Connect with us

VOA

Upaya Indonesia Bersihkan Sungai Terkotor di Dunia (1)

Diterbitkan

pada

Sungai Citarum masuk dalam daftar 10 tempat paling tercemar di dunia tahun 2013. Foto : Dok

BANDUNG, Sungai Citarum di Jawa Barat menyandang predikat salah satu tempat paling tercemar di dunia. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk membersihkan sungai terpanjang ketiga di Indonesia ini. Program terbaru, bertajuk “Citarum Harum”, diklaim memberikan dampak yang signifikan dalam tahun pertamanya.

Pada tahun 2013 Green Cross Switzerland dan Blacksmith Institute menyatakan Sungai Citarum sebagai salah satu tempat paling tercemar di dunia. Sungai ini ada di posisi tiga, hanya kalah dari Agbogbloshie, gunung sampah elektronik di Ghana, dan Chernobyl, kota yang mati akibat radiasi nuklir di Rusia.

Sungai sepanjang 269 kilometer ini diidentifikasi punya tiga masalah utama. Di hulu sungai terdapat lahan kritis yang menyebabkan erosi tanah; di sepanjang aliran muncul pengendapan yang menyebabkan banjir; ditambah pencemaran kotoran ternak, sampah rumah tangga, dan limbah pabrik. Berbagai senyawa beracun pun muncul di daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang berdampak buruk pada 35 juta orang di 13 kabupaten/kota yang dilaluinya.

Bupati Bandung Dadang Nasser, yang daerahnya dilewati 35 kilometer aliran Citarum, mengatakan perlu solusi menyeluruh.

“Kalau dari atas: sedimentasi, karena hutan lahan kritis. Di situ ada juga kotoran ternak. Mulai turun ke bawah, turun ke (daerah) Majalaya (di Kabupaten Bandung) nah itu mulai ada pabrik,” ujarnya dalam Rapat Evaluasi Satu Tahun “Citarum Harum” di Bandung, Selasa (15/1).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berbicara dalam rapat evaluasi satu tahun “Citarum Harum” di Bandung, Selasa (15/1). Dia mengatakan akan membuat kantor tunggal bagi Satgas Citarum guna memangkas koordinasi. Foto : dok

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menerapkan setidaknya dua program untuk memulihkan ekosistem sungai. Pada 2000-2003 pernah ada “Citarum Bergetar” yang fokus pada pengendalian pencemaran. Pada 2013 muncul “Citarum Bestari” yang secara ambisius ingin air Sungai Citarum layak minum dalam 5 tahun -target yang akhirnya gagal dipenuhi.

Program terbaru, “Citarum Harum”, didorong langsung oleh Presiden Joko Widodo dan bergulir sejak 2018. Upaya pemerintah ini, ditambah inisiatif warga di banyak titik, berangsur memperbaiki kondisi Citarum, ujar Dadan Hermawan, mantan pengurus Walhi Jawa Barat.

“Jadi sebenarnya tidak ujug-ujug (tiba-tiba). Tidak akan ada Citarum Harum kalau tidak ada Citarum Bestari. Tidak ada Citarum Bestari kalau tidak ada Citarum Bergetar,” ujar Dadan di sela-sela acara.

Belum ada data yang menunjukkan tingkat pencemaran Citarum berkurang. Namun kata Dadan, hal itu bisa dilihat kasat mata melalui air yang lebih jernih dan sampah yang berkurang. Kini, beberapa badan sungai sudah bisa dipakai untuk kegiatan.

“Kalau dulu budug (bahasa Sunda=penyakit kulit). Dulu tuh jarang dipakai. Biasanya latihan river rescue di Situ (Cisanti) sekarang bisa dipakai di beberapa badan sungai,” jelasnya.

Dadan menambahkan, warga juga telah berkontribusi memulihkan sungai. “Banyak juga eco-village di 162 desa, ada saber, ada Zero Waste, dan ada kelompok-kelompok masyarakat yang tidak punya kelompok tapi dia punya karya,” paparnya.

Tentara dan Warga Angkat 80 Ribu Ton Sampah dan Endapan

Citarum Harum menjadi tanggung jawab Satgas Citarum yang dikomandani Gubernur Jawa Barat. Satgas ini bekerjasama dengan Kodam III Siliwangi dan Kodam Jaya untuk memulihkan ekosistem.

Pangdam III Siliwangi Tri Soewandono mengatakan telah mengangkut 80 ribu ton sampah dan endapan dari Sungai Citarum. Hal itu dilakukan oleh 1.700 personel militer bersama 1.300 warga setempat.

Para anggota TNI terlibat dalam program pembersihan Sungai Citarum di Bandung Selatan, Jawa Barat. Foto: dok

“Kalau kita lihat kasat mata, bersihnya dulu. Baru bersihnya dulu. Saya optimis lima tahun ke depan (bisa selesai),” jelasnya kepada wartawan dalam kesempatan yang sama.

Namun endapan dan sampah ini sebagian masih tertumpuk di daratan dan belum diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) karena sejumlah hal. Petugas pun membuat pengolahan sampah di beberapa titik.

“Sementara masih kita buat incinerator (tempat pengolahan sampah) tapi itu pun baru beberapa titik. Dan itu ke depan nya akan lebih fokus lagi dibicarakan,” jelas Tri lagi.

Tentara bersama warga setempat juga telah menanam 1,4 juta pohon “bernilai ekonomis dan ekologis” di kawasan hulu dari total target 125 juta pohon.

Pada 2018, pemulihan ekosistem sudah berlangsung di 13 sektor dan sisa 10 sektor akan digarap mulai 2019.

Kendala: Koordinasi dan Sumber Daya

Namun berbagai upaya ini, yang melibatkan banyak kementerian dan lembaga, menemukan kendala koordinasi. Beberapa titik DAS Citarum yang melewati 13 kabupaten kota bahkan dikelola oleh Perhutani atau Perkebunan Nusantara VIII. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan membentuk kantor tunggal bagi Satgas Citarum dimana “segala keputusan dibuat”.

“Sehingga tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan yang tidak sinkron. Karena ada puluhan elemen yang bekerja demi Citarum tapi satu sama lain seringkali masih belum terkoneksi,” jelasnya usai rapat evaluasi.

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini juga berencana mendirikan unit kerja khusus yang akan memiliki truk sampah dan manajemen tersendiri khusus untuk Citarum.

“Karena melintasi belasan kota kabupaten, koordinasi terlalu berat. Sehingga untuk urusan-urusan sampah yang sering kali ping pong, dan kapasitas terbatas, nanti kita akan beli truk sampah sendiri, akan hire orang yang mengurus sampah sendiri,” jelasnya lagi.

Di samping itu, proses pengangkutan endapan dan sampah memerlukan biaya besar. Komandan Satgas Citarum ini tengah menunggu dana 640 miliar dari pemerintah pusat. Kata dia, setengahnya akan diserahkan kepada pihak militer untuk tugas pemulihan ekosistem.

Dia mengatakan, pemerintah provinsi Jawa Barat juga akan membeli 10 ekskavator guna mendukung Citarum Harum, seraya berharap target program ini tercapai dalam 5 tahun. (rt/em/kk/voa)

Reporter : Rt/em/kk/voa
Editor : Kk

Bagikan berita ini!
  • 3
    Shares