Kintung, Lamut, dan Rudat Kesenian Banjar di Ujung Kepunahan - Kanal Kalimantan
Connect with us

Budaya

Kintung, Lamut, dan Rudat Kesenian Banjar di Ujung Kepunahan

Diterbitkan

pada

Musik kintung, rudat dan lamut Foto : rendy

MARTAPURA, Beragam seni dan budaya berbeda di setiap daerah, menjadi keunikan tersendiri bagi sebuah daerah. Mulai dari permainan dan tarian tradisional sampai adat dari setiap provinsi di Indonesia memiliki keunikan masing-masing.

Tak terkecuali di Kalsel, ternyata banyak sekali kebudayaan yang dimiliki dan diwariskan turun temurun oleh para terdahulunya ke anak dan cucu mereka. Seperti kain sasirangan, permainan balogo, tari baksa kembang, wayang orang, seni mamanda, dan lain sebagainya.

Namun dibalik semua itu tahukah anda, di era milenial serba canggih ada beberapa kesenian yang sudah diujung kepunahan dan dilupakan generasi zaman sekarang.

Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, Yuana Karta Abidin, tak dipungkiri di era modern seperti sekarang ini ada beberapa kebudayaan yang hampir punah dan tergerus zaman, mengapa terjadi demikian? alasannya klasik, karena tidak ada pelaku penerus dari kesenian kebudayaan tersebut.

“Ada tiga kebudayaan yang hampir punah dan tergerus zaman di Kabupaten Banjar, seperti balamut, musik kintung, dan rudat,” akunya.

Lebih jauh Yuana menjelaskan, lamut merupakan sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya Banjar.

Balamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau Cianjuran. Bedanya, wayang atau Cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah,” jelasnya.

Mereka yang baru melihat seni lamut selalu mengira kesenian ini mendapat pengaruh dari Timur Tengah. Pada masa Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama seni tutur Banjar yang lain, seperti DundamMadihin, Bakesah, dan Bapantun.

Pertunkan lamut biasanya pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh tiba. Pembawa cerita dalam lamut ini diberi julukan Palamutan. Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang diletakkan dipangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah), dikelilingi pendengar yang terdiri dari tua-muda laki-perempuan. Khusus untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah.

Musik kintung, merupakan salah satu kesenian musik tradisional dari Suku BanjarKalimantan Selatan. Musik ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar, yaitu di desa Sungai AlatAstambul dan BincauMartapura.

Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.

“Bahan untuk membuat alat musik kintung ini adalah terbuat dari bambu. Bentuknya seperti angklung dari Jawa Barat. Untuk mengatur bunyi tergantung pada rautan bagian atasnya hingga melebihi dari seperdua lingkaran bambu. Rautan itu makin ke atas semakin mengecil sebagai pegangannya. Sedang bagian bawahnya tetap seperti biasa. Panjangnya biasanya dua ruas, dan buku yang ada di bagian tengahnya (dalam) dibuang agar menghasilkan bunyi,” jelas Yuana.

Pengaturan bunyi biasanya tergantung pada rautan bagian atasnya. Semakin dibuang atasnya itu akan menimbulkan nada yang lebih tinggi.

Biasanya bambu yang digunakan untuk membuat alat musik ini tidak sembarang bambu artinya harus dipilih secara cermat, terutama yang dapat mengeluarkan bunyi yang bagus dan juga tidak mudah pecah. Musik Kintung termasuk alat musik pentatonis, boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi. Karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar. Alat musik Kintung ini berjumlah 7 buah dan masing-masing mempunyai nama, yaitu : hintalu randahhintalu tinggitinti pajaktinti gorokpindua randahpindua tinggi dan gorok tuha.

Kesenian Rudat, merupakan perpaduan seni tari dan seni suara yang biasa ditampilkan dalam acara arak-arakkan di Kabupaten Banjar. Sambil menari biasanya rombongan rudat melantunkan syair-syair pujian atas Nabi Muhammad SAW yang diiringi tabuhan rebana.
Budaya rudat sebagai salah satu budaya asli masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Kabupaten Banjar sampai saat ini masih eksis. Kabupaten Banjar salah satu daerah yang tetap mempertahankan kesenian tradisional ini.

Lalu, apa upaya yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar agar tiga kesenian tersebut tetap terjaga, Yuana mengatakan, adapun upaya yang dilakukan supaya tetap terjaga di tengah kemajuan zaman diantaranya melalui workshop dan mulai ditampilkan dalam setiap acara-acara besar di Kabupaten Banjar.

“Salah satunya dengan ditampilkan setiap workshop dan acara besar, seperti rudat yang sekarang kita tampilkan rutin, beberapa kali dalam satu tahunnya, selain itu peran dari masyarakat khususnya Kabupaten Banjar juga diharap berperan aktip dalam melestarikan kebudayaan khas Banjar, terutama pada saat acara-acara kawinan maupun sunatan,” ujarnya. (rendy)

Reporter: Rendy
Editor: Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
Advertisement

Headline

Trending Selama Sepekan