HEADLINE
Gerakan Buruh, Antara Kesejahteraan dan Tarikan Mesin Politik
Gerakan Politik Buruh
Partai Buruh di Indonesia sempat meramaikan panggung politik di Indonesia dan menjadi peserta Pemilu di tahun 1999, 2004 dan 2009 dengan menggunakan nama yang berbeda yaitu Partai Buruh Nasional, Partai Buruh Sosial Demokrat dan Partai Buruh.
Kini status buruh cenderung menjadi komoditas dari kepentingan politik praktis. Tak ada jaminan serikat pekerja mendekati kelompok elite partai politik bisa memperjuangkan hak buruh, pun tak ada jaminan dukungan buruh tidak dimanfaatkan sebagai kendaraan elite partai politik untuk meraih suara.
Dosen Ketenagakerjaan Pascasarjana Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah dilansir CNNIndonesia.com menilai, pergerakan serikat buruh di Indonesia tidak lagi efektif memfasilitasi kepentingan buruh dan malah cenderung mendekati kepentingan politik dengan berafiliasi dengan partai politik. Kepentingan untuk memperjuangkan hak sesama buruh selama ini dianggap tak terakomodasi dengan baik.
“Dia kalau dekat dengan parpol tentunya kurang proporsional, karena dijadikan ‘kendaraan’ untuk menggerakkan massanya. Lebih baik buruh tidak membuat serikat buruh yang seperti itu, (tapi) lebih ke independen,” kata Trubus.
Politik alternatif sekarang menjadi sarana yang penting bagi serikat buruh di Indonesia untuk bisa bersuara, di tengah kepentingan-kepentingan coba terus menekan mereka, terutama dari elite pengusaha dan partai politik.

Tak hanya itu, sikap dari buruh yang sudah antipati atau dari pihak pengurus serikat buruh sendiri terus dipengaruhi kepentingan politik yang bersifat transaksional. “Tentu pemikiran alternatif ini jadi signifikan, karena bagaimanapun buruh-buruh semua belum tentu suka politik. Karena sekarang lebih niatnya kesejahteraan, mereka yang sikapnya apolitik tidak suka politik. Biasanya pengurusnya sudah melalui pelatihan-pelatihan teknik atau apapun namanya itu, terus akhirnya dicekoki kepentingan politik itu. Itu yang terjadi,” katanya.
Trubus juga menyayangkan mental buruh sekarang tidak lagi mengedepankan perjuangan tanpa pamrih. Dia membandingkannya dengan saat perjuangan yang dilakukan oleh Marsinah, tokoh buruh wanita yang dibunuh karena menuntut hak kesejahteraan bagi kelompoknya.
“Mental-mental buruh sekarang mentalnya beda pada saat zaman Marsinah dulu, yang nilai juangnya sebagai perjuangan tanpa pamrih. Nah sekarang nilai-nilai Marsinah sudah gak ada. Sekarang demo-demo pada saat May Day lebih banyak tuntutan politik bukan tuntutan kesejahteraan, tapi memang berangkatnya dari titik kesejahteraan, tapi kemudian setelah itu larinya ke politik karena kesejahteraan sudah cukup,” ujarnya.
-
HEADLINE2 hari yang laluTata Ulang Kawasan Simpang Empat Banjarbaru, Pedagang Bongkar Sendiri Bangunan
-
DPRD BANJARBARU2 hari yang laluKetua DPRD Banjarbaru Gusti Rizky Diganti
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara3 hari yang laluKafilah HSU Dilepas Menuju MTQ Ke-37 Kalsel di Batola
-
DPRD BANJARBARU2 hari yang laluDPRD Banjarbaru Sahkan Dua Perda
-
Kalimantan Selatan22 jam yang laluHMI se Kalsel Layangkan Delapan Tuntutan ke Wakil Rakyat
-
Hukum1 hari yang laluLima Tersangka dari 128,7 Kg Sabu Jaringan Narkoba Lintas Provinsi


