Connect with us

Kota Banjarbaru

Upaya Membentengi Santri dari Narkoba, BNN Banjarbaru Kampanye di Ponpes

Diterbitkan

pada

BNN Kota Banjarbaru menggelar sosialisasi di Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Songo, Kelurahan Guntung Manggis. Foto : bnn banjarbaru

BANJARBARU, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Banjarbaru terus melaksanakan pemberantasan narkoba, salah satunya dengan menggelar sosialisasi di Pondok Pesantren (Ponpes).

Bertempat di Ponpes Wali Songo, Kelurahan Guntung Manggis, Kota Banjarbaru, Selasa (13/8) siang, BNN Kota Banjarbaru memberikan sosialisasi pencegahan narkoba kepada 50 santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Pelaksana Harian (Plh) BNN kota Banjarbaru, M Khairani Nor SE menjelaskan, sosialisasi ini pihaknya memberikan materi berupa jenis-jenis narkoba, dampak buruk penggunaan narkoba, Indonesia darurat narkoba, serta penyalahgunaan, pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN).

“Kegiatannya sosialisasi, kita laksanakan seperti talkshow. Harapan kami para santri itu akan mengerti dampak bahaya penggunaan narkoba, sehingga mereka mampu menghindarkan diri dan menjauhi narkoba,” imbuhnya.

Terlihat puluhan santri ini begitu antusias saat mendengarkan materi-materi yang diberikan. Beberapa pelajar juga tidak sungkan untuk bertanya dan mengetahui lebih jauh tentang apa itu narkotika.

Dijelaskan, Khairani, selain membentengi generasi muda dari bahaya narkoba, nantinya juga akan dibentuk Satgas atau penggiat anti narkorba khusus di lingkungan pendidikan Ponpes Wali Songo.

“Tadi kita sudah bahas dengan pengurus Ponpes dan nanti akan ditunjuk siapa saja yang ikut dalam Satgas. Artinya, hubungan BNN dengan santri tidak terputus di sini. Semoga bisa bermanfaat,” katanya.

Khusus di Kota Banjarbaru, memang saat ini di lingkungan pendidikan jarang sekali ditemukan adanya penggunaan narkotika. Karena faktanya, para pelajar lebih condong kepada penggunaan bahan-bahan adiktif yang disalahgunakan. Dulunya, zenith carnophen adalah bahan adiktif yang paling sering digunakan para pelajar. Bahkan peredarannya sangat luas, baik tangan ke tangan bahkan dijual di warung-warung dan tempat hiburan malam.

Kini, zenith carnophen sudah tidak mudah lagi ditemukan. Selain harganya yang semakin mahal, hal tersebut juga setelah adanya keputusan dari Menteri Kesehatan yang menyatakan bahea zenith carnophen masuk dalam Narkotika Golongan I atau setara dengan sabu.

Plh BNN Kota Banjarbaru, mengatakan ada berbagai kondisi yang menyebabkan para pelajar terpanggil untuk menggunakan bahan-bahan adiktif. Meski begitu, ia mengakui saat ini trendnya sudah sangat menurun di berjuluk Idaman ini.

“Ya penyebabnya yang paling sering ditemukan yaitu pergaulan. Bisa juga dipicu karena ada konflik di rumah, entah orang tuanya tidak rukun atau kurangnya komunikasi orang tua kepada anak. Tapi kita lihat di tahun 2019 ini, trendnya sudah banyak mengalami penurunan,” pungkas Khairani. (rico)

Reporter : Rico
Editor : Bie

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->