HEADLINE
Puncak Kemarau di Kalsel Diprediksi Terjadi Agustus – September
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan mengingatkan bahwa seluruh wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) kini telah memasuki musim kemarau dengan intensitas hujan yang terus menurun.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sehingga seluruh pihak diminta memperkuat kesiapsiagaan.
Hal itu disampaikan Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, Klaus Johannes Apoh Damanik, saat memaparkan kondisi iklim pada rapat koordinasi kesiapsiagaan penanggulangan bencana Karhutla Provinsi Kalsel, pada Senin (6/7/2026).
Klaus menjelaskan, berdasarkan analisis BMKG, sejumlah faktor pengendali iklim seperti anomali suhu muka laut dan dinamika atmosfer menunjukkan kondisi yang mendukung terbentuknya musim kemarau di Kalimantan Selatan.
Baca juga : Menjawab Fenomena Fatherless, Wali Kota Banjarbaru Imbau Ayah Aktif dalam Pendidikan

Seluruh wilayah Kalimantan Selatan kini telah memasuki musim kemarau dengan intensitas hujan yang terus menurun. Foto: mckalsel
“Dari beberapa faktor pengendali, terutama anomali suhu muka laut dan parameter iklim lainnya, seluruh indikator sudah mengarah positif. Artinya, Kalimantan Selatan memang sudah memasuki musim kemarau,” ujarnya, dikuutp dari Media Center Kalsel.
Data pengamatan selama Juni 2026 menunjukkan tren penurunan curah hujan yang sangat signifikan. Pada akhir Juni, hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan telah mengalami curah hujan yang sangat rendah.
“Pada dasarian ketiga Juni, hampir seluruh wilayah sudah didominasi kategori curah hujan sangat rendah. Warna cokelat pada peta analisis menunjukkan hujan semakin sedikit dibandingkan awal bulan,” jelasnya.
Memasuki Juli 2026, BMKG memprediksi curah hujan hanya berkisar 10 hingga 20 milimeter dalam satu dasarian, sehingga masuk kategori hujan sangat rendah. Meski hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah, intensitasnya diperkirakan tidak signifikan.
Baca juga : Anggota DPRD Palangka Raya Mendorong Penanganan Kawasan Kumuh

Menurut BMKG puncak musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Agustus di sebagian wilayah Kalsel. Foto: mckalsel
“Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi secara akumulasi jumlahnya sangat rendah, hanya sekitar 10 sampai 20 milimeter,” katanya.
Pembaruan prediksi musim menunjukkan bahwa hingga akhir Juni seluruh wilayah Kalimantan Selatan telah memasuki musim kemarau. Bahkan, sifat musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal pada tahun-tahun sebelumnya.
“Sifat musim kemarau tahun ini berada di bawah normal. Artinya, musim kemarau diperkirakan lebih kering dibandingkan rata-rata musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Menurut BMKG puncak musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Agustus di sebagian wilayah, khususnya Kabupaten Tabalong bagian utara. Selanjutnya, pada September sekitar 96 persen wilayah Kalimantan Selatan diperkirakan telah memasuki puncak musim kemarau, dengan durasi musim kering yang dapat berlangsung hingga Oktober di beberapa daerah.
Baca juga : Musprov Luar Biasa Kormi Kalsel Digelar
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan penguatan langkah mitigasi di berbagai sektor, mulai dari ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan kehutanan, hingga antisipasi dampak kesehatan akibat cuaca panas dan potensi penurunan kualitas udara.
Potensi Hujan Semakin Berkurang Seiring Meluasnya Musim Kemarau
Berdasarkan analisis indikator iklim global terkini, kondisi El Niño di Samudra Pasifik masih terpantau bertahan. Hal ini ditunjukkan oleh indeks Niño 3.4 sebesar +1,24 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -23,3. Kondisi tersebut secara umum berkontribusi terhadap berkurangnya potensi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sejalan dengan kondisi tersebut, 48,9% wilayah Indonesia atau sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) juga menunjukkan adanya 329 titik pengamatan atau sekitar 7% wilayah pengamatan yang mengalami HTH kategori sangat panjang (31–60 hari). Selain itu, suhu udara maksimum pada periode 1–5 Juli 2026 masih tercatat lebih dari 35°C di sebagian wilayah Indonesia, antara lain di Sumatra Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sulawesi Tengah.
Meskipun musim kemarau semakin meluas dan potensi hujan cenderung berkurang, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terjadi secara lokal di beberapa wilayah Indonesia. Pada awal Juli 2026, curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Barat (156 mm/hari), Sulawesi Utara (151 mm/hari), Sumatra Utara (90 mm/hari), Kalimantan Utara (84 mm/hari), dan Maluku Utara (57 mm/hari). Hujan yang umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian utara dan sekitar ekuator tersebut dipengaruhi oleh aktivitas beberapa dinamika atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), yang secara spasial aktif di sebagian Sumatra; Gelombang Kelvin di sebagian Kalimantan dan Papua; serta Gelombang Rossby Ekuatorial di sebagian Sulawesi. Selain itu, kondisi atmosfer lokal di sejumlah wilayah masih menunjukkan labilitas yang cukup kuat sehingga mendukung proses konveksi dan pembentukan awan hujan. Oleh karena itu, meskipun tren musim kemarau semakin dominan, potensi hujan masih perlu diwaspadai di sebagian wilayah Indonesia.
Baca juga : Dua Titik Api di Banjarbaru Berhasil Dipadamkan TRC BPBD Kalsel
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Prospek cuaca Indonesia sepekan ke depan menunjukkan kecenderungan curah hujan yang relatif berkurang di sebagian besar wilayah. Pada Dasarian I Juli 2026, sekitar 72,19% wilayah Indonesia diprediksi berada pada kategori curah hujan rendah, sementara 27,80% lainnya berada pada kategori menengah, tanpa wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan tinggi maupun sangat tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa suasana kering mulai lebih dominan, terutama di sebagian besar Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Meskipun demikian, potensi hujan kategori menengah masih perlu diwaspadai di beberapa wilayah, seperti sebagian Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian utara, sebagian Maluku, serta wilayah pegunungan Papua.
Potensi hujan yang masih ada tersebut turut dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer di Indonesia. Meskipun aktif di fase 7, secara spasial MJO berpotensi berpengaruh terhadap wilayah pesisir utara Aceh. Sementara itu, Gelombang Kelvin juga diprakirakan aktif di Kep. Riau, Pesisir utara Riau, Kalimantan, Pesisir selatan Jawa, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya. Selain itu, Gelombang Rossby Ekuatorial turut berpotensi mempengaruhi kondisi atmosfer di Sumatra Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua Selatan, NTT, dan Sulawesi Tenggara, sehingga beberapa wilayah tersebut tetap berpeluang mengalami pertumbuhan awan hujan secara lokal.
Baca juga : Dua Titik Api di Banjarbaru Berhasil Dipadamkan TRC BPBD Kalsel
Tidak hanya MJO dan gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik juga diprediksi aktif di sekitar pesisir Sumatra Selatan dan pesisir barat Sumatra, yang berpotensi membentuk daerah perlambatan dan belokan angin di wilayah sekitarnya. Perlambatan, pertemuan, dan belokan angin juga diprakirakan terbentuk di Sumatra Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan pengangkatan massa udara dan mendukung pertumbuhan awan hujan, sehingga masih menyebabkan potensi hujan di sejumlah wilayah meskipun Indonesia tengah berada pada periode musim kemarau. (Kanalkalimantan.com/bie)
Reporter: bie
Editor: kk
-
Kota Banjarbaru1 hari yang laluMasuk Tahun Ajaran Baru, Wali Kota Banjarbaru Cek Kesiapan SRT 2
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluDampak Matinya Ikan Keramba di Karang Intan, Pemkab Banjar dan Relawan Bersihkan Aliran Sungai
-
Kabupaten Kapuas3 hari yang laluPeyusunan Naskah Akademik Raperda Pengendalian Minuman Beralkohol
-
Kabupaten Kapuas2 hari yang laluTim KPK Monitoring dan Evaluasi Program Cetak Sawah 2026 di Kapuas
-
Kabupaten Balangan1 hari yang laluFestival Mesiwah Pare Gumboh VIII Digelar di Desa Liyu
-
Kalimantan Selatan1 hari yang laluTRC BPBD Kalsel Tangani Tiga Titik Karhutla di Banjarbaru


