Connect with us

HEADLINE

Menilik SDK Ambatunin di Pedalaman Meratus: Ada Murid 20 Tahun, Bertahan dengan Keterbatasan

Diterbitkan

pada

SDK Ambatunin yang tetapmenjalankan aktivitas pembelajaran di tengah keterbatasan dan kesederhanaan di pedalaman Pegunungan Meratus. Foto: Forum Gerakan Buku Meratus

KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN – Di Dusun Ambatunin tepatnya di Desa Uren, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, hadir sebuah Sekolah Dasar Kecil (SDK) Ambatunin yang bertahan dengan kesederhanaan dan keterbatasan akses.

Menjadi satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak pedalaman Pegunungan Meratus, sekolah ini hanya memiliki dua ruang kelas dan satu bangunan kantor terpisah.

Muridnya sendiri terdiri dari 13 peserta didik dengan kelompok usia beragam. Bahkan, ada peserta didik yang berusia 17 dan 20 tahun masih terjebak di bangku sekolah dasar.

Baca juga: Penataan Kawasan Sekumpul, Pemkab Banjar Perbaiki Drainase Gang Taufik

Adalah Lana, murid kelas VI yang sudah berusia 20 tahun. Perempuan ini tetap semangat menempuh pendidikan terpancar tinggi di dalam dirinya.

Salah satu relawan Ekspedisi Gerakan Buku Meratus II, Irfan Naufal yan sempat berkunjung ke SDK Ambatunin menyebut penyebab peserta didik usia 20 tahun yang masih menuntut ilmu di bangku SD ialah mereka masih memiliki kompetensi sama dengan anak SD lain.

“Mereka kalau mau melanjutkan ke jenjang selanjutnya harus turun gunung selama 5 jam menuju Halong dan harus melewati jalur hauling,” ujarnya, kepada Kanalkalimantan, Kamis (9/4/2026) siang.

Baca juga: 1.523 Karateka Berlaga di Kejuaraan Karate Piala Pangdam XXII 2026

Keterisolisasian Dusun Ambatunin membuat sekolah tersebut belum memiliki akses jaringan seluler maupun internet. Tak hanya itu, wilayah yang cuma memiliki belasan kepala keluarga itu masih mengandalkan tenaga surya atau solar cel untuk penerangan.

Kepala Sekolah SDK Ambatunin, Lelu Dinata menganggap bahwa mengajar di tempat tersebut adalah sebuah pengabdian. Baginya, keterbatasan akses tidak jadi alasan untuk mengabaikan pendidikan.

“Jika sudah berjanji untuk mengajar, maka dalam kondisi apapun harus sampai ke lokasi,” tutur Lelu.

Baca juga: 1.523 Karateka Berlaga di Kejuaraan Karate Piala Pangdam XXII 2026

Lebih jauh, kondisi medan yang berat memaksa para murid dan guru harus berjalan kaki selama 4 jam lamanya untuk sampai ke SDK Ambatunin.

Alih-alih mengeluh, tenaga pengajar SDK Ambatunin menjadikan kendala tersebut sebagai motivasi untuk terus hadir memberikan pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil.

Lantas, sekolah tersebut sangat memerlukan perhatian lebih dari semua elemen, terutama pemerintah dan perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di kawasan sekitar.

Baca juga: Kota Banjarbaru Perkuat Pengolahan Sampah Berbasis Masyarakat

Pembangunan akses dan dukungan terhadap pendidikan sangat dibutuhkan, misalnya bantuan papan tulis maupun alat tulis.

Sekolah terpencil di dalam hutan Meratus ini punya hak untuk hidup sejahtera dan layak bersekolah. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca