Connect with us

HEADLINE

Predator Anak Itu Beri Les Privat Sampai Menginap di Rumah Dinas

Kh Sempat Nikahi Perempuan, Terlihat Memang Suka Anak-anak

Bagikan berita ini!
  • 7
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

Diterbitkan

pada

Kh, guru pemangsa anak laki-laki di SDN Cempaka, setelah ditangkap. Foto : devi

BANJARBARU, ‘Pemangsa’ anak lelaki Kh (35) rupanya sudah 10 tahun bekerja sebagai tenaga pendidik di SDN Cempaka, Kota Banjarbaru. Diduga sekitar 20 anak menjadi korban Kh dalam rentang waktu itu, tak hanya mencabuli siswa didik di saat jam pelajaran saja, kala les privat di rumah dinas SDN Cempaka itu, Kh juga melakukan aksi tak senonoh kepada siswa-siswanya.

Dari informasi yang dihimpun Kanal Kalimantan, pribadi Kh sangat baik dan ramah. Bahkan di kalangan anak murid Kh selalu menjadi guru yang dicintai. Demi memberikan pendidikan yang maksimal Kh pun bersedia mengadakan les di rumah dinas yang berada tak jauh dari sekolah tersebut. Jarak rumah dinas dengan sekolah kurang lebih berjarak 100-200 meter. Di rumah dinas yang sudah di tempati selama 10 tahun tersebut Kh mengadakan les, bahkan Kh tidak keberatan jika ada siswa-siswanya yang menginap di rumah. Tapi ternyata itu hanya modus belaka, di rumah dinas itu lah Kh diduga ‘mempreteli’ anak didiknya sendiri.

Di sekitar rumah dinas tersebut ada tempat bermain, seperti ayunan yang terpasang di pohon ketapang, hewan peliharaan dalam kandang, dan beberapa ekor ayam kampung yang bebas berkeliaran di rumah asri tersebut.

Seorang tetangga sebut saja Aminah mengatakan, kalau guru Kh itu memang mengadakan les di rumah sejak sore hingga malam jadwalnya pun tidak tentu.

“Sesuai dengan kesepakatan mereka saja kapan mau les, mau nginap di sana (rumah dinas Kh) juga gak apa-apa, dia memang senang sama anak-anak,” ujar Aminah.

Memang Kh sempat menikahi seorang perempuan, tapi biduk rumah tangga tak bertahan lama. Entah memang tak suka sama lawan jenis, perkawinannya dengan serorang perempuan kandas tak sampai setengah tahun. Pasca bercerai dengan istri itu, ia tinggal bersama keponakan yang kebetulan kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Banjarbaru. Sepengatahuan keponakan Kh sendiri, guru ‘pemangsa’ itu memang lebih sering menghabiskan waktunya bersama anak-anak.

“Saya gak tau terlalu banyak sama beliau, karena pagi saya kuliah sampai sore. Malamnya istirahat di kamar. Kalo ngomong ya seperlunya saja,” ujar keponakan Kh.

Sejak korban melaporkan Kh ke Polres Banjarbaru, Kh sempat menghilang tanpa jejak. Bahkan sang keponakan kelimpungan mencari pamannya tersebut. Sejak 18 April 2018 Kh dilaporkan ke Ketua RT karena sudah menghilang selama tiga hari.

“Keponakannya waktu itu melapor kalo Kh tidak ada kabar, ditanya keluarga juga nihil apalagi telepon,” ujar Ketua RT 01 Kasnari.

Sejak dilaporkan ke Polres Banjarbaru pada 18 April 2018, Kh mangkir dari tugas mengajarnya di sekolah dasar tersebut. Bahkan sepekan sebelum adanya laporan, Kh sudah tidak hadir untuk mengajar tanpa alasan jelas.

Pihak sekolah, baik kepala sekolah hingga staf guru tidak ada yang berani berkomentar apapun. Jelas sekali pihak sekolah menutup-nutupi aib sekolah itu, bagi mereka isu sensitif pencabulan siswa didik di SDN mereka tidak boleh disebarluaskan. Jika didengar oleh pihak luar kasus ini pun dianggap telah mencoreng nama baik sekolah tersebut. Tak ada satu pun komentar pihak sekolah soal berapa siswa didik yang menjadi korban Kh.

“Kami serahkan semua kepada kepala dinas dan kepolisian saja. Maaf gak bisa kasih komentar apapun,” ujar Warti, salah satu staf sekolah tersebut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Kh, diakui Kh perbuatan asusila dilakukannya lebih dari 20 kali merupakan murid dari Kh sendiri. Kejadian asusila berlangsung di SDN Cempaka di ruang kelas, saat jam pelajaran dan juga ruang hasta karya. Sedang kejadian di rumah dinas Kh terjadi saat para korban mengikuti les dan saat korban menginap.

Dari hasil pemeriksaan korban, diketahui korban tidak melakukan perlawanan dan tidak berani bercerita kepada guru ataupun orang tua karena takut mendapat nilai jelek dan takut tidak lulus sekolah. (devi)

Reporter: Devi
Editor: Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  • 7
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares
-->