Connect with us

OPINI

Prestasi Instan dan Matinya Integritas Mahasiswa


Oleh : Alya Hasna Luthfiya, Mahasiswi Ilmu Pemerintahan, FISIP ULM


Diterbitkan

pada

Ilustrasi mahasiswa dan praktik perjokian skripsi. Foto: AI/kecerdasan buatan

Suatu sore di sebuah warung kopi di Banjarmasin, saya mendengar dua mahasiswa membahas jasa joki skripsi bukan dengan suara direndahkan, bukan dengan nada bersalah. Mereka membicarakannya seperti sedang memilih menu makan siang.

“Murah, cepat, aman,” kata salah satunya. Saya hanya diam, menatap kopi yang masih mengepul. Dan itulah tepatnya masalah kita terlalu banyak orang yang tahu ini salah, tapi memilih diam.

Angka yang Tidak Bisa Kita Abaikan

Survei Populix 2023 terhadap 2.793 mahasiswa Indonesia mengungkap 45% mengaku memanipulasi data skripsi, 26% menggunakan jasa joki, dan 24% mengambil judul skripsi orang lain.

Angka-angka itu bukan statistik abstrak  ia adalah potret nyata dari apa yang sedang tumbuh di kampus kita, termasuk di Kalimantan Selatan.

Baca juga: Bupati Kapuas Resmikan Koperasi Merah Putih Desa Palingkau Asri

Para peneliti menyebut tiga faktor penyebab tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan pembenaran (rationalization). Ketiganya hadir sempurna di kampus kita. Tekanan datang dari orangtua yang ingin anaknya cepat lulus dengan IPK tinggi.

Kesempatan muncul karena pengawasan longgar dan sanksi yang jarang ditegakkan. Lalu pembenaran “Semua orang juga melakukannya”. Dan suara itu, sayangnya, tidak sepenuhnya bohong.

Dari Kampus ke Kantor: Perjalanan yang Mulus

Koruptor besar tidak lahir tiba-tiba. Mereka tumbuh perlahan dari kebiasaan kecil yang tidak pernah kita koreksi. Di Kalimantan Selatan, sejak KPK berdiri, setidaknya dua gubernur dan empat bupati terseret kasus korupsi. Oktober 2024, KPK melakukan operasi tangkap tangan dan menetapkan tujuh tersangka termasuk pejabat tinggi Pemprov dalam kasus suap proyek senilai puluhan miliar rupiah.

Di Banjarmasin sendiri, Kejari baru-baru ini menetapkan tersangka dalam kasus korupsi pengadaan sewa server Dinas Pendidikan senilai Rp5,5 miliar. Para tersangka itu bukan orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Mereka pernah duduk di bangku kuliah yang sama dengan mahasiswa yang hari ini sedang mempertimbangkan jasa joki skripsi.

Penelitian akademik menunjukkan mahasiswa yang terbiasa curang karena tekanan akademis memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk membenarkan penyimpangan di dunia kerja.

Logikanya sederhana dan menyedihkan kalau sejak kuliah kita belajar bahwa hasil bisa dimanipulasi tanpa konsekuensi, kita akan membawa logika yang sama ke meja kerja. Hanya skalanya yang lebih besar.

Baca juga: DPC PDI P Kapuas Menggelar Pelantikan Pengurus PAC

Kita yang Menyuburkannya

Masalah ini tidak berdiri sendiri. Ada dosen yang memberi nilai tanpa sungguh-sungguh mengevaluasi. Ada institusi yang lebih peduli angka kelulusan daripada kualitas lulusan. Ada orangtua yang mendorong anaknya lulus dengan segala cara. Dan ada kita semua yang kadang tertawa mendengar cerita ‘sukses’ teman yang lulus tanpa benar-benar berjuang, tanpa merasa perlu mengingatkan bahwa ada yang salah di sana.

Mulai dari Hal yang Paling Dekat

Saya tidak punya kuasa mengubah sistem sendirian. Tapi ada hal-hal kecil yang bisa dimulai sekarang. Berani bilang tidak ketika ada teman yang mengajak menggunakan joki. Ajarkan di dalam keluarga bahwa gelar yang diraih dengan jujur meski membutuhkan waktu lebih lama  jauh lebih berharga dari ijazah yang dibeli. Dan hentikan pembenaran terhadap praktik curang dengan kalimat “sudah biasa” atau “semua orang begitu”. Karena koruptor-koruptor yang hari ini merugikan Kalimantan Selatan tidak tiba-tiba menjadi korup ketika memegang jabatan. Mereka belajar, sedikit demi sedikit, bahwa sistem bisa diakali.

Baca juga: Wasaka Engineering Collective Hidupkan Ruang Kritis Anak Teknik

Dan pelajaran itu sering dimulai jauh lebih awal dari yang kita bayangkan mungkin di sebuah warung kopi, dalam percakapan yang kita pilih untuk tidak dengar.

Prestasi yang dibangun di atas ketidakjujuran bukan prestasi itu hanya penundaan dari sebuah kehancuran. Dan kehancuran itu tidak hanya menimpa si pelaku. Ia menimpa kita semua.

Ditulis berdasarkan keprihatinan seorang warga Banjarmasin. (*)

Editor: kk

 


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca