Connect with us

Kabupaten Banjar

Dinas Perikanan Banjar Masih Usut Kematian Ribuan Ikan Patin di Desa Sungai Batang

Diterbitkan

pada

Ribuan ikan patin milik pelaku usaha perikanan di Sungai Batang yang mati. Foto: rendy

MARTAPURA, Ribuan ekor ikan patin milik beberapa pelaku usaha budidaya perikanan di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, mengalami kematian mendadak. Alhasil beberapa pelaku usaha terancam gagal panen dan menderita kerugian hingga jutaan rupiah.

“Kematian ratusan ikan patin milik saya ini terjadi sejak Selasa (8/1) kemarin. Sepertinya karena penyakit. Untuk menyelamatkan sisa ikan patin yang masih hidup, saya melakukan buang dan ganti air. Karena air irigasi kering, terpaksa pakai air yang ada dulu,” ujar Atur, salah satu pelaku usaha budidaya perikanan yang terdampak.

Ditambahkan Atur, kematian ikan patin yang dimilikinya berjumlah sekitar 200 ekor dengan estimasi kerugian Rp 3 juta. Dia mengharapkan tidak ada kematian ikan serupa dengan jumlah yang terus bertambah. Termasuk agar kasus ini mendapat perhatian dari dinas terkait.

Menanggapi matinya ribuan ekor ikan patin ini, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banjar Mohammad Riza Dauly mengatakan, masih belum bisa memastikan penyebabnya. Namun untuk langkah awal, pihaknya sudah menurunkan tim Pos Kesehatan Ikan Terpadu (Poskandu).

“Hingga sekarang kita masih belum tahu pasti faktor kematian ikan patin tersebut.Untuk itu diduga tim poskandu kita turun kelapangan untuk mengambil sample guna memastikan apakah kekurangan oksigen, bakteri, ataupun kualitas air,” akunya.

Kadis Perikanan yang baru dilantik dan diambil sumpah jabatannya pada Jumat (4/1) tersebut, akan langsung turun ke lapangan guna memastikan apakah status dari para pelaku usaha petani budidaya ikan patin itu. Apakah kelompok atau individu, sehingga dapat mengambil langkah selanjutnya.

“Jika melihat program sebelumnya dari pemerintah pusat,  ada yang namanya asuransi bagi pelaku usaha budidaya perikanan kelompok. sehingga ada kemungkinan mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Lebih jauh Dauly mengatakan ada perbedaan antara pelaku usaha kelompok dan budidaya perorangan atau indipidu. Mengingat hanya pelaku usaha perikanan kelompok saja yang biasanya mendapat asuransi dari pemerintah. Sementara terkait berapa jumlah pelaku usaha yang berdampak pihaknya masih menyisir dilapangan hingga sampai sekarang.

“Terkait berapa pelaku usaha perikanan disana kita masih belum mengetahui pasti, tim kita masih menyisir, untuk melakukan pendataan ulang. Jadi apa bagai mananya untuk kedepan masih kita dalami lagi guna mengambil langkah yang lebih kongkrit,” jelasnya.

Apabila didapati pelaku usaha tersebut sebagai individu guna mendapatkan asuransi, pihaknya akan menyarankan agar pelaku usaha bergabung dengan pelaku usaha kelompok. Mengingat pelaku usaha indipidu tidak akan diberi bantuan karena keterbatasan anggaran.

“Jika pelaku usaha perikanan tersebut Indipidu maka susah untuk kita bantu, mengingat anggaran yang terbatas. Untuk itu langkah kedepan mungkin kita akan sarankan mereka untuk masuk kedalam kelompok usaha perikanan kelompok sehingga terjamin asuransi,” pungkasnya. (rendy)

Reporter:Rendy
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  • 3
    Shares