HEADLINE
Wabah PMK Mulai Dirasakan Pedagang Daging, DKP3: Virus Tidak Menular ke Manusia
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak selain berdampak pada sektor ekonomi. Walau di Banjarbaru belum ditemukan kasus hewan ternak terinfeksi PMK, namun pedagang di pasar merasa imbasnya.
Hal ini menyebabkan harga sapi maupun dagingnya melonjak tidak seperti biasanyanya. Seperti yang dirasakan pedagang daging potong di Pasar Bauntung Banjarbaru.
Pedagang Daging Potong, Raudhatun mengatakan dampak PMK sudah dirasakan oleh pedagang daging potong, ada kenaikan harga dan daging sulit didapat.
“Berdampak, dari harga jual naik,” ujarnya.
Baca juga: Kijang Terjun Bebas Seruduk Toko Burung, Penjual: Banyak Lepas, Kerugian Capai Rp70 Juta
Dikatakannya, harga daging sebelum PMK dijual dengan harga Rp 120 ribu perkilogram setelah PMK merebak harga daging menjadi Rp 150 perkilogram.
“Harga jualnya naik, karena barangnya ini lagi sulit didapat,” katanya.
Diutarakan Raudhatun, dampak dari PMK juga merambat pada jualannya. Biasa dlam sehari bisa menghabiskan 50 kg, tapi sekarang hanya bisa menghabiskan 20 kg yang diambil dari penjagal sapi sekitar Banjarbaru.
Diakuinya banyak pembeli yang khawatir mengenai PMK pada daging sapi yang dirinya jual. Namun, tidak sedikit juga para pembeli yang membeli dilapak dagangannya tertama para pembeli langganannya.
“Dampaknya ini rata semua kepada para penjual daging sapi, tidak hanya satu atau dua orang saja yang merasakannya,” tuntasnya.
Dirinya hanya bisa berharap PMK pada hewan ternak ini cepat berlalu dan dinas terkait dapat menangani PMK agar tidak menyebar luas di Kota Banjarbaru.
Baca juga: Usut Penyebab Kematian, Jenazah Marjuni Dibawa ke RSUD Ulin untuk Otopsi
Sementara, Kepala Sub Koordinator Produksi Peternakan, Bina Usaha dan PHP, drh. KT. Wulan R. mengatakan penyakit ini imbasnya sangat cepat sebab merugikan kepada peternak.
“Kalau terinfeksi sapinya tidak bisa dijual hanya jual dagingnya saja, sedangkan peternak terus memberi pakan tiap hari dan itu memerlukan dana,” ujarnya
Dilanjutkannya, pemerintah sangat menghindari PMK dikarenakan sangat berdampak bagi ekonomi peternak.
Apabila ada teridentifikasi maka bagian tangan, kaki, kepala dan jeroan lebih baik dibuang jangan dimakan, walau PMK ini tidak menular kepada manusia.
“Daging masih bisa dikonsumsi dan tidak menularkan kepada manusia,” sambungnya.
Dengan adanya wabah PMK juga berdampak bagi kenaikan harga, sebab mendekati Hari Raya Idul Adha permintaan sapi akan meningkat sedangkan beberapa jalur lintas ternak ditutup untuk dua provinsi Jawa Timur dan Aceh.
“Konsekuensinya harga pasti naik, karena permintaan banyak barangnya sedikit,” tuntasnya.
Lebih jauh, pihaknya terus gencar dalam memberikan sosialisasi kepada peternak terkait pencegahan PMK pada hewan ternaknya.(kanalkalimantan.com/ibnu)
Reporter: ibnu
Editor: cell
-
Kota Banjarbaru2 hari yang laluKompetisi QRIS Pajak dan Retribusi Daerah Banjarbaru Berhadiah Umrah
-
HEADLINE3 hari yang laluKemana Triliunan Sisa Kuota Internet Hangus, IAW Desak Audit Operator
-
PUPR PROV KALSEL1 hari yang laluPUPR Kalsel Terus Matangkan Pembangunan Jalan Lintas Tengah Tapin – Banjar
-
PLN UIP3B KALIMANTAN2 hari yang laluPLN UPT Pontianak Gelar Pelatihan Pembuatan Mikoriza dan Kompos
-
Kabupaten Banjar2 hari yang laluBantu Korban Rumah Amblas di Kertak Hanyar, Pemkab Banjar Carikan Tempat Tinggal Sementara
-
Kabupaten Balangan3 hari yang lalu10 Inovasi Pelayanan Dinas PUPR Perkim Balangan


