Connect with us

HEADLINE

Puncak Haji, 6 Jemaah Embarkasi Banjarmasin Diikutkan Safari Wukuf

Diterbitkan

pada

Wukuf di Padang Arafah menjadi ritual puncak ibadah haji. Foto: kalsel.haji.go.id

KANALKALIMANTAN.COM, MEKKAH – Empat jemaah haji asal Embarkasi Banjarmasin harus menjalani safari wukuf di Padang Arafah.

Berdasarkan hasil laporan petugas kloter BDJ 01 hingga BDJ 19, terdapat empat orang jemaah haji asal Embarkasi Banjarmasin yang dinilai kurang sehat, sehingga diikutkan dalam program safari wukuf.

Sementara dua jemaah lainnya saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS).

Baca juga: Baznas HSU Salurkan 10 Hewan Kurban

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Dr H Eddy Khairani, mengatakan, jemaah yang menjalani perawatan di RSAS nantinya tetap akan difasilitasi mengikuti prosesi wukuf melalui program safari wukuf dengan angkutan khusus ambulans.

“Bagi jemaah yang dinilai kurang sehat di kloter atau yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi akan diikutkan safari wukuf oleh pemerintah Indonesia melalui Daerah Kerja Mekkah menggunakan angkutan khusus seperti bus atau ambulans,” ujarnya, dikutip dari kalsel.haji.go.id

Menurut Eddy Khairani, program safari wukuf merupakan bentuk pelayanan khusus bagi jemaah sakit atau jamaah dengan kondisi kesehatan tertentu agar tetap dapat melaksanakan rukun haji tanpa harus mengalami kelelahan berlebih.

Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memastikan seluruh jamaah memperoleh kesempatan menjalankan ibadah haji secara maksimal sesuai kemampuan fisik masing-masing.

Baca juga: Akhiri Ajang Popda 2026, Kabupaten Banjar Raih Perak di Cabor Voli Putra

Kondisi jemaah haji Embarkasi Banjarmasin secara umum masih relatif terkendali dan mayoritas dalam keadaan sehat. Petugas kesehatan dan petugas kloter terus melakukan pemantauan intensif, terutama menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Petugas kesehatan terus melakukan pemeriksaan dan pendampingan kepada jemaah yang memiliki risiko tinggi, terutama lansia dan jemaah dengan penyakit bawaan agar tetap dapat mengikuti rangkaian ibadah dengan aman,” tambahnya.

Selain program safari wukuf, pemerintah mengikutsertakan jemaah prioritas seperti lansia, jemaah uzur, dan disabilitas dalam program murur. Melalui program tersebut, jemaah tidak perlu turun dan bermalam di Muzdalifah, melainkan hanya melintas sebelum langsung menuju tenda di Mina.

“Sedangkan untuk jemaah lainnya yang prioritas seperti lansia, jemaah uzur, dan disabilitas sebagian ada yang diikutkan dalam program murur, yaitu dari Arafah melintas Muzdalifah langsung menuju tenda Mina,” jelas Eddy Khairani.

Baca juga: Gelar Rakor Kecamatan, Bupati Banjar Menitikberatkan Pembahasan 4 Program

Program murur dinilai sangat membantu jemaah dengan keterbatasan fisik karena dapat mengurangi tingkat kelelahan di tengah padatnya pergerakan jemaah saat puncak haji. Dengan sistem tersebut, jemaah prioritas tetap dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan aman.

“Kami berharap seluruh jemaah tetap menjaga kesehatan, memperbanyak istirahat, dan mengikuti arahan petugas agar seluruh rangkaian ibadah haji dapat berjalan lancar,” pungkasnya.

Berbagai skema pelayanan seperti safari wukuf dan murur, diharapkan seluruh jemaah haji asal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat menjalankan ibadah dengan baik serta kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan memperoleh haji yang mabrur. (Kanalkalimantan.com/bie)

Reporter: bie
Editor: kk


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca