Connect with us

kampus

“Reset Indonesia” Mengungkap Akar Masalah Indonesia, Buka Nalar Kritis

Diterbitkan

pada

Bedah buku “Reset Indonesia” yang diinisiasi tiga komunitas yaitu Extinction Rebellion (XR) Indonesia, Sekolah Rakyat Kalimantan Selatan, dan Litera ULM, Rabu (25/2/2026) sore. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – “Mengapa air keran di Indonesia tak bisa langsung diminum?”, satu kalimat pembuka dalam cover belakang dari buku berjudul Reset Indonesia.

Ungkapan ini sekaligus jadi pemantik dalam bedah buku Reset Indonesia yang diinisiasi tiga komunitas yaitu Extinction Rebellion (XR) Indonesia, Sekolah Rakyat Kalimantan Selatan, dan Litera Universitas Lambung Mangkurat (ULM), di kampus FISIP ULM Banjarmasin, Rabu (25/2/2026) sore.

Koordinator XR Meratus, Wira Surya Wibawa memandang analogi air keran menjadi tamparan bagi Indonesia yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), akan tetapi warga negaranya tidak bisa merasakan sepenuhnya kekayaan tersebut.

Baca juga: Bangun Konektivitas Trans Banjarbakula dengan Layanan Feeder di Kalsel

Lelaki yang akrab disapa Bung Wira ini menyebut penyebabnya berakar dari kapitalis-kapitalis yang mengambil hak rakyat dalam mengelola SDA untuk memperkaya segelintir pihak. Mereka menjadikan air sebagai ladang bisnis, sehingga warga terpaksa harus membeli untuk menikmatinya.

“Air yang harusnya bisa dinikmati di mana saja kapan saja, tapi dibisnisin dan diperjualbelikan segelintir orang, sedangkan yang lainnya harus bekerja membeli air. Padahal airnya ada di tanah, tapi tidak bisa langsung kita minum, karena harus melalui pabrik untuk memperkaya korporasi,” ujarnya.

Buku yang ditulis Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu membahas tentang pengungkapan fakta hasil perjalanan dan temuan di lapangan. Isinya memuat keadaan Indonesia terkini dari Sabang sampai Merauke.

Kerusakan lingkungan, Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menguntungkan berbagai pihak, privatisasi tanah dan air, pembangunan tidak merata, sosial ekonomi masyarakat, daerah-daerah tertinggal, disparitas pendidikan kota dan desa, si kaya dan si miskin.

Baca juga: Hj Raudhah Ikuti Majelis Tilawah Antarbangsa DMDI, Bupati Banjar Minta LPTQ Beri Dukungan dan Fasilitas Terbaik

“Semuanya menarik untuk kita bedah agar cerita-cerita ini lekat, sehingga anak muda bisa melakukan perubahan sekecil apapun,” jelas Bung Wira.

Reset Indonesia membuka nalar kritis untuk memandang Indonesia lebih jauh. Bung Wira menganggap buku ini seperti novel, tetapi menyajikan fakta dan cerita-cerita beberapa daerah yang merupakan realita di negeri ini.

“Buku ini menyadarkan kita untuk berpikir kritis, belajar membuka cakrawala pandangan di sekitar kita dan peran kita sebagai anak muda untuk menyuarakan isu-isu yang diluapkan di buku tersebut,” pungkasnya.

Mahasiswi Ilmu Pemerintahan Fisip ULM, Nisa. Foto: fahmi

Baca juga: Safari Ramadan ke Martapura Timur, Wabup Banjar Ajak Masyarakat Makmurkan Masjid

Sementara itu, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan ULM, Nisa menuturkan, Reset Indonesia mengajarkan bagaimana merubah pola pikir yang tidak disadari oleh orang awam.

“Dari buku ini, jadi tahu oh ternyata Indonesia kayak gini ya. Sekecil air keran yang tidak bisa langsung diminum itu jadi pemantik berpikir,” ucap mahasiswa FISIP ULM itu. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca