Connect with us

Kesehatan

Jangan Terlalu Banyak Makan Mi Instan, Ini 4 Penyakit yang Bisa Muncul

Diterbitkan

pada

Ilustrasi mi instan (Shutterstock)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Mi instan menjadi salah satu makanan yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Hal ini lantaran cara masaknya yang praktis dan juga harganya yang cukup terjangkau.

Mi instan yang mengandung banyak natrium bisa jadi cukup berbahaya bila dikonsumsi terlalu sering. Mi goreng mengandung 1070 miligram natrium. sedangkan Mi rebus mengandung natrium sebanyak 1330 miligram.

Padahal, menurut World Health Organization (WHO), jumlah kebutuhan natrium pada tubuh manusia adalah di bawah 2000 miligram. Selain natrium, kandungan lemak dan karbohidratnya pun cukup tinggi.

Hal ini membuat mi instan tak baik bila terlalu sering dimakan. Suara.com telah merangkum dampak mengonsumsi mi instan terlalu sering bagi tubuh dari berbagai sumber.



 

Ilustrasi mi goreng pedas. (Pexels/Maria Marghareta Wibisono)

1. Gangguan pencernaan

Mengonsumsi mi instan terlalu sering atau terlalu banyak dapat mengganggu sistem pencernaan. Hal ini lantaran kandungan serat dan nutrisi pada mi instan cukup rendah.

Sembelit atau susah buang air besar bisa terjadi apabila tubuh tak cukup menerima serat.

2. Stroke

Kandungan natrium yang tinggi bisa menyebabkan gangguan stroke. Kandungan natrium yang tinggi juga bisa menyebabkan penyakit lain seperti penyakit jantung, hipertensi, dan kerusakan ginjal.

3. Obesitas

Mi instan mengandung kalori yang tergolong cukup tinggi. Hal ini lantaran mi instan terbuat dari tepung terigu. Obesitas dapat terjadi bila tubuh memakan banyak karbohidrat tanpa diimbangi dengan aktifitas fisik yang sepadan.

4. Diabetes

Karbohidrat yang tinggi juga dapat memicu diabetes. Karbohidrat di dalam tubuh nantinya akan diubah menjadi glukosa.

Orang yang terlalu sering memakan mi instan tubuhnya akan kesulitan menghasilkan insulin. Padahal insulin tersebut bekerja untuk mengubah glukosa menjadi energi.

Itulah 4 penyakit yang bisa diderita apabila terlalu banyak atau terlalu sering makan mi instan. Jagalah tubuh Anda dengan mengkonsumsi makanan bergizi. (suara.com)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Komentar

Kesehatan

Meski Kebanyakan Tak Parah, Waspadai 3 Gejala Klasik Covid-19 Ini pada Anak

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi anak pakai masker. (Shutterstock)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih kecil kemungkinannya untuk tertular Covid-19 dibandingkan orang dewasa. Selain itu, anak-anak juga berisiko lebih kecil mengalami penyakit parah akibat Covid-19.

Melansir dari Independent, menurut Harvard Medical School, banyak anak tidak akan mengalami gejala apa pun jika mereka tertular virus corona. Mereka yang mengalaminya lebih mungkin mengidap virus ringan dibandingkan orang dewasa.

Meskipun kasus anak-anak menjadi sakit parah jarang terjadi, virus ini bukannya tanpa risiko bagi mereka. Tahun 2020 lalu, enam anak tanpa kondisi kesehatan yang mendasari meninggal akibat virus corona di Inggris.

Anak-anak juga berisiko terkena penyakit langka namun berpotensi berbahaya yang disebut sindrom inflamasi multi-sistem pediatrik (PIMS) setelah tertular Covid-19. Untuk mengetahui gejala infeksi Covid-19 pada anak-anak, berikut tiga gejala yang paling sering muncul, antara lain:



 

1. Kelelahan

Kelelahan adalah gejala virus corona yang umum pada anak-anak. Menurut data dari Covid Symptom Study App, kelelahan adalah gejala paling umum yang dialami anak-anak dengan virus corona.

Dari 198 anak di antara 16.000 orang yang data gejalanya dikumpulkan, 55 persen pernah mengalami kelelahan akibat virus corona.

“Kita perlu mulai memberi tahu orang-orang apa saja gejala utama pada usia yang berbeda,” ujar Prof Tim Spector dari King’s College London yang memimpin penelitian tersebut.

2. Sakit Kepala

Sakit kepala adalah gejala paling umum kedua yang ditemukan pada anak-anak, menurut Covid Symptom Study App. Dari 198 kasus yang tercatat, 54 persen di antaranya termasuk sakit kepala.

Sebuah studi terhadap hampir 1000 anak yang diterbitkan dalam British Medical Journal (BMJ) menyatakan bahwa sakit kepala biasa terjadi pada anak-anak dengan Covid-19. Dari 68 anak yang dites positif Covid-19, 12 anak atau 18 persen melaporkan sakit kepala.

3. Sakit perut

Studi BMJ menemukan bahwa gejala gastrointestinal seperti diare, muntah, dan kram perut sering terjadi pada anak-anak yang dites positif Covid-19. Dari 68 anak yang dites positif Covid-19, setidaknya 21 anak atau 31 persen mengalami sakit perut. (suara.com)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kesehatan

Cukup 1 Kali Suntikan Vaksin Pfizer Cegah Penularan Virus Corona 75 Persen

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi vaksin COVID-19 (pixabay)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa hanya satu suntikan vaksin Pfizer bisa menurunkan transmisi virus corona Covid-19 hingga 17 persen. Para ilmuwan di Universitas Cambridge menemukan, satu kali suntikan vaksin Covid-19 bisa mengurangi jumlah kasus asimtomatik 4 kali lipat.

Tim peneliti mengamati tes virus corona dari petugas rumah sakit yang divaksinasi dan tidak divaksinasi selama 2 minggu. Mereka pun melihat hasil penelitian yang mengejutkan.

Studi itu menemukan 13 petugas medis positif virus corona dari 3.535 kurang dari 12 hari setelah suntik vaksin Covid-19. Lalu, hanya 4 dari 1.989 petugas medis yang positif virus corona terdeteksi setelah 12 hari vaksin Covid-19.

“Ini adalah kabar bagus. Karena, vaksin Pfizer tidak hanya memberikan perlindungan terhadap penyakit SARS-CoV-2, tetapi juga membantu mencegah infeksi, mengurangi potensi penularan virus corona ke orang lain,” kata Dr Mike Weekes, spesialis penyakit menular di CUH dan Departemen Kedokteran Universitas Cambridge dikutip dari The Sun.



Ketika tim peneliti memasukkan petugas perawatan kesehatan yang bergejala, hasil analisis mereka menunjukkan pengurangan yang serupa.

Ilustrasi virus corona, hidung, mimisan (Pixabay/mohamed_hassan)

Mereka melihat 56 dari 3.282 petugas layanan kesehatan yang tidak divaksinasi dinyatakan positif virus corona, dibandingkan dengan 8 dari 1.997 petugas layanan kesehatan pada 12 hari setelah vaksinasi menurun 4-3 kali lipat.

Temuan ini mendukung hasil studi yang terpisah dari Public Health England, yang menemukan vaksin Pfizer mampu mengurangi kasus virus corona Covid-19 lebih dari 72 persen dalam 21 hari setelah suntikan pertama.

“Ini kabar yang baik bagi staf medis di rumah sakit maupu pasien, yang diyakini bahwa vaksinasi massal sekarang ini mencegah meningkatnya kasus asimtomatik virus corona, selain penyakit simptomatik,” kata Dr Nick Jones, pendaftar penyakit menular/mikrobiologi di CUH.

Prof. Jonathan Ball, Profesor Virologi Molekuler, Universitas Nottingham, mengatakan telah melihat penurunan tingkat infeksi virus corona setelah suntikan pertama vaksin Pfizer sangat mengesankan dan menunjukkan bahwa vaksinasi benar-benar menawarkan solusi.

“Penting untuk memahami penurunan risiko infeksi virus corona Covid-19 terjadi di semua kelompok risiko pajanan, termasuk dalam penelitian ini,” jelasnya.

Dr Mary Ramsay, kepala imunisasi di Public Health England, mengatakan ada tanda-tanda bahwa tingkat kematian dan perawatan medis rumah sakit untuk kelompok usia yang divaksinasi menurun.

Dr Mary, mengatakan sekarang ada bukti vaksin Covid-19 yang mengurangi risiko infeksi sistematis pada orangtua 3 minggu setelah suntik. Ia melihat ada perlindungan lebih tinggi terhadap bentuk penyakit yang lebih parah.

“Kami sudah mulai melihat tanda-tanda tingkat kematian dan rawat inap pada kelompok usia yang divaksinasi menurun,” jelasnya.(Suara)

Editor : Suara

 

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->