Connect with us

RELIGI

Tabligh Akbar Bersama Guru Bakhiet

Diterbitkan

pada

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

AMUNTAI, Pemerintah Kabupaten HSU menggelar Tabligh Akbar bersama KH Muhammad Bakhiet -Guru Bakhiet- Pimpinan Ponpes dan Majelis Dzikir Wata’lim Darul Muhibbin Barabai, Rabu 24 Oktober 2018.

Acara berlangsung di Aula KH Dr Idham Chalid dihadiri alim ulama bersama Bupati HSU, Wakil Bupati HSU, Wakil Ketua TP PKK HSU, Forkopimda, kepala SKPD, dan warga HSU.

Acara diawali dengan pembacaan doa yang dipimpin Habib Hamid Al Habsy, dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al Qur’an yang dibawakan Qori Ahmad.





Bupati HSU H Abdul Wahid HK mengatakan sangat bersyukur bisa melaksanakan kegiatan ini. Dengan menuntut ilmu hendaknya lebih meningkatkan keimanan, menjalin silaturahmi, dan menambah amal ibadah.

Bupati mengingatkan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten HSU yang akan menghadapi masa-masa Pemilu supaya selalu menjaga suasana yang aman, damai, dan sejuk.

Acara dilanjutkan dengan ceramah agama oleh KH Muhammad Bakhiet atau yang akrab disapa Guru Bakhiet. Acara ditutup dengan jamuan makan malam bersama  alim ulama serta para jemaah di Mess Negara Dipa Pemkab HSU. (dew)

Reporter : Dew
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RELIGI

Gus Baha: Ada Sosok Pemabuk yang Dicintai Rasulullah SAW

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Gus Baha Foto: ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akhirnya menarik Perpres investasi industri minuman keras. Hal ini setelah menampung masukan pendapat dua ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah secara tegas menolak kebijakan pemerintah mengizinkan investasi industri miras di Indonesia.

Aturan yang dimaksud adalah Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang diteken kepala negara pada 2 Februari 2021. Aturan itu merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Dalam Islam minuman keras diharamkan. Namun siapa sangka, Rasulullah SAW pernah mencintai sahabatnya yang merupakan seorang pemabuk.

Nama sahabat itu adalah Nu’aiman. Kisah Nu’aim ini menurut pendakwah Gus Baha jarang diceritakan para kiai. Menurut Gus Baha, kisah tentang Nu’aiman ini dikonfirmasi dalam kitab Ihya Ulumuddin dan dibenarkan banyak perawi hadis.



Menurut Gus Baha, Nu’aiman adalah sahabat Nabi Muhammad SAW paling lucu. “Sahabat paling lucu dan paling membuat Nabi SAW senang itu bernama Nu’aiman,” kata Gus Baha.

Nu’aiman adalah seorang pengangguran. Kerjaannya tiap pagi jalan. Namun Nu’aiman punya kebiasaan buruk. Yaitu mabuk. “Kesukaannya itu mabuk. Mabuk beneran. Tapi bukan pengedar ganja,” ujar Gus Baha dilansir dari YouTube Santri Gayeng berjudul “Gus Baha: Tukang Minum yang Dicintai Rasulullah | Terjemah Indonesia”.

Tiap Nu’aiman mabuk selalu dihukum Nabi Muhammad SAW. Pernah suatu saat Nu’aiman meminta seorang pedagang makanan mengantar makanan ke Nabi SAW yang sedang ada di pasar.

Pedagang itu pun mengantar makanannya ke Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad SAW adalah orang baik hati, ia mengajak serta Nu’aiman makan bersamanya.

Selesai makan, Nu’aiman meminta Rasulullah SAW membayar makanannya. Sementara Rasulullah SAW mengira makanan itu traktiran Nu’aiman.

“Bukanlah. Anda (Nabi SAW) harus bayar. Masa rakyat jelata traktir seorang tokoh,” jawab Nu’aiman sebagaimana diceritakan Gus Baha. Akhirnya Nabi Muhammad membayar makanan itu. Menurut Gus Baha, peristiwa ini terjadi berkali-kali.

Gus Baha mengatakan, hadis tentang Nu’aiman ini merupakan berita gembira. “Makanya orang alim sering berkawan dengan orang fasik,” ujarnya.

Perilaku mabuk Nu’aiman ini bukan tidak diketahui Nabi Muhammad SAW. Menurut Gus Baha, Nabi Muhammad SAW menghukum Nu’aiman dengan 40-60 kali cambukan karena perbuatan mabuknya.

Gus Baha mengatakan, ada yang harus diingat dan dijelaskan dalam hadis Bukhari. Yaitu ketika Nu’aiman dihujat para sahabat. “Kau ini sahabatnya Nabi SAW, tapi tak tahu malu mabuk di hadapan beliau,” kata para sahabat ke Nu’aiman.

Sahabat lalu melaknat dan memaki-maki Nu’aiman karena perbuatannya sering mabuk ketika bertemu Rasulullah SAW. Akan tetapi, kata Gus Baha, Nabi Muhammad SAW malah membela Nu’aiman.

“Kalian jangan senang menghujat Nu’aiman karena dia cinta Allah dan Rasul-Nya,” sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan Gus Baha.

Dalam Syarah Bukhari di Kitab Fath Al-Bari karangan Ibnu Hajar Al Asqalani, ujar Gus Baha, tertulis “Tidak termasuk syarat cinta Allah dan Rasul, harus terbebas dari semua dosa”.

“Buktinya Nu’aiman yang mabuk di depan Nabi SAW dan Nabi SAW mengetahui kesalahan itu, namun Nabi SAW menyebut Nu’aiman sebagai orang yang mencintai Allah dan Rasul,” ucap Gus Baha.

Gus Baha pun mengingatkan orang-orang yang berlebihan dalam beragama bahwa banyak orang-orang nakal yang mencintai Allah dan Rasul.

Gus Baha mencontohkan tukang zina jika disuruh memilih mencium tangan germo atau mencium tangan kiai maka akan memilih mencium tangan kiai. Ini karena mereka masih memiliki nurani untuk menilai mana yang benar dan salah.

“Logikanya kan pezina akan lebih memilih mencium tangan germo karena mencarikannya uang, sementara kiai kan jadi penghalang (moral). Tapi manusia itu kalah dengan nuraninya. Pezina tidak mungkin mencium tangan germonya tapi bakal mencium tangan kiai. Padahal kiai itu problem moral baginya,” jelas Gus Baha.

Maka itu Gus Baha meyakinkan bahwa nurani manusia tidak bisa dimatikan. Menurutnya, fatwa ini memang tidak lazim di dunia orang-orang soleh yang tidak mengaji. Tapi di lingkaran ulama mengaji, lanjut Gus Baha, fatwa seperti ini lazim.

Menurut Gus Baha, dunia orang soleh yang tidak mengaji itu bikin repot karena orang harus steril dari dosa untuk mencintai Allah. Kata Gus Baha di kalangan orang-orang seperti itu banyak beredar kalimat “Cinta kok melanggar syariatnya? Cinta macam apa”.

Menurut Gus Baha mencintai itu tanpa syarat. “Allah lebih layak dicintai. Dan yang mencintai Allah boleh siapa saja. Ini yang paling sulit di dunia ulama,” ujar Gus Baha.

“Imam Ibnu Hajar bilang bersih dari dosa bukanlah syarat mencintai Allah karena buktinya Nu’aiman mabuk dan Rasulullah SAW tahu itu. Jika Rasulullah SAW tidak tahu, orang bisa mentakwil hukum ketidaktahuan Nabi SAW tentang kemaksiatan itu. Sehingga Nu’aiman disebut sebagai orang yang mencintai Allah dan Rasul,” terang Gus Baha.

“Dan Rasul SAW tahu betul perilaku Nu’aiman itu. Lha wong sering ditipu bahkan berkali-kali. Nabi SAW kerap ditipu (Nu’aiman) tapi Nabi SAW hanya senyum,” lanjut Gus Baha.

Nabi SAW pun sampai bersabda “Aku itu belum pernah dibuat gembira orang seperti Nu’aiman membuatku gembira”. Menurut Gus Baha, orang mabuk seperti Nu’aiman itu omongannya tidak sopan jadi kalau guyon dengan Nabi SAW vulgar. (kanalkalimantan.com/suara)

Editor: suara

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

Tujuh Sesat Pikir dalam Ilmu Aqidah yang Perlu Diluruskan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Ilmu aqidah atau yang juga dikenal dengan ilmu kalam memiliki pembahasan yang sangat luas. Paradigma pembahasnya pun beraneka ragam. Ada yang sangat tekstual, ada pula yang kebablasan mengedepankan rasio dalam disiplin ilmu ini. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) memainkan peran sangat vital dalam menjaga sikap moderat di antara keduanya. Mereka mendasarkan diri pada argumentasi nalar yang seimbang dalam menyikapi teks Al-Qur’an dan hadits. Di antara ulama Aswaja yang sangat berperan dalam menjaga benteng aqidah adalah Syekh Muhammad bin Yusuf as-Sanusi.

Menurut Syekh Muhammad bin Yusuf as-Sanusi dalam kitab Muqaddimah Sanusiyyah, terdapat tujuh sumber kesesatan dalam ilmu aqidah yang harus kita waspadai, yaitu:

Pertama, penciptaan sebagai kewajiban bagi Allah sang pencipta.

Ini adalah kesesatan yang menjalar di kalangan para filsuf Yunani di masa lampau yang meracuni beberapa sekte menyimpang dalam Islam di kemudian hari. Mereka berkeyakinan bahwa eksistensi Tuhan diukur dengan bukti adanya penciptaan berupa alam semesta. Para filsuf Yunani berkeyakinan seandainya Tuhan tidak menciptakan alam semesta maka Tuhan tidak diyakini ada. Selain itu, mereka juga berkeyakinan bahwa alam semesta dan Tuhan adalah dua entitas yang saling terkait dan wujud secara bersamaan. Dengan dalih inilah mereka menyatakan alam adalah qadim (dahulu) sebagaimana Tuhan.



 

Para filsuf menggambarkan hal ini dengan dua jalur analogi yaitu:

1.Pendekatan asal muasal (‘illat). Mereka meyakini bahwa Tuhan adalah entitas asal muasal (‘illat) dari terciptanya alam semesta. Sehingga mereka meyakini Tuhan dan alam semesta adalah satu kesatuan yang wujud di waktu yang sama (zaman ‘azali). Hal ini dianalogikan dengan bergetarnya jari manusia dan cincin yang dipakai secara bersamaan tanpa ada jeda waktu di antara keduanya.

2.Pendekatan tabiat (tab’i). Mereka meyakini bahwa Tuhan adalah entitas yang terpaksa dan manjadi sebuah keharusan untuk menciptakan alam semesta agar dapat diakui sebagai Tuhan. Dalam artian, mereka meyakini bahwa Tuhan tidak memiliki pilihan lain selain menciptakan alam semesta. Hal ini dianalogikan dengan api yang membakar kayu yang seandainya api tak dapat membakar kayu tentu api tersebut tak dapat diakui sebagai api secara tabiatnya.

Tentu di sini, ulama Aswaja menolak pendapat para filsuf tersebut. Karena menurut ulama Aswaja, Allah menciptakan alam semesta sebagai bentuk pilihan yang Allah kehendaki bukan atas dasar keterpaksaan ataupun kewajiban. Sebagaimana dalam Al-Qur’an:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (٦٨)

“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha suci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (QS Al-Qashash: 68).

Perlu dicatat bahwa menurut ulama Aswaja sifat menciptakan adalah sifat Jaiz yang bermakna Allah berhak untuk menciptakan ataupun tidak menciptakan tanpa ada paksaan apa pun. Sedangkan, alam semesta adalah ciptaan Allah yang bersifat hadits (baru datang) bukan suatu yang qadim (dahulu).

Kedua, kebaikan secara akal adalah kewajiban bagi Allah.

Awalnya sesat pikir ini diproklamasikan oleh ajaran Brahmana dari kebudayaan India kuno yang meracuni sekte Muktazilah di kemudian hari. Mereka berkeyakinan bahwa Tuhan harus menciptakan hal yang baik secara akal. Sehingga mereka meyakini ajaran yang diajarkan Tuhan harus baik secara akal dan Tuhan tidak boleh berbuat buruk dalam bentuk apa pun. Karena itu, ajaran Brahmana melarang pemeluknya memakan daging hewan karena tidak mungkin ajaran Tuhan mengajak mereka menyembelih hewan. Menurut mereka, menyembelih hewan adalah perbuatan buruk secara akal karena menyakiti makhluk lain.

Kesesatan ini dilanjutkan oleh sekte Muktazilah yang menyatakan bahwa akal adalah timbangan utama mengenai kebaikan dan keburukan. Maka, menurut sekte Muktazilah syariat harus sesuai dengan kebaikan dan keburukan secara akal. Selain itu, Tuhan juga tidak boleh menimpakan musibah ataupun keburukan kepada hambanya karena hal tersebut buruk secara akal.

Ulama Aswaja menolak paham tersebut. Menurut ulama Asy’ariyyah, baik dan buruk adalah berdasarkan syariat Islam. Maka, tidak ada keburukan secara syariat kecuali hal tersebut adalah larangan yang ditetapkan oleh syariat serta tidak ada kebaikan secara syariat kecuali hal tersebut adaalah perintah yang diserukan oleh syariat.

Ketiga, mengikuti ajaran yang sesat berdasarkan fanatisme.

Kesalahan yang sering dilakukan oleh pengikut aliran sesat adalah mereka terlalu fanatik dengan ajaran sesat yang mereka ikuti tanpa menimbang kesalahan aqidah mereka. Padahal, seandainya mereka mau memikirkan kembali hujjah argumentasi ilmiah para ulama Aswaja dalam menolak penyimpangan aqidah niscaya mereka akan bertobat dari kesesatan yang mereka ikuti. Karena pada dasarnya, ulama Aswaja dari zaman ke zaman selalu memakai pemikiran yang logis dan argumentasi yang kokoh dalam mempertahankan benteng aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Keempat, menjadikan adat kebiasaan sebagai landasan sebab akibat.

Hal ini ditunjukkan dengan keyakinan bahwa adanya sifat kenyang adalah imbas dari makan, adanya sifat terbakar adalah imbas dari api, adanya kesehatan adalah imbas dari obat dan sejenisnya. Kesesatan ini adalah imbas dari menafikan peran Allah sebagai dzat yang menciptakan sebab dan akibat. Padahal, ulama Aswaja telah menyatakan bahwa sebuah sebab tidak akan berimbas kepada akibat yang kita kenal secara adat kebiasaan kecuali dengan izin Allah. Misal contoh, api tidak akan berimbas membakar kecuali atas izin dan takdir Allah terbukti dengan kisah nabi Ibrahim yang dilemparkan ke dalam bara api dan beliau tidak terbakar atas izin dan takdir Allah.

Kelima, kesalahan pemikiran yang tidak sesuai dengan kebenaran.

Kita meyakini bahwa kebenaran yang sesuai dengan ajaran Baginda Nabi Muhammad adalah ajaran yang dilestarikan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah. Karena hal itu, sekte-sekte yang melakukan penyimpangan aqidah umumnya adalah imbas dari pemahaman yang salah dalam memahami ilmu aqidah yang benar. Misalnya, kesesatan sekte Khawarij dengan pemikiran radikalnya dan sejenisnya yang tentu berbanding terbalik dengan ajaran Aswaja yang moderat.

Keenam, memahami agama sebatas pemahaman tekstual.

Kesesatan pikir ini digaungkan pertama kalinya oleh sekte Khawarij, yakni ketika mereka berambisi untuk membunuh para pemimpin Muslim dengan dasar dalil tekstual “La Hukma Illa Allah (tidak ada hukum selain hukum Allah)”. Kemudian, kesesatan ini dilanjutkan oleh sekte Mujassimah, Wahabi, serta pengikut ajaran Ibnu Taimiyyah yang memahami Al-Qur’an dan hadits sebatas tekstual belaka. Misal contoh, mereka memahami Allah memiliki angggota tubuh sebagaimana makhluk, Allah bertempat di ‘Arsy, serta mereka juga menolak adanya takwil dalam memahami Al-Qur’an dan sejenisnya. Dan ulama Aswaja telah berulang-kali mematahkan argumentasi mereka.

Ketujuh, kelemahan dalam memahami dasar logika akal.

Kesesatan ini banyak terjadi lantaran mendasarkan diri pada tahayyul ataupun ajaran di luar agama Islam. Padahal, dengan nalar logika terendah pun dapat mematahkan argumentasi kesesatan mereka. Misalnya, secara logika Tuhan adalah Dzat yang tidak mungkin tersusun dari bagian-bagian, maka seandainya Tuhan tersusun dari bagian-bagian sebagaimana makhluknya niscaya Dia membutuhkan pencipta lain yang dapat menyusun tubuh-Nya dan ini tidak mungkin secara akal. Karena, pada dasarnya Allah memiliki sifat Mukhalafat lil-Hawadits (berbeda dari makhluknya).

Muhammad Tholhah al Fayyadl, Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo. (nuonline)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->