HEADLINE
“Meracik Masa Depan Banua” dari Hilirisasi Perkebunan Kopi di Tanah Banjar
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Jejak sejarah kopi di Tanah Banjar, lebih tepatnya Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki perjalanan waktu yang panjang dan unik. Berbeda dengan sentra kopi besar di Pulau Sumatra atau Pulau Jawa yang sejak awal dikembangkan secara besar-besaran sebagai komoditas ekspor kolonial, kopi di Tanah Banjar sebagian besar tumbuh dan berakar dari tradisi perkebunan rakyat, pengaruh jalur perdagangan kolonial, hingga gelombang transmigrasi.
Kalimantan Selatan (Kalsel) selama puluhan tahun dikenal sebagai wilayah yang sangat bergantung pada sektor ekstraktif pertambangan dan kelapa sawit. Namun, di tengah komitmen global terhadap transisi ekonomi hijau, arah pembangunan mulai bergeser ke sektor bernilai tambah tinggi. Sektor perkebunan rakyat, khususnya komoditas kopi, kini menjadi primadona baru melalui strategi hilirisasi.
Sebuah terobosan kebijakan seperti program BANGKODIN (Pengembangan Kopi Diversifikasi Terintegrasi) oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalsel, bersiap mengubah status dari sekadar penyuplai bahan mentah menjadi produsen produk industri kopi olahan berdaya saing global.
Baca juga : 22 Jembatan Merah Putih Presisi di Kalsel Rampung Dibangun
Guna menakar potensi hulu perkebunan kopi Kalsel perlu dilihat data statistik melalui infografis di bawah ini:

Berdasarkan data statistik perkebunan, luasan areal tanaman kopi rakyat di Kalsel tercatat berada di kisaran 2.231 hingga 2.928 hektare dengan tingkat produksi biji kering mencapai 884 hingga 1.204 ton per tahun.
Meskipun angka ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan provinsi raksasa kopi di Pulau Sumatra atau Puau Jawa, kopi Tanah Banjar memiliki keunggulan komparatif yang unik. Keragaman agroekosistem lahan basah, dataran tinggi, hingga tipologi lahan gambut dan rawa.
Baca juga : Jelang HUT Ke-81 RI, Gotong Royong Bersihkan Kawasan Stadion Panunjung Tarung
Sebaran Sentra Utama Kopi di Kalsel:
- Kabupaten Banjar: wilayah dengan sebaran terluas mencapai 678 hektare.
- Kabupaten Balangan: memiliki luas area tanam sekitar 526 hektare.
- Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) 319 hektare.
- Kabupaten Tabalong 277 hektare.
- Kabupaten Tapin dan Barito Kuala: Menjadi wilayah pengembangan potensial, termasuk proyek percontohan budidaya Kopi Liberika yang adaptif di kawasan lahan gambut dan rawa.
Hilirisasi Jadi Senjata Kalsel Keluar dari Jebakan “Ekonomi Ekstraktif Mentah”
Selama bertahun-tahun, pola dagang komoditas perkebunan di Kalimantan kerap terjebak pada skema lama. Dimana petani menjual biji kopi mentah -green bean atau bahkan buah ceri kopi asalan- dengan harga murah ke luar daerah. Nilai tambah ekonomi, mulai dari proses roasting (penyangraian), grinding (penghalusan), hingga pengemasan produk komersial, dinikmati oleh industri di luar pulau.

Baca juga : Komisi IV DPRD Kapuas Konsultasi ke Palangka Raya dan Katingan
Hilirisasi hadir untuk memutus rantai pasok yang tidak adil ini. Dengan mengolah komoditas hulu menjadi produk hilir siap konsumsi atau produk turunan bernilai tinggi, terjadi peningkatan marjin keuntungan yang signifikan bagi petani lokal.
Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, menegaskan bahwa model agribisnis kopi harus diintegrasikan dari hulu hingga hilir. Pendekatan ini tidak sekadar berorientasi pada peningkatan tonase panen, melainkan penguatan kelembagaan pekebun, korporasi petani berbasis kawasan, serta diversifikasi produk.
Disbunnak Kalsel dengan strategi BANGKODIN menjadi katalisator industri kopi lokal. Program Pengembangan Kopi Diversifikasi Terintegrasi dirancang sebagai instrumen utama pemulihan dan penguatan ekonomi pertanian Kalsel. Program ini menyasar beberapa pilar penting di antaranya:
Baca juga : Dandim 1001 – Sekda HSU Podcast Bahas Pembangunan Daerah
Pendekatan Korporasi Petani:
Mengubah pola pikir petani tradisional menjadi petani modern yang berkelompok dalam kelembagaan kuat, sehingga memiliki posisi tawar (bargaining power) dalam penentuan harga jual.
Diversifikasi Produk Olahan:
Tidak hanya berfokus pada kopi bubuk hitam konvensional, hilirisasi di Kalsel mulai merambah ke segmen specialty coffee, produk drip bag, hingga kolaborasi dengan industri pariwisata lokal (kedai kopi/café modern yang menjamur di Banjarmasin, Banjarbaru, dan sekitarnya).
Restorasi Lahan Melalui Kopi Liberika:
Di Kabupaten Barito Kuala dan wilayah rawa lainnya, penanaman Kopi Liberika menjadi solusi ganda (win-win solution): selain bernilai ekonomis tinggi (produktivitas buah mencapai 15–20 kg per pohon dengan panen berkala), komoditas ini juga berfungsi sebagai bagian dari restorasi ekosistem lahan gambut.
Baca juga : Komisi I DPRD Kapuas Konsultasi Soal Perpanjangan Kontrak PPPK Paruh Waktu
Kendati memiliki prospek yang cerah seiring meningkatnya konsumsi kopi domestik dan tren gaya hidup ngopi masyarakat, perjalanan hilirisasi kopi di Kalsel masih dihadapkan pada sejumlah tantangan klasik. Produktivitas per hektare rata-rata kopi rakyat di Kalsel masih berada di angka 592 kg/hektare, sedikit di bawah rata-rata nasional. Hal ini memerlukan intervensi teknologi pemupukan dan peremajaan tanaman (rejuvenation).
Tatanan Standardisasi Mutu dan Alat Pengolahan:
Belum semua kelompok tani memiliki akses terhadap mesin pengolahan pascapanen yang memadai (seperti mesin pulper, alat pengering higienis, dan mesin sangrai berstandar industri).
Alasan klasik lainnya adalah akses pembiayaan dan pasar luas. Integrasi dengan program hilirisasi nasional serta korporasi pembiayaan perbankan mutlak diperlukan agar skala industri hilir lokal mampu menembus pasar ekspor global (mendukung Gerakan Tiga Kali Ekspor / Gratieks).
Pertanyaannya siapakah atau adakah pelaku usaha dan petani Kalsel yang mampu menjawab model agribisnis kopi terintegrasi dari hulu hingga hilir ?

Baca juga : Penilaian Kinerja P3S Menyasar Tujuh Desa di Kapuas
Kanalkalimantan berkesempatan mengenal Muhammad Khalid Abdullah, lelaki kelahiran Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) awalnya datang untuk menjadi kontributor jurnalis kanalkalimantan di wilayah tempat tinggalnya Tabalong.
Sejak tahun 2019 dan masa pandemi Khalid mulai berjualan Herbal Kopi Bajakah dengan nama merk Herborneo. Beranjak dari situ Khalid melihat potensi lebih besar dengan memadukan nilai magis herbal Borneo dengan kopi yang dihasilkan oleh petani dari Pegunungan Meratus.
“Beranjak dari ketertarikan tersebut menjadi nilai penting Herboneo bertumbuh hingga hari ini. Herboneo tidak ingin hanya membeli kopi, lalu menjualnya kembali. Seiring waktu bersama petani kopi saya mulai melihat, persoalan yang dihadapi petani. Kualitas hasil biji kopi belum seragam, pasca panen belum optimal, akses pasar terbatas, dan posisi tawar petani sering kali lemah karena ketergantungan pada tengkulak,” ungkap lelaki berusia 37 tahun ini.
Baca juga : TMMD ke-129 di Tamban Catur Sukses, Anggota DPRD Kapuas: Rawat Hasilnya, Jaga Semangat Gotong Royong
Hal tersebut menjadi momentum bagi Khalid mengubah arah usaha. Kini melalui PT Herbo Mandiri Group berkembang tidak sekadar menjual produk tetapi turut membangun ekosistem. Bagaimana petani mendapatkan harga yang lebih baik, bagaimana kualitas kopi ditingkatkan, bagaimana kopi Kalimantan memiliki identitas, dan bagaimana produk tersebut bisa sampai ke konsumen dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Hari ini Herborneo tidak hanya bergerak sebagai pengolah kopi dan herbal, tetapi juga mulai berperan dalam edukasi, pendampingan dan pembinaan kelompok tani kopi,” kilah founder Herborneo melalui usahanya berhasil mendapatkan Award tahun 2024 predikat Gold di kancah nasional pada acara CFCD Foundation dalam program pembinaan UMKM Unggulan Binaan United Tractors Site Tanjung.
Demi menjaga rantai pasokan ayah 3 anak ini terus berusaha menjadi sahabat petani kopi. “Kami terus mendorong petani agar tidak berhenti pada proses menghasilkan buah kopi saja. Karena nilai kopi sangat ditentukan sejak kebun hingga pascapanen. Untuk mendukung proses tersebut, Herborneo banyak bersosialisasi dan memberikan pembinaan kepada para petani, juga memberikan pelatihan kepada barista atau para pelaku usaha di bidang kopi,” beber Khalid.
Baca juga : TMMD ke-129 Kodim 1011/Kapuas di Bandar Raya Berakhir
“Tujuan kami sederhana, petani tidak lagi hanya berpikir yang penting kopi saya laku, tetapi mulai berpikir, bagaimana kopi saya berkualitas sehingga memiliki harga yang lebih baik,” sambung Khalid bercita-cita tinggi.
Jenis yang paling dominan untuk bahan baku Herborneo saat ini adalah Robusta, khususnya dari kawasan Pegunungan Meratus. Produk Herborneo tersedia dalam beberapa ukuran kemasan, antara lain 100 gram dan 150 gram, dengan harga yang menyesuaikan jenis produknya. Profil KKI juga mencatat berbagai produk Herborneo dalam ukuran tersebut. “Yang terpenting bagi kami adalah setiap kilogram kopi harus menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui proses hilirisasi,” tegasnya.
Bagi Khalid, perjalanan Herborneo bukan sekadar perjalanan dari herbal menuju kopi. Ini tentang perjalanan untuk menemukan bahwa di balik secangkir kopi ada petani, ada keluarga, ada kebun, ada budaya dan ada masa depan ekonomi masyarakat.
Tantangan terbesar kopi Kalimantan bukan karena tidak mempunyai kopi yang bagus. Kalimantan memiliki alam, varietas, petani dan kekayaan budaya yang luar biasa. Untuk itu harus diupayakan bagaimana semua potensi tersebut dihubungkan dengan kualitas, teknologi, pasar dan keberanian untuk melakukan hilirisasi.
Baca juga : 76 Tahun Kabupaten Banjar, Bupati dan Jajaran Ziarah ke Makam Datu Kelampayan
“Karena itu, cita-cita saya bukan hanya membuat Herborneo menjadi merek kopi yang dikenal. Saya ingin Herborneo menjadi bagian dari gerakan yang membuat kopi Kalimantan naik kelas,” jelasnya.
Petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi mitra yang memiliki posisi tawar. Kopi tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah. Dan masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari rantai ekonomi kopi.
“Dari kebun Meratus menuju pasar Indonesia, dari petani menuju hilirisasi, dari kopi lokal menuju kebanggaan Kalimantan,” pungkas pelaku UMKM peraih bantuan fasilitas permodalan, pemasaran, dan mesin produksi kopi dari Bank Indonesia KPW Kalimantan Selatan.
Baca juga : Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalsel “Tugul Maharagu, Bagawi Laju, Banua Maju
Tentu masih banyak Khalid-Kalid lain di Banua, masih banyak pelaku UMKM yang menjaga ekosistem produksi produk mereka. Sudah semestinya pemerintah, BUMN, swasta membantu tumbuh kembang UMKM banua seperti yang dilakukan Bank Indonesia.
Peran pemerintah sangat diharapkan pada kemudahan pengurusan legalitas semisal, uji standardisasi, izin edar, pengujian produk, desain kemasan, informasi label, sertifikasi BPOM, dan infrastruktur yang memadai untuk memudahkan pengangkutan hasil kebun petani. Pemerintah dapat menjadi jembatan antara petani, UMKM, hotel, restoran, retail, industri, eksportir dan pembeli besar dan yang utama ada sistem informasi harga yang transparan.
Hilirisasi perkebunan kopi di Kalimantan Selatan bukan sekadar alternatif diversifikasi ekonomi, melainkan sebuah keharusan strategis (strategic imperative). Dengan memadukan potensi lahan spesifik seperti Liberika rawa gambut serta dukungan kebijakan terpadu lewat program pemerintah, BUMN dan swasta, Kalsel berpeluang besar mentransformasi sektor perkebunan rakyat menjadi industri modern yang tangguh, menyejahterakan petani, dan mengangkat harkat produk lokal Banua ke kancah nasional hingga internasional. (Kanalkalimantan.com/desy)
Reporter: desy
Editor: bie
-
Kalimantan Selatan2 hari yang laluHari Jadi ke-76 Provinsi Kalsel “Tugul Maharagu, Bagawi Laju, Banua Maju
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluKH Hasanuddin Pimpin Salat Hajat Peringatan Hari Jadi Ke-76 Kabupaten Banjar
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara3 hari yang laluSinergi Pemkab HSU – Aisyiyah Jalankan Strategi Pencegahan Perkawinan Anak
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluHari Jadi Ke-76 Kabupaten Banjar, DPRD Banjar Gelar Rapat Paripurna
-
DPRD KAPUAS3 hari yang laluKomisi IV DPRD Kapuas Konsultasi Mekanisme Pembahasan APBD Perubahan
-
DPRD Kapuas3 hari yang laluLegislator DPRD Kapuas Berharap Mahasiswa KKN Bantu Penyelesaian Persoalan Sosial Masyarakat





