Connect with us

HEADLINE

Faktor Ekonomi dan Geografis Picu Tingginya Kasus Narkoba di Banjar


Jika diakumulasi, perhari ada sebanyak 2 kasus narkoba terjadi di kota berjuluk Serambi Mekah. Faktor ekonomi, jumlah penduduk, dan letak georgrafis bisa menjadi pemicu suburnya narkoba di tempat ini.


Diterbitkan

pada

kasus narkob di Kabupaten Banjar terus meningkat per tahunnya Foto: net

MARTAPURA, Kasus narkoba di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus meningkat dari tahun ke tahun. Status darurat narkoba pun harus disematkan di provinsi berpenduduk lebih dari 3,8 juta jiwa ini karena menjadi salah satu pintu masuk jaringan obat terlarang manca negara.

Yang mengenaskan di antara kabupaten/kota di Kalsel, Kabupaten Banjar yang selama ini berjuluk sebagai Kota Serambi Mekkah justru merupakan salah saru daerah dengan angka narkoba yang cukup signifikan!

Data yang diperoleh Kanalkalimantan.com peningkatan peredaran barang haram tersebut dibuktikan berdasarkan rekapitulasi data narkoba jajaran Polres Banjar periode tahun 2015-2017. Tercatat total ada sebanyak 562 temuan perkara narkoba hingga tiga tahun belakangan. Jika jumlah rata-rata satu bulan 30 hari, dikali 12 bulan dan dikali lagi 3 tahun, dibagi 562 kasus, maka jika dikalkulasikan ada sebanyak 1,9 atau hampir terjadi 2 kali kasus penangkapan penyalahgunaan narkoba per harinya.

Dari sebanyak 562 jumlah temuan perkara tersebut, jika dikelompokan lagi berdasarkan periode, ada peningkatan yang terjadi di setiap tahunnya. Terbukti jika di tahun 2015 ada sebanyak 151 temuan, 2016 ada 196 temuan, dan tahun 2017 meningkat ada sebanyak 215 temuan. Bahkan hingga hampir mencapai pertengahan tahun dibulan Mei 2018 saja, sudah ada sebanyak 74 jumlah kasus narkoba.



Menurut Kapolres Banjar AKBP Takdir Mattanete melalui Kasat Resnarkoba Iptu Achmad Jarkasi, pihaknya tidak mempungkiri terjadi angka peningkatan jumlah temuan perkara narkoba dari tahun ke tahun.  Dan jika dilihat berdasarkan jumlah barang bukti Obat Keras yang paling banyak ditemukan setiap tahunnya. Disusul dengan temuan Sabu dan Ecstasy. “Untuk temuan penyalahunaan narkoba, berdasarkan jumlah barang bukti Obat Keraslah yang masih menjadi temuan yang mendominasi,” ungkapnya.

Lalu apa yang menjadi pemicu maraknya kasus narkoba di Kabupaten Banjar? Jarkasi menjelaskan, banyaknya penemuan jumlah kasus narkoba tersebut disinyalir salah satunya karena faktor ekonomi yang sangat bisa berpotensi untuk meningkatkan kekayaan.

“Coba bayangkan saja satu gram Sabu dipasar gelap itu harganya rata-rata Rp 1.3 juta dan jika di pecah untuk dijual lagi bisa sampai Rp 2 juta, tentunya bisa mecapai 2x lipat lebih harga perbandingan emas 999 yang saat ini hanya mencapai Rp 595 ribu per gramnya,” jelasnya.

Jika faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu, maka sebagai gambaran bahwa presentase penduduk miskin di Kabupaten Banjar 2017 mengalami penurunan 0,14% dibanding tahun sebelumnya. Angka kemiskinan pada tahun 2016 sebesar 3,10%, dan pada 2017 menjadi 2,96%.

Angka kemiskinan di Banjar sebesar 2,96%, berada di bawah angka kemiskinan tingkat Provinsi  Kalsel sebesar 4,73%. Posisi ini mengalami penurunan dari tahun 2016 yaitu sebesar 3,10%  (sumber data BPS). Perlu diketahui, Kabupaten Banjar merupakan kabupaten yang mempunyai presentase penduduk miskin paling rendah dibanding dengan 13 Kabupaten/Kota di Kalsel.

Namun jika dilihat dari garis kemiskian di 13 Kabupaten/kota, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Banjar tahun 2017 memang masih besar dan berada di posisi nomor tiga dengan jumlah 16.850 jiwa. Dengan data tersebut, dari sebanyak 543.799 jumlah penduduk Kabupaten Banjar, 32% masih berstatus miskin.

Berbagai upaya telah di tempuh oleh Kabupaten Banjar untuk menekan angka kemiskinan seperti diantaranya dengan program-program ada untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, menjaga stabilitas makro ekonomi, dan melakukan stabilitas harga.

Termasuk juga untuk menciptakan lapangan kerja produktif, menjaga iklim investasi, regulasi perdagangan, meningkatkan produktifitas sektor pertanian, dan pengembangan insfratuktur di wilayah-wilayah tertinggal.

Masih menurut Jarkasi, dia menambahkan selain faktor ekonomi ada juga faktor lainnya seperti geografis Kabupaten Banjar yang luasnya mencapai 4.668 Km² dengan jumlah penduduk sebanyak 543.799 jiwa di tahun 2018. Selain itu, Banjar juga sebagai penyangga kota yang berbatatasan dengan kota kota besar di Kalimantan Selatan.

“Walaupun tidak ada tempat hiburan, karena merupakan penyangga kota mungkin saja itu juga menjadi faktor meningkatnya jumlah temuan kasus narkoba di Kabupaten Banjar ini,” ungkapnya.

Namun hingga saat ini menurut Jarkasi, Kapolres Banjar AKBP Takdir Mattanete melalui Kasat Narkoba Resnarkoba akan terus untuk fokcus mengungkap kasus narkoba, sehingga dapat memutus peredaran barang haram di Banjar. “Sehingga kedepannya tidak ada lagi dijumpai kasus penyalah gunaan narkoba yang dapat merusak hingga merugikan kalangan lapisan masyarakat dan orang banyak di Kabupaten Banjar,” pungkasnya.

Tingginya peredaran narkoba di Kabupaten Banjar ini memang menjadi keprihatian Bupati H Khalilirrahman. Bahkan, narkoba dan sejenisnya kini sudah merambah ke dunia pendidikan. Termasuk di lingkungan pesantren. Hal ini seolah kemudian mengubah Kabupaten Banjar yang berjuluk Kota Serambi Mekah menjadi Kota Seram.

“Narkoba dan ngelem sudah masuk ke lingkungan pondok pesantren -pesantren di Kota Martapura yang berjulukan sebagai Kota Serambi Mekkah,” ujar Khalilurrahman beberapa waktu lalu.

‌Guru Khalil yang mantan ketua pondok Pesantren Darussalam itu mengatakan, sebutan Kota Serambi Mekkah membuat kota ini menjadi target hingga bukan serambi, tapi menjadi seram. Untuk itu jelasnya perlu kerjasama semua pihak untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkoba. “Berjuluk Serambi Mekkah tentunya menajadi incaran tersendiri bagi para pengedar untuk menghancurkan generasi kita,” jelasnya.

Dengan adanya recana Pemerintah Kabupaten Banjar untuk membentuk Badan Narkotika Nasional  Kabupaten (BNNK) kasat Resnarkoba sangat mendukung hal tersebut. Menurutnya kehadiran BNNK di Wilayah Kabupaten Banjar sangatlah penting dalam upaya memberantas narkoba.

Dalam BNNK itu, diharapkan juga ada divisi strategis seperti divisi penyuluhan yang bergerak secara pencegahan, divisi berantas yang bisa bekerja sama dengan Polres Banjar dan divisi yang lainnya yang bisa secara sistem membrantas narkoba di wilayah kabupaten Banjar.(rendy).

<

div class=”reporter>
Reporter: Rendy
Editor: Cell


iklan

Disarankan Untuk Anda

<

Paling Banyak Dibaca

-->