Connect with us

Ekonomi

Rimpi Binuang Perlahan Digilas Tambang (Bagian 1)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BINUANG, Tak kurang dari lima belas ribu biji pisang jenis awa yang sudah matang ia kupas bersama istri dan dua anak perempuannya. H Maslan bersama Biah, istrinya sudah sejak puluhan tahun memproduksi rimpi alias pisang salei yang menjadi oleh-oleh khas Binuang. Namun kini, mungkin hanya tersisa dia dan beberapa orang lain saja yang masih betah bergumul dengan pisang-pisang itu. Sisanya, sudah kikis tergilas pesona semu bisnis tambang di Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RUDIYANTO – Tapin
Jurnalis Kalimantan View

Siang, Maslan yang kini sudah paro baya ini melangkah menuju sebuah gudang berukuran sekitar 2 X 6 meter di bagian belakang rumah di Jalan Raya Barat, RT 1, Binuang. Beberapa kayu bakar berkuran besar tanpa dibelah, ia masukkan ke dalam gudang.

Tak lama kemudian, asap mengepul dari dalam gudang seiring api yang dinyalakan Maslan. Di antara api yang kian  membesar, ia terus menambah bilah-bilah kayu bakar. Setelah hawa panas api benar-benar terasa hingga di sudut-sudut gudang, dia kembali menuju teras rumah di mana istri dan kedua  anaknya masih saja tekun mengupas pisang-pisang.

Ribuan biji pisang yang sudah dikupas, ia bawa ke gudang. Pisang-pisang kemudian dipindahkan atau diampar di atas rampatai (bambu yang dianyam renggang berfungsi sebagai alas meletakkan pisang saat proses pemanggangan atau manyalai berlangsung) tepat di atas nyala api yang mulai mengubah kayu menjadi bara.

Usai maampar, Maslan kembali ke teras rumah untuk mengupas pisang bersama istri dan dua anaknya lagi. Setelah pisang yang dikumpas terkumpul cukup banyak, kembali ia maamparnya di atas rampatai di dalam gudang. Begitu seterusnya sampai semua pisang terkupas dan rampatai dalam gudang penuh dengan pisang.



Setelah semua pisang tertampung di atas rampatai, dinding-dinding gudang yang dibuat serupa jendela ditutup rapat agar hawa panas api tak keluar. Baru setelah sekitar enam jam kemudian. Maslan akan kembali ke gudang.

Di dalam gudang, pisang-pisang yang mulai berubah warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan cairan manisnya akibat pengasapan dibalik. Tujuannya agar pisang matang merata. Untuk membalik sebanyak 15 ribu pisang, Maslan hanya memerlukan waktu tak lebih dari 15 menit.

Selesai membalik, gudang kembali ditutup rapat dan baru akan dibuka lagi sekitar enam jam kemudian. Menurut H Maslan, yang tak boleh diabaikan saat proses manyalai berlangsung, adalah api yang tak boleh padam dan mengeluarkan asap jumlah banyak. Karena jika terlalu banyak asap, pisang sale atau dalam bahasa setempat rimpi, ada juga yang menyebutnya pisang salai dalam dialek lokal, yang dihasilkan tak akan nikmat dan cenderung berbau asap.

Baru setelah sekitar 48 jam atau dua hari dua malam, api dapat dipadamkan karena rimpi telah matang dan siap dipasarkan. Untuk memasarkan rimpi olahannya, Maslan mengaku tak menemui kesulitan karena telah memiliki langganan. Langganan Maslan umumnya para pedagang di sekitar Pasar Binuang yang akan menjual lagi rimpi olahannya  Ada juga pedagang dari luar kota, seperti Banjarmasin dan Samarinda yang datang langsung ke rumah Maslan.

Para pedagang biasanya membeli rimpi olahan Maslan per seribu biji dengan harga Rp 50.000. Sebagian rimpi ada juga yang ia jual sudah dengan kemasan. Satu kemasan berisi 10 – 12 biji rimpi.

“Tak kurang dari 30 tahun saya manyalai. Dari harga pisang Rp 25 per seratus biji sampai sekarang harga pisang Rp17.000 per seratusnya. Di Binuang saya termasuk generasi pertama pembuat rimpi. Beberapa warga lain kemudian mengikuti jejak saya, sebagian besar juga belajar langsung dari saya,” kata H Maslan.

Melimpahnya pisang awak sebagai bahan baku utama rimpi di tanah Binuang membuat para pembuat rimpi seperti Maslan menapaki masa kejayaan. Betapa tidak, dalam sekali manyalai, minimal 15 ribu pisang awak ia olah saban 2-3 hari sekali. Nyaris tak ada celah di atas haratai di dalam gudangnya.

Pisang awak yang masih  begitu mudah didapat dari para petani Binuang yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus membuat harga pisang murah. Harga bahan baku yang murah membuat Maslan tak sedikit meraup untung. Dari harga pisang Rp 2500 per seratusnya atau Rp 25.000 per seribu biji pisang, ia jual Rp 50.000 per seribu biji atau keuntungan 50 persen dari modal yang dikeluarkan.

Ditambah lagi, kata Maslan yang telah berhaji juga dari penghasilannya manyalai, dulu kayu bakar, yang juga menjadi komponen utama manyalai, masih mudah didapat di sekitar hutan di Binuang tanpa harus membeli. “Kalau sekarang modal bertambah untuk membeli kayu bakar sebesar Rp 150.000 per satu pick up. Satu pick up kayu karet bisa digunakan sampai 4 kali manyalai,” kata H Maslan.***


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->