Connect with us

VOA

Dilema Sampah Plastik Impor, Antara Peluang dan Ancaman

Diterbitkan

pada

Supiati dan Saji mengangkut sampah plastik impor di pekarangan mereka, untuk kemudian disortir dan dijual kembali. Foto: Petrus Riski/VOA

Indonesia sedang berupaya mengurangi produksi sampah plastik, yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Tetapi tahukah Anda bahwa ada sebagian masyarakat di Jawa Timur yang justru memilah sampah impor dan mendapatkan keuntungan ekonomi dari sampah tersebut?

Sepasang suami istri, Saji dan Supiati, tampak sibuk memilah sampah dan mengelompokkan sampah plastik di pelataran rumah mereka di dusun Ploso, desa Bangun, kecamatan Pungging, kabupaten Mojokerto. Pengelompokan dilakukan berdasarkan jenis dan perkiraan harga jualnya. Sampah plastik yang memiliki nilai jual selanjutnya akan dijual kembali ke pabrik kertas Pakerin, di dekat desa mereka.

“Sampah dugi Pakerin, sampah dugi Mekabok, dugi nggih Megasurya, nek telas nggih ndugekne nek mbothen. Nggih wonten, plastik nggih enten rosokane niki, rosokane dipilah ngoten niki,” paparnya. (Terjemahan : Sampah dari (pabrik kertas) Pakerin, Mekabok, Megasurya, kalau habis sampahnya ya mendatangkan lagi. Ya ada yang bisa dimanfaatkan, plastik yang bisa dipilah seperti ini).

 Pilah Sampah Plastik, Supiati-Saji Dapat Sekolahkan Anak-anak

Supiati menjalani profesi sebagai pemilah sampah plastik sejak 2008 lalu. Kepada VOA Supiati mengatakan sampah plastik yang dipilahnya merupakan sampah plastik impor. Ia mengetahui hal ini dari merk dan negara asal yang tertera di bekas kemasan produk yang disortir.

Suaminya Saji bahkan pernah menemukan uang kertas dolar Amerika dan poundsterling Inggris, baik dalam keadaan utuh maupun rusak.

Sobekan uang kertas bergambar Ratu Elizabeth dan George Washington, ditemukan Saji saat memilah sampah plastik di depan rumahnya. Foto: Petrus Riski/VOA

Hasil sortir yang dijualnya bisa mencapai 1,6 juta rupiah; tergantung kemampuannya memilah sampah plastik impor itu. Dari pekerjaannya selama ini, mereka berhasil menyekolahkan anak-anaknya, bahkan membangun rumah sendiri.

“Niki (rumah) hasil niku, pundhake (tenaga). Tapi nggih saget gadhah niki dugi wingking, saget ndamel gubhuk, alhamdulillah, nyekolahaken anake nggih saget,” kata Supiati. (Terjemahan : Rumah ini hasil dari itu, kerja keras. Dapat memiliki dari sini ke belakang itu, dapat membangun rumah, alhamdulillah, menyekolahkan anak juga dapat)

 Ecoton: China Hentikan Impor Sampah Plastik, Sebagian Besar Masuk ke Indonesia

Direktur Eksekutif Ecoton (Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah), Prigi Arisandi mengatakan, masuknya sampah dengan merk dan lokasi jual di luar Indonesia, diduga akibat kebijakan China menghentikan impor sampah plastik dari sejumlah negara di Eropa dan Amerika. Hal ini membuat sampah plastik beralih tujuan ke negara-negara di ASEAN, termasuk Indonesia. Diperkirakan ada lebih dari 300 kontainer yang sebagian besar mengangkut sampah plastik ke Jawa Timur setiap harinya.

Prigi meyakini adanya kenaikan jumlah volume sampah plastik yang masuk, setelah melakukan pengamatan di lokasi desa tempat pembuangan sampah plastik di Mojokerto, Sidoarjo, dan Gresik. Setiap hari ada penambahan jumlah truk pengangkut sampah plastik yang masuk ke daerah-daerah itu.

“Impor sampah plastik ini mengemuka, atau menjadi tinggi volumenya itu tiga bulan terakhir. Jadi sejak November itu kita melihat gejala-gejala. Jadi ada satu perusahaan kertas yang dia mengimpor bahan baku kerta itu, di dalamnya bercampur, 60 persen itu adalah sampah plastik, dan volume buangan sampah ke luar itu biasanya tiga sampai lima dump truk, per hari, ini sampai lima belas dump trup per hari, dan isinya itu plastik. Jadi botol plastik, sachet (kemasan), yang tidak bisa didaur ulang,” ujar Prigi.

 Aktivis Lingkungan Pahami Mengapa Masyarakat Bersedia Tampung Sampah Plastik

Aktivis lingkungan dari Komunitas Nol Sampah, Hanny Ismail mengatakan masyarakat bersedia menampung sampah plastik di komunitas mereka karena adanya keuntungan ekonomi dari memilah dan menjual kembali sampah plastik itu, baik sebagai bahan membuat biji plastik, maupun bahan bakar produksi pabrik tahu dan krupuk di Jawa Timur.

“Yang dipandang masyarakat itu ada nilai ekonomisnya, oh ini ada uangnya, itu. Dia tidak bisa melihat bahwa itu ada dampak yang sangat luar biasa selain dampak ekonomis itu tadi. Ada dampak dalam kesehatannya juga, itu yang paling bahaya, juga dampak ke lingkungannya,” tukas Hanny.

 Kajian Ecoton: Sampah Plastik Impor Berasal dari 20 Negara

Berdasarkan kajian atas merk sampah plastik (brand-audit) yang masuk itu, Ecoton mengumpulkan lebih dari 50 merk yang berasal dari lebih 20 negara di Eropa, Amerika, Australia dan Asia. Merk ini tertera pada sampah plastik kemasan yang diambil sebagai contoh di empat lokasi pembuangan dari empat pabrik kertas di Sidoajo, Gresik dan Mojokerto.

Sementara itu hasil uji laboratorium yang dilakukan peneliti Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho, atas contoh dari 11 saluran pembuangan pabrik kertas dan plastik di sepanjang Sungai Surabaya, juga menemukan partikel mikroplastik di dalam air.

Sejumlah sampah plastik kemasan produk asal luar negeri yang ada di Mojokerto. Foto : Petrus Riski/VOA

“Ada banyak serpihan, per-milinya dia sangat dominan, rata-rata di bawah mikroplastik yang disepakati oleh kawan-kawan di jurnal ilmiah itu adalah di bawah lima mili, itu sepakati disebut mikroplastik,” kata Andreas.

Andreas menyebut partikel mikroplastik sangat berbahaya bagi makhluk hidup, yang secara langsung maupun tidak langsung hidup di air yang terdapat mikroplastik. Mikroplastik dapat menjadi transporter bagi limbah beracun dan zat berbahaya lainnya. Dari 168 ikan yang diteliti dengan dibedah lambungnya, ditemukan mikroplastik di lambung semua jenis ikan yang diteliti.

“Bahayanya di mikroplastik itu sebenarnya adalah dia sebagai transporter. Plastik sendiri tidak akan hancur ketika dicerna oleh makhluk hidup, tapi dia mengikat bahan-bahan lain yang dari limbah, dari racun yang ada di perairan sehingga dia mengikat di plastik ini yang akhirnya masuk ke saluran pencernaannya makhluk hidup terutama ikan yang sedang kita teliti, itu akhirnya zat-zat yang terikat ini yang terlepas dan terserap oleh ikan,” imbuhnya.

 Ecoton Serukan Pemerintah Stop Sampah Plastik Impor

Prigi Arisandi menegaskan akan mengirimkan surat kepada kementerian terkait, agar memperhatikan ancaman bahaya sampah plastik bagi kelestarian lingkungan hidup. Prigi menyebutkan surat Menteri Perindustrian kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tertanggal 1 November 2018, yang meminta rekomendasi dibukanya keran impor plastik, serta persiapan sejumlah pabrik kertas meningkatkan kapasitas mesin industrinya, jelas merupakan indikasi masuknya sampah plastik impor ke Indonesia.

“Ini sudah kita siapkan surat kepada Menteri Perindustrian untuk memberikan sanksi kepada industri-industri, yang kita punya 11 daftar industri di Jawa Timur yang mereka kami duga melakukan impor ilegal, tidak hanya kertas tapi plastik. Kita juga akan menyurati Menteri Lingkungan (LHK), untuk tidak mengimpor sampah plastik. Dan kita juga akan menyurati Menteri Keuangan terkait dengan Bea Cukai, karena ada kebocoran pengawasan hingga lolosnya ratusan kontainer sampah plastik impor dari Amerika dan Inggris ke Indonesia,” pungkas Prigi. (pr/em/kk/voa)

Reporter : Pr/em/kk/voa
Editor : Kk

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share