Kesehatan
Kelelahan Emosional Jadi Masalah Terbesar dalam Kesehatan Mental
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Momentum World Mental Health Day 2025 menjadi peringatan bagi kita betapa pentingnya apa yang disebut kesehatan mental.
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dilakukan terhadap lebih dari 5.000 remaja Indonesia umur 15-24 tahun dari tahun 2018-2021 menunjukkan bahwa di antara tiga remaja Indonesia, terdapat satu yang menderita masalah kesehatan mental.
Faktor risikonya pun beragam mulai dari perundungan, sistem pendidikan, tekanan teman sebaya, keluarga, hingga perilaku seks.
Hal ini ternyata tidak hanya berlaku pada remaja melainkan orang yang telah menikah. Berdasarkan survey, dari 110 pasangan di Indonesia, 100 di antaranya mengalami luka pengasuhan serta belum mampu memulihkannya.
Baca juga: Tim Investigasi Independen BGN Periksa SPPG Tungkaran, Operasional Dihentikan
Praktisi kesehatan mental, Rimalia Karim mengatakan, masalah terbesar dari kesehatan mental jika melihat dari pengalaman menangani klien adalah kelelahan emosional.
“Masalah terbesar saat ini adalah kelelahan emosional yang mungkin tidak kita sadari dan memang kemampuan mengelola emosi yang sangat minim,“ ucap Rimalia, Jumat (10/10/2025).
Hal ini diperkuat oleh Survey Dandiah Care Center yang mendapatkan bahwa 90% remaja Indonesia tidak mampu mengelola emosi mereka.
Di zaman yang serba cepat dan instan ini membuat kita lupa untuk sekadar me time atau meluangkan waktu terhadap dirinya sendiri.
Rimalia menjelaskan, banyak orang yang terus menjalani hidupnya dengan mode otak reptil atau otak bertahan yang selalu menekan perasaan mereka serta menuntut diri untuk selalu kuat.
Baca juga: Menjawab Keluhan Banjir, Kolam Retensi Guntung Jingah Diresmikan
“Bahkan mereka lupa memberi ruang bagi mereka untuk bisa beristirahat secara batinnya,“ ungkapnya.
Kondisi itu membuat kita tidak sempat membersihkan sampah-sampah emosi kita yang menyebabkan mudah marah, cepat lelah, kehilangan semangat, sulit tidur, bahkan merasa hampa tanpa tahu penyebabnya.
“Ini bukan karena mereka lemah ya, tapi
sebenarnya karena tubuhnya terlalu lama menahan beban, terlalu lama tidak menyalurkan sampah-sampah emosi mereka,” jelas Rimalia.
Di samping itu, rendahnya literasi kesehatan mental juga menjadi tantangan terbesar sebab masih banyak yang takut mengakui jika dirinya tidak baik-baik saja entah karena dianggap aneh atau kurang beriman.
“Padahal meminta bantuan ini sebenarnya adalah langkah awal menunjukkan bahwa kita sudah memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, jadi patut diapresiasi,“ terangnya.
Baca juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia dari Kaca Mata Praktisi
Untuk mengatasinya bisa dimulai dengan menormalisasikan percakapan soal perasaan di rumah, sekolah, sampai lingkungan pekerjaan.
“Kita perlu membiasakan nanyain bagaimana kabar. Bukan hanya sekadar selama ini kan kebanyakan tanyanya sudah makan atau belum, kalau orangtua sudah mengerjakan PR atau belum,“ hematnya.
Memperbanyak ruang edukasi publik dan pelatihan-pelatihan dasar yang mendukung kesehatan mental juga tak kalah penting.
“Bagaimana cara orang merespon seseorang yang sedang mengalami kesulitan tanpa menambah luka dengan kalimat-kalimat yang nyaman dan tidak menghakimi,“ tukasnya.
Rimalia yakin jika empati ini terus ditanamkan maka stigma negatif akan menghilang secara perlahan.
Baca juga: KH Maman Imanulhaq Bawa Mahasiswa Kunjungi PCNU Kabupaten Banjar
“Ketika kondisi seperti ini terjadi, seolah dari sanalah kesadaran untuk mencari pertolongan akan semakin kuat pada masyarakat kita,“ sambungnya.
Baginya, kesehatan mental ini bukanlah hal sepele sebab di sanalah sumber ketenangan, kebahagiaan, kualitas hubungan sesama manusia bahkan hubungan manusia dengan penciptanya.
“Sehat mental bukan berarti kita tidak boleh sedih, tidak boleh marah atau kecewa. Sehat mental berarti kita mampu menyadari, menerima, dan mengelola emosi dengan bijak,“ ujar Rimalia.
Hal ini menurutnya cara yang paling sehat tanpa menyakiti diri maupun orang lain. Masih banyak orang yang menganggap diri mereka baik-baik saja padahal terluka secara batin.
“Tidak semua orang berani ngasih tahu bahwa dia tidak baik-baik saja bahwa dia tertekan, tersinggung, sakit hati. Jika merasa seperti itu tidak ada salahnya menghubungi profesional,“ sambungnya.
Layaknya tubuh, luka batin juga perlu dirawat sebelum menjadi lebih parah. Jangan menunggu hancur dulu baru ingin disembuhkan.
Di Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun ini, Rimalia menitip pesan sederhana. “Rawatlah pikiran dan perasaanmu seperti kamu merawat tubuhmu,” pintanya.
Bagi siapapun yang sedang berjuang mengobati luka batinnya, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian dan bukan hal buruk apabila mengakui bahwa kita terluka.
“Kita tidak harus selalu kuat, kadang yang paling berani itu justru mereka yang mengakui bahwa mereka sedang lelah, mereka sedang memilih sembuh, dan mereka yang sedang berproses,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
-
Kota Banjarmasin2 hari yang laluIni Aturan Warung Makan Selama Ramadan di Banjarmasin
-
HEADLINE3 hari yang laluHendak Tawuran, 16 Remaja Bawa Sajam Diamankan
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara2 hari yang laluBerbagi Semangat Mengaji dengan Dansatgas TMMD di TPA Al Ikhlas
-
HEADLINE2 hari yang laluMalam Imlek Penuh Khidmat di Klenteng Karta Raharja Banjarmasin
-
Lifestyle2 hari yang laluIni Makna di Balik Shio Kuda Api Imlek 2026
-
Kota Banjarmasin1 hari yang laluArti Warna Merah dalam Tradisi Imlek

