Connect with us

Kabupaten Banjar

Haul ke-26 KH Badruddin, Negarawan Tegas, Mewaqafkan Dirinya di Ponpes Darussalam

Diterbitkan

pada

HAUL GURU IBAD, Peringatan Haul ke-26 Al’alim Al Fadhil KH Badruddin atau Guru Ibad berlangsung di kediaman putra almarhum KH Hasanudin Badruddin di Jalan Pintu Air, Kelurahan Tanjung Rema Darat, Kecamatan Martapura, Kamis (15/3). Foto : hendera

MARTAPURA, Peringatan Haul ke-26 Al’alim Al Fadhil KH Badruddin atau Guru Ibad berlangsung di kediaman putra almarhum KH Hasanudin Badruddin di Jalan Pintu Air, Kelurahan Tanjung Rema Darat, Kecamatan Martapura, Kamis (15/3). Dihadiri Bupati Banjar H KH Khalilurrahman dan mantan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin.

Ratusan jamaah bersama KH Khalilurrahman memimpin tahlil yang menjadi bagian dari gelaran haul. Warga yang menyesaki kediaman Guru Hasanudin tampak khusuk mengikuti gelaran haul tersebut.

Al’alimul Al Fadhil KH Badruddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Ibad. Beliau dilahirkan pada tanggal 29 Dzul Qo’idah 1355 Hijriah atau bertepatan pada tanggal 11 Februari 1937 M di kota serambi Makkah, Martapura, Kalimantan Selatan. Nama lengkap beliau adalah KH Badruddin bin mufti KH Ahmad Zaini bin KH Abdurrahman bin H Zainuddin bin Abdusshomad bin Abdullah Al Banjari, keturunan langsung dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau terlahir dari keluarga besar yang menjadi panutan karena banyak yang menjadi ulama.

Tokoh ini mempunyai kharisma besar di masyarakat. Selain sebagai ulama beliau juga bagian dari elemen pemerintahan baik di lokal maupun pusat. Pengaruhnya yang pengembangan-pengembangan yang banyak beliau lakukan di jajaran Pondok Pesantren Darussalam dan lingkungan masyarakat di sekitarnya.

Beliau hidup di tengah-tengah masyarakat muslim yang taat beragama. Sejak kecil mula-mula menerima pendidikan dari ayah dan kakek beliau. Selanjutnya memasuki pendidikan formal di Madrasah Iqdamul Ulum dan Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Dan setelah meluluskan jenjang pendidikan tersebut, beliau meneruskan jelajah ilmunya ke Makkah Al Mukarramah tepatnya di Madrasah Shaulathiyyah Makkah.

Foto : hendera

Selain itu beliau juga memperdalam pengetahuannya dengan beberapa ulama besar Martapura, diantaranya KH Husein Qodri (yang tak lain kakak beliau sendiri) KH A Sya’rani Arif, KH Semman Mulya, dan KH Salim Ma’ruf serta beberapa ulama dan habaib di pulau Jawa.

KH Badruddin tidak pernah berhenti meneruskan perjuangan yang dilakukan oleh kakek, ayah dan saudaranya sebagai pembimbing dan pembina masyarakat melalui pengajian-pengajian agama. Baik di Pondok Pesantren Darussalam Martapura maupun di kalangan masyarakat umum seperti di masjid-masjid di langgar-langgar dan di kampung-kampung, bahkan sampai ke kantor-kantor pemerintahan.

Beliau juga orang yang pertama membawa dan mengembangkan pembacaan Maulid Habsyi di Kalimantan Selatan dan sekitarnya sehingga sampai sekarang terus diamalkan oleh masyarakatnya.

KH Badruddin sejak remaja dan sampai akhir hayatnya dikenal memiliki pendirian yang teguh, disiplin dan loyalitas yang tinggi baik dalam sikap maupun perbuatan. Aktifitasnya sebagai pengajar agama diwakafkan sebagai guru di Ponpes Darussalam dengan memulai kiprahnya pada tahun 1955. Hingga pada tahun 1976 beliau diangkat menjadi pimpinan Pondok Pesantren Darussalam menggantikan pendahulu sebelumnya Almarhum Al’alimul Allamah KH Salim Ma’ruf.

Di masa kepemimpinan beliau Darussalam mengganti nama menjadi “Pondok Pesantren Darussalam” yang semula bernama Madrasah Al Islamiyah Darussalam. Disamping itu, di bidang infrastruktur pun mengalami peningkatan. Selain bangunan gedung yang di tempati di lokasi Pasayangan juga dibangun gedung di lokasi baru yaitu di Jalan Perwira Tanjung Rema, Martapura di atas bentangan tanah seluas 10 hektare yang pada waktu itu hasil dari sumbangan Pangdam X Lambung Mangkurat Letjen Amir Mahmud.

Di bidang keagamaan, di samping sebagai guru dan pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, beliau aktif memberikan khutbah Jum`at di Masjid Agung Al Karomah, Martapura dan Nazir Masjid kebanggaan warga masyarakat Serambi Makkah Martapura, serta di kantor-kantor instansi pemerintah.

Sosok KH Badruddin sebagai negarawan yang mempunyai dedikasi menyebarkan dakwah Islam dengan penuh keikhlasan dan keyakinan hanya untuk menuntut ridho-Nya. Selama hidup beliau yang bersahaja pernah ditunjuk untuk menjabat sebagai ; Penghulu Kampung Jawa dan Sungai Paring Martapura (tahun 1955), sebagai karyawan di Departemen Agama Kabupaten Banjar (tahun 1960), diangkat menjadi anggota DPRD Tingkat II sejak tahun 1961, dan dipercaya sebagai anggota MPR RI sejak tahun selama dua periode, dan pada tahun 1978 dipercaya sebagai anggota DPA RI selama dua periode.

Di bidang organisasi, terutama organisasi keagamaan pernah menduduki jabatan-jabatan penting seperti, Wakil Ketua Umum Badan Kerja Sama Ulama Militer, Ketua MUI Kalimantan Selatan, Ketua LTPQ Kalimantan Selatan, Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Kalimantan Selatan, Anggota Badan Pertimbangan MUI Pusat, Rais Suriah PWNU Kalimantan Selatan.

Dan kiprahnya di bidang ini tetap saja tak lepas dari upaya memperjuangkan tegak syiar Islam. Beliau merupakan figur yang berperan secara ideal dalam beberapa dimensi sosial, sebagai ayah dalam keluarga, pakar ilmu dalam komunitas keilmuan dan ulama serta panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemanfaatan ilmu dan akhlak beliau dirasakan semua orang. KH Badruddin bin KH Ahmad Zaini telah berpulang ke Rahmatullah malam Rabu tanggal 28 Jumadil Akhir 1413 H / 23 Desember 1992 M dimakamkan di kubah Tunggul Irang Martapura. (hendera/bie)

Reporter : Hendera
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share