Connect with us

VOA

Plastik Ditemukan Dalam Perut Hewan di Palung Laut Terdalam

Diterbitkan

pada

Sampah plastik di teluk Lampung, Desa Sukaraja, kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung, 21 Februari 2019. Foto : afp/ap
Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Hewan-hewan laut yang hidup di palung terdalam Samudra ditemukan dengan serpihan plastik di dalam perut, menurut penelitian baru yang dirilis, Rabu (27/2), kantor berita AFP melaporkan. Hal itu sekaligus menunjukkan polusi buatan manusia sudah mencemari bagian terdalam dari planet ini.

Lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun dan setidaknya ada lima triliun potongan plastik yang mengambang di lautan kita.

Karena eksplorasi laut dalam itu mahal dan memakan waktu, sebagian besar studi tentang polusi plastik hingga sekarang hanya sampai pada bagian permukaan saja. Hasil studi menunjukkan tingkat kontaminasi plastik yang meluas pada ikan, kura-kura, paus dan burung-burung laut.

Kini tim peneliti Inggris mengatakan bahwa mereka telah menemukan kasus penemuan plastik dalam pencernaan udang kecil di enam palung laut terdalam di dunia.

Di Palung Mariana di timur Filipina, daerah terdalam dari bumi, 100 persen hewan yang diteliti memiliki serat plastik di dalam saluran pencernaan mereka.

“Sebagian diri saya berharap menemukan sesuatu, tetapi ini penemuan besar,” kata Alan Jamieson dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan di Universitas Newcastle.

Jamieson dan timnya biasanya menghabiskan waktu untuk mencari spesies baru di kedalaman lautan.

Tetapi mereka menyadari bahwa selama ekspedisi yang berlangsung sejak satu dekade yang lalu, mereka telah mengumpulkan puluhan spesimen spesies udang kecil yang hidup di antara 6.000 – 11.000 meter di bawah permukaan laut.

Aktivis Greenpeace mengacungkan huruf-huruf raksasa yang membentuk kata ‘Stop Plastik’ untuk memprotes sampah plastik di Heroes Square, Budapest, 30 September 2018.
Foto : afp/ap

Mereka memutuskan untuk mencari plastik.

“Kami berada di dataset terdalam di dunia, jadi jika kami menemukan (plastik) disini, kami selesai,” kata Jamieson kepada AFP.

Luasnya dampak kontaminasi plastik hingga kedalaman laut ekstrem membuat tim keheranan.

Misalnya, Palung Peru-Chili di Pasifik tenggara yang berjarak sekitar 15.000 kilometer dari Palung Jepang. Tapi tetap saja plastik ditemukan di kedua palung ini.

“Itu ada di Jepang, di New Zealand, di Peru, dan masing-masing palung sangatlah dalam,” kata Jamieson.

“Poin pentingnya adalah bahwa mereka secara konsisten ditemukan pada hewan di sekitar pasifik pada kedalaman yang luar biasa, jadi jangan lagi buang waktu. Plastik itu ada dimana-mana.”

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Bagikan berita ini!
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares
-->