Budaya
Lahir dari Keluarga Petani, Kliwir Jadi Seniman Keliling Berbagai Negeri
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Terlahir sebagai anak petani tak memudarkan mimpi Warsana Kliwir menjadi seniman yang bisa keliling berbagai negeri.
Lelaki yang berasal dari pelosok desa di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu selalu berdoa di setiap bangun tidurnya untuk bisa naik pesawat agar bisa bepergian ke luar daerah sampai ke mancanegara.
Benar saja, terhitung dia sudah menyambangi 6 negara, sebut saja Amerika, Kanada, Hongkong, Thailand, China, hingga Korea.
“Genggam erat mimpi itu, apapun yang kita pikirkan apapun yang kita mimpikan, Tuhan tinggal mengamini,” kata Kliwir -sapaan akrabnya- berbincang kepada Kanalkalimantan, pada Rabu (20/8/2025) siang.
Baca juga: Menilik Musik Tradisi Kalsel Dalam Perspektif Etnomusikologi
Semua itu Kliwir dapatkan berkat ketekunan dalam mempelajari musik tradisi sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Terlebih lagi di rumahnya memang ada gamelan sebab ayahnya sempat menjadi pemain wayang.
Namun, karirnya sebagai pegiat seni awalnya tidak mulus karena ibunya melarangnya menjadi seorang seniman. Berkaca pada ayahnya sebagai pemain wayang yang dicintai banyak orang membuat sang ibu takut anaknya membawa kebiasaan seperti itu ke dalam rumah.

“Karena takutnya seperti itu nuansa panggung dibawa ke rumah kan bahaya. Di panggung kan seperti toko pasti orang tertarik pada kita. Kalau kemudian dibawa ke rumah, artinya kan keluarga jadi kacau jadi Ibu saya takut,” ungkap Kliwir.
Baca juga: Jasindo Lengkapi Akses Internet di Spot Paralayang Tahura Sultan Adam
Namun, dirinya tetap memilih bidang seni lantaran hal tersebut membuatnya senang, sampai pada akhirnya Kliwir menggeluti kesenian campursari dan memiliki grup sendiri di Jakarta.
Kliwir mengaku pernah mengiringi beberapa artis top seperti Mus Mulyadi, Tukul Arwana, sampai Inul Daratista. Dari relasi tersebut, dia berkesempatan terbang ke luar negeri pertama kalinya tepatnya di Singapura.
Selepas kepulangannya dari Negeri Singa, Kliwir membuka peruntungan baru dengan mendaftar sebagai Dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia pun kaget bisa diterima di kampus seni terbesar sekaligus institusi seni terbaik di Indonesia itu.
“Saya kan bangsawan, bangsawan tangi awan alias bangsawann bangun siang, kalau suruh pagi saya nggak bisa, karena saya malam-malam bekerja. Nah tiba-tiba daftar saya diterima, saya bingung,” ujarnya.
Baca juga: Dibakar Cemburu, GM Habisi MF Sepulang Kerja dari Kafe di Trikora
Alhasil, dia harus kembali melanjutkan pendidikan yang semula S1 menjadi S2. Perannya sebagai pendidik memungkinkannya menularkan ilmu beserta pengalamannya terhadap mahasiswa.
“Sukses menurut saya ketika berhasil membuat anak-anak didik saya menjadi sesuatu di masa kini atau mendatang, contohnya sekarang mahasiswa saya ada yang menjadi kurator. Itu menjadi kebanggaan tersendiri,” terang Kliwir.

Di samping itu, Kliwir adalah pekerja ulet. Dirinya selalu mengambil tiap kesempatan yang ada misalnya disuruh menjadi juri di suatu lomba atau menjadi narasumber seminar. Pasti Ia akan menerima tawaran itu semua asalkan jadwalnya tidak tabrakan.
Baca juga: PKBM LP Ma’arif Buka Pembelajaran Paket A dan B, Gandeng PKBM Insan Martapura
“Intinya berani mencoba aja, jangan takut salah karena salah itu awal mula dari sebuah kebenaran. Karena takut salah makanya tidak bisa, mencoba itu tidak apa-apa nanti kalau gagal ya bisa dicoba dan dikoreksi lagi,” bebernya.
Satu hal yang pasti adalah jangan sampai orang lain merenggut mimpi kita. Kalaupun ada kritik, sebaiknya jangan larut dalam kesedihan, anggap hal tersebut jadi introspeksi diri agar jadi pribadi yang lebih baik.
“Sekali lagi genggam erat mimpimu, jangan sampai orang lain mengganggu, mencedarai, atau mencuri mimpi Anda,” pinta Kliwir.
Terakhir, sebagai pekerja seni, dia menitip pesan kepada anak-anak muda agar senantiasa mencintai tradisi daerah, tak terkecuali musik tradisi di tempat masing-masing.
Baca juga: Jaga Warisan Alam, Narasemesta Jasindo di Tahura Sultan Adam Mandiangin
Tanpa musik tradisi, mungkin dirinya tidak dapat berada di titik di mana Ia bisa seringkali jalan-jalan ke luar negeri dan mendapat banyak pekerjaan.
“Cintailah tradisi karena tradisi akan membawa identitas dan jati diri bangsa,” tandas Kliwir. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
-
HEADLINE2 hari yang laluGubernur Kalsel Takkan Cabut Usulan Taman Nasional Meratus
-
HEADLINE2 hari yang lalu7 Tuntutan Pengunjuk Rasa di Kantor Gubernur Kalsel, Tolak Taman Nasional Meratus!
-
HEADLINE19 jam yang laluTolak Cabut Usulan Taman Nasional Meratus ‘Kado’ Hari Lingkungan Hidup Sedunia
-
HEADLINE2 hari yang laluBREAKING NEWS! Mahasiswa Demo di Kantor Gubernur Kalsel
-
HEADLINE2 hari yang lalu“Koin Keadilan” untuk Warga Sidomulyo 1 Banjarbaru
-
Kalimantan Selatan1 hari yang laluMahasiswa Banua Anam Minta Wilayah Hulu Sungai Diperhatikan

