Connect with us

HEADLINE

Pesta Adipura dan Kisah Para Tukang Sapu yang Terlewatkan…

Diterbitkan

pada

Penghargaan Adipura yang diterima pemerintah Kabupaten Banjar Foto: rendy

Siapa yang membangun tujuh gerbang Thebes
Di buku-buku kalian akan menemukan nama raja-raja
Namun apakah raja-raja yang mengangkut batu berbongkah-bongkah
….
Kemanakah, di malam setelah Tembok Besar China selesai berdiri,
Kemanakah para tukang batu pergi?

Beberapa waktu lalu, dan setiap tahun, kita menyaksikan suguhan reportoar yang digelar oleh pemerintah kabupaten/kota. Saat di jalanan, masyarakat disuguhkan sebuah ‘pesta’ kemenangan atas penghargaan dari pemerintah pusat yang bernama Adipura!

Konvoi di jalanan menggunakan mobil, atau penyambutan gegap gempita dengan berbagai aksi budaya, menghantarkan piala sakral ikon kebersihan lingkungan itu, menuju pajangan di kantor walikota maupun bupati. Ya, ada sebuah kebanggaan tersendiri jika sebuah daerah mendapatkan piala tersebut. Meskipun sudah berkali-kali.

Senin (14/1) lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memberikan anugerah Adipura periode 2017-2018 kepada 146 penerima penghargaan. Yang dibagi 5 kategori yakni satu penghargaan Adipura Kencana, 119 Adipura, 10 Sertifikat Adipura, 5 Plakat Adipura, serta Penghargaan Kinerja Pengurangan Sampah kepada 11 kabupaten/kota.

Penghargaan bertaraf nasional ini tentunya menjadi dambaan bagi seluruh pemerintah kota di Indonesia. Bila berhasil mendapatkannya, tentu bisa diklaim sebagai bentuk keberhasilan, prestasi, serta bukti kesungguhan pemerintah khususnya berkaitan dengan program dan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Dari 13 ibu kota kabupaten/kota di Kalimantan Selatan yang mendapat penilaian, 10 di antaranya berhak mendapat penghargaan Adipura. Dari 10 itu, delapan mendapat piala Adipura, yakni Banjarmasin (Kota Banjarmasin), Banjarbaru (Kota Banjarbaru), Martapura (Kabupaten Banjar), Rantau (Kabupaten Tapin), Marabahan (Kabupaten Baritokuala), Barabai (Kabupaten Hulu Sungai Tengah), Pelaihari (Kabupaten Tanahlaut), Batulicin (Kabupaten Tanahbumbu).

Sementara dua kota lagi mendapat sertifikat Adipura, adalah Paringin (Kabupaten Balangan), Amuntai (Kabupaten Hulu Sungai Utara).

Titik berat penilaian Adipura adalah kebersihan dan berbagai elemen di dalamnya. Kota yang dinilai kemudian diganjar Adipura, berarti memiliki tingkat kebersihan yang baik. Anugerah Adipura ini tak semata kebanggaan bagi masyarakat di daerah bersangkutan. Bagi pemerintah daerahnya pun merupakan sebuah prestasi sekaligus prestise. Karena artinya mereka mampu memanajemen lingkungan di wilayahnya.

Namun sayangnya, Adipura yang sejatinya bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat agar memiliki budaya bersih dinilai belum maksimal. Pasalnya, program tersebut masih sebatas untuk meraih penghargaan ketimbang tujuan utamanya. Hal itu ditegaskan akademisi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Mukhtar Effendi MS.

Menurut Mukhtar, seperti dilansir Antaranews.com, program Adipura belum mencapai tujuan maksimal. Padahal, lanjut dosen Fakultas Kehutanan Unlam itu, tujuan akhir dari program Adipura untuk mengubah perilaku masyarakat agar memiliki budaya bersih dan melaksanakan sebaik-baiknya.

Persoalan tersebut, kata Mukhtar yang juga Tim Pemantau (Penilai) Adipura itu, perlu menjadi renungan bersama, dan mengupayakan bagaimana cara agar program Adipura dapat membentuk sikap masyarakat supaya berbudaya bersih.

“Apalagi Islam menyatakan, kebersihan sebagian dari iman. Sementara penduduk Kalsel khususnya mayoritas Muslim, jadi sampai sejauh mana kepatuhan terhadap agama yang dia peluk dan yakini,” ujarnya.

Di sisi lain, keberhasilan meraih Adipura juga kerap dijadikan momentum untuk memanen sorotan media. Tidak heran, hadirnya trofi Adipura juga kerap dirayakan dengan cara-cara yang “unik” oleh para pejabat di daerah. Sejenak, mereka menghadirkan sebuah ‘pesta’ bagi para tukang sapu jalanan dengan aksi-aksi populis.

Namun selepas pesta selesai, para tukang sapu dan kebersihan kota itu pun seperti kembali menjalani kehidupannya yang sunyi. Jauh, harapan mereka akan sebuah perhatian lebih tulus dari pemerintah dapat direalisasi.

Lantas, apa harapan besar dari para pasukan kuning—istilah untuk menyebut tukang sapu jalanan di Kalsel, pasca pesta Adipura?

Santi petugas pasukan kuning honorer didampingi teman-temannya menceritakan pengalaman mereka selama menjadi pasukan kuning. Kepada kanalkalimantan.com, ia dan teman-temannya berharap ada bonus yang bisa diterima sebagai tanda terimakasih kepada mereka. Sebab jasa besar atas Adipura tak lepas dari cerita kecil tentang genggaman sapu dan cikrak yang mereka gunakan sebagai sarana kerja setiap hari.

“Dari tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Banjar berturut-turut mendapatkan piala Adipura hingga sekarang. Semua itu atas kerjakeras kami, sejak itu hingga sekarang kami mendapatkan bonus hanya sekali Rp 25 ribu per orang selama kepemimpinan mantan Bupati Banjar Khairul Saleh,” akunya.

Selain itu, kenaikan gajih menjadi harapan utama yang mereka inginkan. Harapannya bisa terwujud di tahun ini. Menurut Santi, gaji yang mereka terima hingga sekarang 2019 sebagai Pasukan Kuning PNS sebesar Rp 2.191.000. Sementara untuk pasukan kuning honorer di atas masa kerja lima tahun mendapat gajih Rp 1.500.000 dan untuk honorer di bawah masa kerja 5 tahun mendapat gajih Rp 1.300.000.

“Tentunya kami mempunyai harapan besar ditahun 2019 ini, pasukan kuning honorer juga mendapatkan gaji yang layak setidaknya bisa UMR,” harapnya.

Tak hanya itu, mereka juga berharap dapat jadwal libur walaupun tanggal merah dan hari-hari besar. “Kami juga menginginkan sistem libur, kami juga butuh berkumpul bersama keluarga dan represing sekali-sekali. Walapun kerja kami di lapangan dari pukul 06.00 Wita hingga 11.00 wita,” katanya.

Ditambahkan Santi, pemerintah juga kurang memfasilitasi sarana prasarana yang diperlukan untuk bekerja seperti sapu taman. Dibeberkannya, mereka hanya mempunyai jatah satu sapu untuk setiap bulannya, sapu taman tersebut hanya bisa bertahan selama satu minggu dan rusak. Padahal setidaknya membutuhkan hingga empat sapu taman disetiap bulannya.

Sementara untuk menutupi tiga sapu taman yang tidak difasilitasi oleh pemerintah, pihaknya harus membeli dengan mengojek dari kantong sendiri. Bisa dibayangkan jika harga satu sapu taman seharga Rp 10 ribu, artinya pasukan kuning harus mengocek Rp 30 ribu setiap bulannya.

“Sapu taman itu mudah rusak, satu bulan kami hanya mendapatkan satu sapu saja, seminggu pemakaian pasti sudah rusak, idealnya dalam satu bulan kami membutuhkan empat sapu, jadi sisanya ya terpaksa kami membeli sendiri,” aku Santi.

Menanggapi keluhan itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banjar Boyke Tristianto mengatakan, hingga saat ini jumlah pasukan kuning yang dimiliki DLH berjumlah 450 orang termasuk pasukan kuning kontrak dan PNS.

Boyke menilai, pendapatan pasukan kuning untuk Kabupaten Banjar sudah sewajarnya. Mengingat dinilai lebih tinggi dari pendapatan pasukan kuning yang berada diwilayah kabupaten/kota yang lain di Kalimantan Selatan.

Maka ketika mereka menuntut kenaikan gaji, Boyke mengatakan sekarang kondisi keuangan daerah masih tidak memungkinkan. Diluar itu, pasukan kuning banjar juga dijamin oleh asuransi BPJS kesehatan dan BPJS Ketenaga kerjaan. “Untuk pendapatan pasukan kuning di Kabupaten Banjar ini sejak 3 tahun yang lalu sudah diatas kabupaten/kota yang lain, sementara apa bila ditanya mengenai kenaikan gaji sepertinya itu agak susah diwujudkan mengingat anggaran pemerintah daerah yang terbatas,” jelasnya.

Sementara itu, bonus yang diidam-idamkan pasukan kuning pemerintah Kabupaten Banjar yang turut ambil bagian dalam mendapatkan Piala Adipura, menurut Boyke akan disisipkan dalam gaji ke 13 yang diterima mereka setahun sekali. “Bonus akan ada pada gaji ke-13, nanti mungkin pada saatnya akan kita berikan,” singkatnya.

Setidaknya, perhatian pemerintah akan jasa tukang sapu jalanan ini menjadi sebuah catatan. Sebab ada jasa mereka di tengah kilau piala yang digenggam oleh pejabat pemerintah. Seperti yang tertuang juga dalam sajak yang ditulis Bertolt Brecht seorang penyair Jerman kelahiran 19 Februari 1898 silam dalam puisinya yang berjudul “Suatu Pertanyaan dari Buruh yang Membaca.”

Karena ada tangan tukang-tukang batu yang membangun tujuh gerbang Thebes dan juga tembok China… (rendy)

Bagikan berita ini!
  • 9
    Shares