Connect with us

Dishut Prov Kalsel

Diajarkan Cinta Hutan dan Lingkungan Sejak Dini, Dishut Kalsel Ingin Tiru Finlandia

Diterbitkan

pada

Pola pendidikan di Finlandia sudah mengajarkan cinta hutan dan lingkungan sejak dini. Foto : net

BANJARBARU, Semakin hari kian banyak saja permasalahan kehutanan dan lingkungan yang harus dihadapi manusia. Mulai dari bencana alam sampai bencana yang muncul akibat kelalaian dari ulah manusia sendiri, namun tanpa disadari. Tidak bisa dipungkiri, seiring berkembangnya zaman, kemampuan manusia untuk memiliki sikap cinta lingkungan juga semakin berkurang.

Hal ini terjadi karena manusia masa kini lebih mementingkan perkembangan teknologi dan kebudayaan modern, daripada berpikir tentang bagaimana cara mencegah banjir dan tanah longsor. Meskipun kelihatannya sepele, memiliki empati terhadap lingkungan sekitar merupakan kemampuan yang harus dimiliki setiap orang, namun rasa memiliki terhadap hutan dan lingkungan tersebut masih sangat sulit ditumbuhkan kepada setiap orang.

Jika bercermin dari negara Finlandia di belahan Eropa Utara, sebuah negara yang berbatasan dengan Swedia di bagian barat Eropa. Kayu adalah “emas hijau” bagi Finlandia. Hampir tiga perempat dari luas daratan negara itu adalah hutan. Jika dihitung, Finlandia memiliki sekitar 5 hektare hutan untuk setiap orang di negerinya. Ternyata kesadaran akan menumbuhkan kecintaan terhadap hutan dan lingkungan di Finlandia ditanamkan sejak usia dini alias sejak masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap hutan dan lingkungan di Finlandia yang ditanamkan sejak PAUD itu menjadi rencana adopsi Pemprov Kalsel melalui Dinas Kehutanan (Dishut) Kalsel agar dapat direalisasikan di Kalsel.

Begitu disampaikan Sekretaris Dishut Kalsel Warsita SHut MP saat ditemui Kanalkalimantan.com, Kamis (17/1).

Menurut Warsita, wacana untuk menumbuhkan akan pentingnya menanamkan pengenalan pendidikan huta dan lingkungan hidup di jejang PAUD hingga pergurua tinggi diyakini dapat mengubah pola pikir masyarakat terhadap pentingnya hutan dan lingkungan.

Kenapa anak-anak? Karena mereka seperti kertas putih yang kosong dan tidak berisi. Jika sejak kecil mereka sudah diajari hal-hal yang baik, ketika tumbuh dewasa anak akan menjadi seseorang yang bermanfaat.

“Kita akan coba masukkan kurikulum menanam sejak pendidikan tingkat usia dini, sehingga dapat mengubah pola pikir sejak kecil, sehingga ketika anak besar lebih mencintai hutan dan lingkungan,” beber pria yang sudah 31 tahun bergelut di bidang kehutanan ini.

Lebih jauh Warsita menambahkan, rencana tersebut apabila terlaksana, dari segi kurikulum tentu harus berkalaborasi dengan stakeholder pendidikan, semisal menggandeng penyuluh kehutanan hingga akademisi membantu kegiatan di lapangan.

“Jika sejak kecil sudah ditanamkan sikap untuk berempati terhadap lingkungan sekitar, bukan tidak mungkin saat dewasa mereka akan turut serta dalam menyelamatkan lingkungan yang sebelumnya gagal diselamatkan karena kelalaian dan ketidakpedulian kita,” bebernya.

Pada dasarnya dalam rangka menumbuhkan kecintaan terhadap hutan dan lingkungan sejak usia dini melalui pengenalan ekosistem hutan dan fungsinya bagi kehidupan. Sudah pernah digadangkan oleh Dishut Kalsel melalui program revolusi hijau.

“Salah satu sarana untuk meningkatkan wawasan dan kecintaan anak-anak terhadap lingkungan, khususnya hutan dan komponen yang ada didalamnya, sudah kita masukan dalam program revolusi hijau,” akunya.

Dikatakan Warsita, Pemprov Kalsel menargetkan melakukan penanaman hingga 34 juta bibit setiap tahun guna mendukung program revolusi hijau tersebut.

“Kita ditargetkan menanam 34 juta bibit untuk program revolusi hijau di Kalsel,” pungkasnya. (rendy)

Reporter:Rendy
Editor:Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares
-->