Connect with us

Budaya

Menilik Musik Tradisi Kalsel Dalam Perspektif Etnomusikologi

Diterbitkan

pada

Seniman, Warsana Kliwir saat memaparkan materi Dialog Etnomusikologi. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Istilah etnomusikologi mungkin masih belum terdengar familiar bagi sebagian orang.

Dalam Dialog Etnomusikologi yang digelar di Taman Budaya Kalsel beberapa waktu lalu, salah satu pembicara, Warsana Kliwir menjelaskan secara mendalam terkait arti dari cabang ilmu ini.

Menurutnya, etnomusikologi adalah segala sesuatu yang mempelajari tentang musik di wilayah etnis tertentu. Namun, ruang lingkupnya tidak terbatas hanya musik saja, tapi meluas salah satunya budaya.

“Karena musik itu kan ada latar belakang yang menjadi pemicunya atau konteksnya, sehingga musik itu terbentuk,” kata Kliwir, Rabu (20/8/2025).

Baca juga: Jasindo Lengkapi Akses Internet di Spot Paralayang Tahura Sultan Adam

Seiring perkembangan zaman, cakupan etnomusikologi menjadi semakin banyak. Salah satunya etnomusikologi terapan, dimana penelitian yang berhubungan dengan cabang ilmu ini nantinya bisa diaplikasikan menjadu suatu karya.

Ambil contoh, penduduk di etnis tertentu memilki sebuah fenomena khusus kemudian dari fenomena yang terkandung permasalahannya di dalamnya itu ditangkap sehingga menciptakan satu karya musikal.

“Bagaimana konflik itu untuk tidak kemudian melebar menjauh dengan media musik. Bagaimana musik bisa melebur menjadi satu kesatuan untuk mendamaikan sebuah konflik, itulah wilayah-wilayah etnomusikologi,” ungkap Kliwir.

 

Baca juga: Dibakar Cemburu, GM Habisi MF Sepulang Kerja dari Kafe di Trikora

Oleh sebab itu, peran etnomusikologi dalam dunia musik sangatlah penting bukan melulu berbicara soal orientasi dalam penciptaan karya musiknya melainkan bagaimana mendokumentasikan karya-karya musik yang ada di sekeliling.

“Kadang kita lupa bahwa kita punya karya dan peninggalan, tapi tanpa ada yang mendokumentasikan. Nah, di sinilah etnomusikologi bisa dimanfaatkan,” jelas Kliwir.

Lalu pertanyaannya, bagaimana musik tradisi Kalimantan Selatan (Kalsel) jika dilihat dari kacamata etnomusikologi?

Menurut Kliwir, Kalsel hampir mirip dengan Jogja sebagai miniatur Indonesia yang terbuka untuk semua. Berbagai artis pun sudah tumbuh berkembang di Kalsel sebagai satu kesatuan.

Baca juga: PKBM LP Ma’arif Buka Pembelajaran Paket A dan B, Gandeng PKBM Insan Martapura

Berdasarkan hasil observasi melalui susur Sungai Martapura di Banjarmasin, Kliwir mengatakan musik tradisi Kalsel kaya akan potensi. Hal sederhana seperti percikan air sungai atau bunyi klotok sebenarnya bisa dijadikan mahakarya musik.

“Dari hal sederhana contohnya bunyi mesin klotok, seperti tok tok tok itu bisa jadi karya musikal asal ada kemauan,” jelas Kliwir.

Musik tradisi Kalsel mesti digalakkan, dinikmati, serta yang paling utama adalah merasa memiliki supaya bisa dijaga, dilestarikan, dan dikembangkan.

“Tapi kalau anak-anak antipati atau cuek terhadap itu, maka hal tersebut tidak akan berjaya. Makanya itu harus merasa memiliki karena terus merasa memiliki maka dia akan sayang,” sambung Kliwir.

Dari rasa sayang tersebut, generasi muda akan mengembangkan karya musik yang baru, inovatif, dan kreatif. Musik tradisi Kalsel sendiri bagi Kliwir sudah berkembang namun ruang-ruang pentas seperti festival harus dimasifkan lagi.

Baca juga: Jaga Warisan Alam, Narasemesta Jasindo di Tahura Sultan Adam Mandiangin

“Agar mereka diberikan ruang berkreasi bagi para seniman dan bagi para pemuda untuk bisa ikut andil dalam meramaikan kancah musik,” pungkasnya.

Sementara itu, musikus Otto Sidharta mengakui keunikan musik tradisi Kalsel khususnya di Kota Banjarmasin lantaran ada pencampuran dari ragam etnik di dunia.

Musikus, Otto Sidharta menganggap musik tradisi khususnya di Kota Banjarmasin berbeda dengan yang lain. Foto: fahmi

“Ada Melayu, Banjar, Dayak, Cina, Arab, Jawa dan pencampurannya itu halus jadi menarik,” ucap Otto, Selasa (19/8/2025).

Ambil contoh alat musik rebana dari Arab dan panting dari Melayu. Sama halnya dengan seni bertutur Madihin juga menggunakan cengkok-cengkok khas Melayu.

Dirinya mengibaratkan musik tradisi Kalsel sebagai aliran sungai yang mempunyai banyak hulu misalnya Sungai Martapura dan Sungai Barito.

Baca juga: Dugaan Pelanggaran Etik, DKPP RI Gelar Sidang Lima Komisioner KPU Kalsel

“Jadi sungai itu representasi dari banyaknya etnik yang terus berkumpul dan mudah berbaur, mengalir begitu saja,” tukas Otto.

Hal itulah yang membedakan Kota Banjarmasin dengan daerah lain lantaran sesuai dengan julukannya yaitu Kota Seribu Sungai.

“Makanya budaya di sini beda seperti sungai tadi bercampur di mana-mana dari satu ke satu sungai,” tambah Otto.

Komposer asal Bandung ini menitip pesan untuk terus mengembangkan musik tradisi Kalsel dengan menekankan aspek kejujuran.

“Karya seni itu hasil ekspresi keindahan, tapi kalau kurang jujur bikin musiknya itu cuman nyari duit. Tujuannya jadi komersil bukan ekspresi artistik lagi,” beber Otto.

Alih-alih memikirkan aspek ekonomi, seniman seyogyanya memprioritaskan kualitas terlebih dahulu sementara urusan komersil itu sampingan saja.

Baca juga: Jaring Bibit Potensial, Pemkab Banjar Gelar Bulu Tangkis Bupati Cup II

“Jadi kualitas musiknya dulu yang baik, kalau tujuannya mau jualan dulu ya susah,” imbuh Otto.

Lantas, Otto menyarankan adanya perbaikan kualitas musik tradisi Kalsel yang nantinya turut berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi daerah.

“Aspek pariwisata dan ekonomi yang baik itu akibat dari kualitas yang baik, jadi tujuannya mencoba memperbaiki kualitas,” tutupnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca