Connect with us

HEADLINE

Soroti Banjir Satui, Walhi Kalsel: Kenapa Air dan Hujan Disalahkan, Kalsel Lagi ‘Sakit’!

Diterbitkan

pada

Banjir di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu merendam enam desa. Foto: actkalsel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Banjir di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) yang merendam 6 desa disebut berasal dari luapan air Sungai Satui akibat curah hujan yang tinggi.

Menyikapi hal tersebut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyo beranggapan pihak pemerintah gagap, lalai dan lambat.

“Kenapa air dan hujan yang disalahkan terus?,” ujar Kisworo.

Ditegaskan Direktur Walhi Kalsel, pemicu banjir di Kecamatan Satui sudah jelas daya tampung dan daya dukung lingkungan sudah rusak parah. “Musim hujan banjir, musim kemarau Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dan itu menjadi permasalahan setiap tahunnya, kapan Kalsel akan membangun?,” ungkapnya.



Banjir di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu merendam enam desa. Foto: actkalsel

Pada saat momentum banjir, karhutla dan Ramadhan serta Idul Fitri sudah seharusnya menjadi acuan bagi semua agar semakin peduli terhadap lingkungan dan keselamatan rakyat pinta Direktur Walhi Kalsel.

Untuk itu Walhi Kalsel merekomendasikan dan mendesak beberapa point dalam agenda Walhi kepada pemerintah diantaranya :

1.Cabut UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba dan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. 2.Tanggap bencana (sebelum, pada saat dan paska bencana/pemulihan).

3.Review dan audit seluruh perizinan industri ekstraktif tambang, sawit, HTI, HPH secara transparan.

4.Setop Izin baru, yang ada saja kacau apalagi ditambah.

5.Penegakan hukum terutama kepada perusak lingkungan.

6.Bentuk Satgas atau komisi khusus kejahatan lingkungan dan SDA serta bentuk pengendalian lingkungan.

7.Perbaikan kerusakan lingkungan termasuk DAS, sungai, drainase serta tutup lahan ekonomi rakyat.

8.Review RTRW (Rencana tata ruang wilayah).

9.RPJM, RPJP dan APBD, APBN yang pro terhadap keselamat rakyat dan lingkungan.

Menurut Kisworo, Kalsel lagi sakit, dan masih dalam posisi darurat ruang serta darurat ekologis.

“Sudahlah cukup kita semua harus ingat kembali ke jalan-NYA,” tandasnya. (kanalkalimantan.com/al)

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->