Connect with us

Kota Banjarbaru

Januari, Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Turun hingga 10 Persen

Diterbitkan

pada

Penurunan penerbangan karena Januari-Februari masuk low season Foto: net

BANJARBARU, Pasca libur natal dan tahun baru, jumlah penerbangan di bandara Syamsudin Noor mengalami penurunan hingga 10 persen. Namun penurunan tersebut bukan disebabkan kenaikan harga tiket pesawat dan adanya kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan maskapai.

Manager Operasi Angkasa Pura 1 Syamsudin Noor Rully Artha mengatakan, penurunan penerbangan lebih disebabkan karena Januari ini sebenarnya adalah low season. Penurunan itu tidak ada sangkut pautnya dengan harga tiket yang dijual oleh masakapai.

“Memang ada penurunan jumlah penerbangan hingga mencapai 10 persen. Biasanya setelah Natal dan tahun baru turun 5 persen, sekarang 8 -10 persen. Dari rata-rata 85 pergerakan sekarang tinggal 70 sampai dengan 75 pergerakan pesawat. Ini karena memang low season,” terangnya.

Data grafik dari penumpang datang maupun penumpang pesawat yang berangkat tiap hari menujukkan angka fluktuasi. Jika di tanggal 1 hingga 4 Januari di angka 8.000 hingga 9.000 penumpang. Namun meningkat di tanggal 5 hingga 7 Januari 2019. Kemudian angka bergerak lagi turun dan stabil di angka 8.000 hingga 9.000 penumpang.

Dijelaskan Rully, tidak ada faktor lain selain low sesason yang menyebabkan angka penurunan dari harian saat ini. “Termasuk soal bagasi berbayar yang diterapkan oleh maskapai. Itu tidak mempengaruhi,” tandasnya dilansir tribunnews.com.

Disebutkan Rully Artha, low season itu adalah musim liburan yang sepi pengunjung. “Kalau adanya biasanya di Bulan Januari-Februari. Apabiali kita di Banjarmasin tidak terlalu memperingati natal tahun baru, termasuk di perayaan Imlek, di Imlek pun tidak ada tren naik. Kalau di bandara lain itu ada trend naik, sekarang kondisi 8.000-9.000 an itu adalah hal masih wajar,” kata dia.

Seperti diketahui, maskapai Lion Air lakukan kebijakan baru untuk penerapan pembayaran bagasi. Penghapusan pemberian bagasi cuma-cuma kepada penumpang untuk rute seluruh domestikini pihak maskapai masih belum lakukan evaluai, sehingga masih belum diketahui apakah ada implikasi kepada penumpang semakin berkurang atau tidak.

Pariwisata Terimbas

Sementara itu, mahalnya tiket pesawat serta bagasi berbayar mencekik para traveler. Menpar Arief Yahya mengatakan hal ini menurunkan pariwisata. Kenaikan harga tiket pesawat beserta pengenaan tarif bagasi pada maskapai bujet atau LCC tak hanya jadi kabar buruk bagi traveler, tapi juga dunia pariwisata Indonesia.

“Sudah pasti akan menurunkan pariwisata. Jadi simpel, namanya itu price elasticity. Harga naik demand turun. Pasti itu,” ungkap Menpar Arief dilansir detik.com.

Diungkapkan oleh Arief, penurunan omset dari para pelaku wisata juga telah terdengar ke kupingnya. Pilu memang, tapi para pelaku wisata dan traveler harus siap.

“Sekarang penurunannya relatively drastis. Ada komplen kemarin dari Riau, pak saya turun 40%. Dia bicara seperti itu, harusnya mereka mengerti,” ujar Arief.

Selaku Menpar, Arief hanya bisa memberi masukan pada pihak maskapai selaku pembuat kebijakan. Sedikit banyak, roda pariwisata memang tergantung pada moda transportasi udara.

“Kalau usulan saya kalau mau naik pun tidak tergesa-gesa. Nggak ujug-ujug naik sekian persen karena elasticity. Kalau yang tarif naik sudah diturunkan. Ini pertanyaannya yang tarif bagasi sudah implemented. Ini risikonya di dia juga pasti demandnya akan turun. Karena unsur spending orang 30-40% ada di transportation,” kata Arief.(rico/trb/dtc)

Reporter:RIco
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  • 3
    Shares