Pemilu
Prof Denny: Pemilu Indonesia ‘Gagal Ginjal’
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Prof H Denny Indrayana SH LLM PhD melayangkan kritik pedas terhadap penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) Indonesia yang dinilai ‘Gagal Ginjal’.
Pada dasarnya, Prof Denny menganggap lima tahun Pemilu layaknya seperti fungsi ginjal yakni mencuci darah kotor dan menghadirkan darah bersih.
Darah kotor yang dimaksud ialah pemimpin yang ternyata setelah dipilih tidak amanah. Lantas, Pemilu sebagai ginjal politik mencuci dan menyaring darah kotor tadi sehingga menghasilkan pemimpin yang lebih amanah, dalam hal ini disebut darah bersih.
Baca juga: Oligarki: Pemodal Koruptif ‘Kuasai’ Institusi, Sumber Daya, dan Otoritas
“Itu yang kita harapkan lebih amanah duduk sebagai gubernur, bupati, wali kota, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), presiden, wakil presiden, bahkan turunannya seperti menteri kabinet dan sebagainya,” ujar jebolan S1 Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
Sayangnya, Pemilu Indonesia justru mengalami ‘gagal ginjal’ sebab yang dilepas bukanlah politisi bersih melainkan politisi kotor yang menang berkat kecurangan politik uang.
“Ada gak yang bersih keluar, ada aja, tapi satu dua orang saja. Banyak yang sudah tersaring malah gugur,” ungkap Staf Khusus Presiden bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme 2008-2011 itu.
Semua itu tak lepas dari yang namanya duitokrasi. Duit atau uang adalah alat yang dipakai untuk memenangkan Pemilu. Apapun bisa dibeli termasuk suara agar memuluskan kemenangannya.
Baca juga: Semarak HUT ke-9 RSD Idaman: RSDI RUN, Peresmian UPD dan Kamar Rawat Inap Standar
“Substansinya sebenarnya yang terjadi adalah bukan demokrasi tapi duitokrasi,” beber peraih Australian Alumni Awards: Sustainable Economic and Social Development Kedutaan Besar Australia 2002 itu.
Seyogyanya, yang curang tidak boleh menang, akan tetapi dalam praktiknya, yang menang adalah mereka yang berduit atau punya uang.
“Duitokrasi kita memang di semua level itu merambah, tidak hanya pada sistem Pemilu, di sistem pemerintahan dan lainnya juga. Sehingga yang terjadi adalah merusakkan ekonomi,” jelas Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum itu.
Baca juga: HSU Siap Menjadi Tuan Rumah Porpov XIII Kalsel
Direktur Pusat Kajian Anti (Pukat) Korupsi ini menyatakan, Indonesia perlu ‘alat cuci darah’ yakni mesin eksternal yang menggantikan fungsi ginjal.
“Alat tersebut bisa berupa pikiran-pikiran segar atau instrumen-instrumen di luar fungsi ginjal,” pungkas Prof Denny. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
-
HEADLINE3 hari yang laluRudy Ariffin Gubernur Kalsel 2005-2010 dan 2010-2015 Wafat
-
Kabupaten Banjar2 hari yang laluLantik 23 Pembakal, Bupati Banjar Minta Pembakal Rangkul Semua Pihak
-
HEADLINE2 hari yang laluTiga Dekade Menanti Rumah Ibadah GBI Kemah Kesaksian Banjarmasin
-
HEADLINE3 hari yang laluBPBD Kalsel: 2.586 Kejadian Karhutla, Luas Terbakar 16.539,65 Hektare
-
HEADLINE13 jam yang laluPrakiraan BMKG: Cuaca Kalsel Sepekan Ada Potensi Hujan Ringan
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluPerbaiki Atap Bangunan, Seorang Pekerja di Sungai Sipai Tersetrum


