kegiatan ini, meliputi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Rehabilitasi Hutan dan Lahan (revolusi hijau), perlindungan dan konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Pemberdayaan Masyarakat dan Perencanaan dan Pemanfaatan hutan di Provinsi Kalimantan Selatan.

Hanif mengatakan, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel sudah melakukan penanaman guna mendukung gerakan revolusi hijau yang dicanangkan oleh Gubernur Kalsel. Dari kegiatan tersebut sudah melakukan rehabilitas hutan dan lahan dengan melakukan penanaman di lahan seluas 16.188 hektare.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Aparatur Sipil Negara (ASN) yang promosi dan naik pangkat, kegiatan kebun bibit besar, penanaman mangrove, agroforestry, Rehabilitasi Hutan dan Lahan di dalam dan luar kawasan, rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) oleh pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan dan Penanaman oleh Pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Hutan Tanaman (IUPHHK-HT).



“Alhamdulillah Gubernur berhasil mendapatkan penghargaan yang diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan dihadiri oleh Presiden RI sebagai Kepala Daerah Peduli Lingkungan pada acara HMPI Nasional Baruta di Yogyakarta” katanya.

Yang membanggakan juga, tahun 2017 terjadi penurunan hotspot yang begitu tajam dibanding tahun 2015 dan 2016.  Di tahun ini hotspot tercatat sebanyak 502 titik, mengalami penurunan dibanding tahun 2016 sebanyak 2.332 titik dan di tahun 2015 sebanyak 196.517 titik.  Untuk kawasan yang terbakar seluas 867,35 ha yang terdiri atas kawasan hutan seluas 381,35 ha dan non kawasan hutan/areal penggunaan lain (APL) seluas 486 ha.

“Penurunan titik panas ini dibantu oleh adanya Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan (Brigdalkarhut) yang terdiri atas 135 orang yang tersebar di 8 KPH.  Selain adanya brigade ini, Dishut Kalsel juga melakukan pembinaan terhadap kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), Pemantauan hotspot setiap 2 jam, Patroli Dalkarhutla, dan Pembinaan terhadap kesiapan Darkarhutla oleh IUPHHKA, HTI dan Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH),” ujarnya.

Selain pengendalian terhadap kebakaran hutan dan lahan, Dishut Kalsel juga melakukan konservasi terhadap beberapa jenis satwa yang dilindungi dan mengalami ancaman kepunahan.  Tindakan konservasi yang dilakukan seperti bekerjasama dengan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dengan melakukan evakuasi bekantan dari masyarakat yang kemudian dilakukan pelepasliaran bekantan tersebut.  Selain itu juga melaksanakan konservasi terhadap satwa-satwa lain yakni beruang, Owa-owa dan binturung yang sekarang berada di penangkaran yang ada di Taman Hutan Raya Sultan Adam.

Dia juga menambahkan bahwa selama tahun ini sebanyak 4 unit mobil dan kayu sejumlah 28,51 m3, kayuan temuan sebanyak 54,90 m3, 1 unit excavator, dan dana bagi hasil lelang sebesar Rp. 531.800 dari kegiatan 23 operasi pengamanan kawasan hutan yang sudah dilaksanakan selama tahun 2017.(abdullah/devi)

 

Reporter : Abdullah/devi
Editor : Chell


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->