Connect with us

RELIGI

Sikap Muslim Terhadap Bencana

Diterbitkan

pada

Banjir yang terjadi di Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru pada Minggu (5/1/2020). foto: dok.kanalkalimantan

KANALKALIMANTAN.COM – Orang Islam sering kali mendiskusikan tema serupa terkait sebab bencana. Diskusi mereka biasanya berputar di sekitar Allah, maksiat, dan perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan sebagai sebab bencana.

Buku Fikih Kebencanaan Perspektif NU yang dikeluarkan oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jatim dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI) PWNU Jatim pada 2019 mengemukakan dua hal yang seharusnya menjadi sikap umat Islam dalam menghadapi bencana.

Buku ini mengemukakan sejumlah dalil yang dikutip dari Kitab Kasyifatus Saja karya Syekh M Nawawi Banten (1200 H ±) dan Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi (600 H ±). Secara akidah, umat Islam harus meyakini bahwa bencana yang melanda masyarakat berasal dari Allah sebagaimana Surat An-Nisa ayat 78.

قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

 

Artinya, “Katakanlah, ‘Semuanya (berasal) dari sisi Allah,’” (Surat An-Nisa ayat 78).

Umat Islam, dalam buku ini, juga harus menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi apapun itu termasuk bencana pada hakikatnya berasal dari Allah.  Hal ini menjadi bagian dari keimanan sebagai hadits Rasulullah SAW riwayat Imam Ahmad berikut ini:

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ المَرْءُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

 

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Seseorang tidak beriman sampai ia mengimani takdir yang baik dan yang buruk,’” (HR Ahmad). Meski secara hakiki segala sesuatu berasal dari Allah, umat Islam tetap perlu menjaga etika atau akhlak dan cara pandang terhadap takdir. Umat Islam perlu mengembalikan bencana sebagai sesuatu yang buruk pada manusia itu sendiri sebagaimana Surat An-Nisa ayat 79.

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

 

Artinya, “Kebaikan yang menimpamu (berasal) dari Allah dan keburukan yang menimpamu (terjadi) karena dirimu sendiri,” (Surat An-Nisa ayat 79).

Rasulullah juga mengajarkan akhlak kepada sahabatnya bahwa segala yang baik berasal dari Allah. Sedangkan semua yang buruk bukan berasal dari-Nya sebagaimana hadits riwayat Muslim berikut ini:

 

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

 

Artinya, “Seluruh kebaikan ada dalam kuasa-Mu dan keburukan tidak dinisbahkan kepada-Mu.” (HR Muslim).

Jadi meski semuanya berasal dari Allah, manusia dituntut untuk menyatakan akhlak perihal bencana sebagai sesuatu yang berasal dari kekhilafan, kesalahan, kekeliruan, kezaliman manusia itu sendiri.

Kepercayaan terhadap takdir ini tidak menafikan kewajiban ikhtiar manusiawi. Kepercayaan kepada takdir merupakan bentuk keimanan kepada Allah. Sedangkan secara lahiriah, manusia perlu mengevaluasi dan mengintrospeksi diri apakah perilaku individu, kultur masyarakat, kebijakan pemerintah, dan alokasi anggaran yang diambil selama ini sudah ramah lingkungan. Wallahu a’lam. (nu.or.id/alhafiz kurniawan)

Reporter : www.nu.or.id
Editor : kk

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ulas Kitab

Durasi dan Puncak Wabah Penyakit dalam Sejarah Umat Islam

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi: vipis.org

Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis karya seputar wabah thaun dari segi teologi, hadits, dan historis yang pernah terjadi di dunia Islam. Al-Asqalani juga menyinggung beberapa peristiwa wabah dengan beragam durasinya bertahan di masyarakat. (Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un, [Riyadh, Darul Ashimah: tanpa tahun]).

Cerita Ibnu Katsir, kutip Al-Asqalani, menyebut suatu masa wabah bertahan sejak Rabiul Awal hingga akhir tahun di Damaskus. Selama 9 bulan wabah memakan korban hingga pernah mencapai 1000 jiwa per hari dari warga yang terhitung di dalam gerbang Kota Damaskus. (Al-Asqalani: 329).

Wabah penyakit juga pernah terjadi selama tiga hari. Hal ini terjadi di zaman Nabi Daud AS. (Al-Asqalani: 82). Allah memberikan tiga pilihan azab kepada Nabi Daud AS atas kedurhakaan umatnya, yaitu kemarau panjang selama dua tahun, penindasan musuh selama dua bulan, atau wabah penyakit selama tiga hari. Pilihan itu disampaikan oleh Nabi Daud kepada umatnya.

“Kau adalah nabi kami. Pilihkan saja untuk kami,” kata umatnya.

Nabi Daud AS kemudian berpikir. Paceklik selama dua tahun jelas bala bencana. Mereka tidak akan tahan kelaparan. Di bawah penindasan musuh, mereka jelas tidak akan tersisa. Nabi Daud AS lalu memilih wabah penyakit selama tiga hari sebagai azab umatnya.

Di hari pertama, wabah thaun menyerang. Sejak pagi hingga gelincir matahari atau sekira waktu masuk Shalat Dzuhur, wabah telah menelan korban sebanyak konon sebanyak 70.000 (bahkan ada yang mengatakan 100.000 jiwa). Nabi Daud AS tidak tahan. Ia berdoa kepada Allah. Wabah pun diangkat dari umatnya.

“Allah telah menurunkan rahmat-Nya untuk kalian. Hendaklah kalian bersyukur atas bala yang diturunkan kepada kalian,” demikian pidato Nabi Daud AS.

Allah memerintahkan mereka untuk membangun masjid yang penyempurnaannya dilakukan di zaman Nabi Sulaiman AS. (Al-Asqalani: 82).

Wabah penyakit pernah terjadi di luar negeri Syam dan Mesir. Wabah itu menyerang masyarakat dalam durasi cukup lama, sekira satu tahun tiga bulan. Wabah mulai menjangkiti masyarakat pada Dzulqa‘dah 48 Hijriyah. Wabah kemudian mereda pada Shafar 50 Hijriyah. (Al-Asqalani: 224).

Al-Asqalani dalam karyanya yang lain, Inba‘ul Ghamar bi Abna’il Umur fit Tarikh, menyebut wabah di Damaskus pada 774 Hijriyah bertahan enam bulan. Jumlah korban pernah dalam satu harinya mencapai 200 jiwa. Bertepatan pada Rabiul Awalnya, sungai-sungai di Damaskus meluap yang memorak-porandakan tempat penggilingan tepung dan kolam pemandian umum. (Al-Asqalani, Inba‘ul Ghamar bi Abna’il Umur fit Tarikh, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1986 M/1406 H], juz I, halaman 37).

Pada tahun 782, wabah menewaskan banyak orang di negeri Syam. Sebanyak 10-20 orang dimakamkan pada satu liang kubur tanpa dimandikan dan dishalatkan. Konon wabah ini bertahan di tengah masyarakat selama kurang lebih tiga tahun. Tetapi situasi pada tahun pertama adalah yang paling sulit. (Al-Asqalani, 1986 M/1406 H: I/155).

Wabah penyakit juga pernah menjangkiti masyarakat Baridah dan Sa’al. Wabah yang mulai menyerang pada bulan Shafar hingga pertengah tahun 802 Hijriyah ini menewaskan banyak orang. (Al-Asqalani, 1986 M/1406 H: IV/115).

Al-Maqrizi menceritakan wabah thaun yang terjadi di Mesir. Menurutnya, kehebatan wabah ini belum pernah terjadi sebelum pada era umat Islam. Wabah mulai turun menyerang pada akhir musim tanam. Wabah itu terjadi tepatnya pada musim rontok pada pertengahan tahun 48 Hijriyah.

Memasuki tahun 49 Hijriyah, wabah terus menyebar hingga seluruh pelosok desa-desa di Mesir. Wabah itu memuncak di negeri Mesir pada bulan Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal. Wabah mereda pada pertengahan bulan Dzulqa‘dah 49 Hijriyah. Wabah penyakit ini menewaskan ribuan warga di sana. (Al-Maqrizi, As-Suluk li Marifati Duwalil Muluk, juz II, halaman 152). (alhafiz kurniawan/nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

Ramai Penolakan Jenazah Pasien Covid-19, Ini Penjelasan Agamanya

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Kehati-hatian dalam menyikapi penguburan jenazah Covid-19 harus terukur, sesuai petunjuk ilmu kedokteran yang diterjemahkan secara teknis dalam SOP. Foto: nuonline

Selain membawa dampak kesehatan, ekonomi, politik dan dan bidang semisalnya, pandemi Sars-Cov-2 juga membawa dampak sosial keagamaan yang sangat luas. Di antaranya adalah penolakan pemakaman jenazah terjangkit virus corona atau positif pengidap Covid-19 di beberapa kota. Tentu ini adalah sikap seperti ini justru menambah keprihatinan bersama.

Dari sini muncul pertanyaan, sejauh mana kita boleh berhati-hati dalam menyikapi pandemi virus corona? Bolehkah kehati-hatian itu sampai mengarah pada penolakan penguburan jenazah pengidap Covid-19?

Penulis sepakat bahwa dalam menghadapi pandemi virus corona semua orang harus berhati-hati dan tidak boleh meremehkannya. Sebab secara ilmu kesehatan bahaya virus ini telah diakui bahkan telah dinyatakan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO) bahkan secara resmi mengumumkan virus corona sebagai pandemic pada Rabu (11/3/2020). Pertanyaannya, sejauh mana kita kehati-hatian kita dalam hal ini?

Karena berkaitan dengan kesehatan, tentu kehati-hatian harus merujuk kepada ahlinya, yaitu para dokter yang memang mempunyai basis ilmu kesehatan atau ahlul khubrah fit thibb. Berkaitan hal ini Grand Syekh Ke-24 Al-Azhar, Syekh Jadul Haq Ali Jadul Haq (1917-1996 M) menjelaskan, dokter merupakan bagian dari ahli zikir atau pakar dalam bidang yang menjadi konsentrasinya yang mendapatkan legalitas Al-Qur’an:

قَدْ قَالَ سُبْحَانَهُ تَعْلِيمًا وَتَوْجِيهًا لِخَلْقِهِ:فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (الأنبياء: 7). وَالطَّبِيبُ فِي عَمَلِهِ وَتَخَصُّصِهِ مِنْ أَهْلِ الذِّكْرِ، وَالْعَمَلُ أَمَانَةٌ.

Artinya, “Allah SWT sungguh telah mengajarkan dan mengarahkan makhluk-Nya dengan berfirman, ‘Bertanyalah kepada ahli zikir jika kalian tidak mengetahui’ (Surat Al-Anbiya ayat 7). Dokter dalam aktivitas medisnya dan bidang spesialisasinya merupakan ahli zikir yang masuk dalam ayat ini. Aktivitas medisnya merupakan amanah baginya,” (Jadul Haq Ali Jadul Haq, Fatawa Al-Azhar [tentang Hukum Aborsi], Muharram 1410 H/4 Desember 1980, II/318) dan (Keputusan Bahtsul Masail Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur tentang Covid-19, Nomor:645/PW/A-II/L/III/2020).

Sementara berkaitan dengan penguburan jenazah terjangkit Covid-19, SOP (Standard Operating Procedure) pemulasaran jenazah Covid-19 sudah disesuaikan dengan hukum positif mutakhir—UU Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular, UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan, dan Surat Edaran Dirjen P2P Nomor 483 Tahun 2020 Tentang Revisi Ke-2 Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Corona Virus (Covid-19)—secara terang-terangan menyatakan, “Penguburan dapat dilaksanakan di tempat pemakaman umum.” (SOP Pemulasaran Jenazah Covid-19, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta).

Artinya, selama pemulasaran jenazah Covid-19 telah dilakukan dengan benar sesuai SOP yang ada, maka tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk menolak penguburannya. Sebab rujukan sahih dalam urusan ini adalah para dokter dan tenaga medis.

Oleh karenanya, kehati-hatian dalam menyikapi penguburan jenazah Covid-19 harus terukur, sesuai petunjuk ilmu kedokteran sebagaimana telah diterjemahkan secara teknis dalam SOP-nya. Tidak perlu berlebihan. Bahkan bila kehati-hatian itu justru berubah menjadi kekhawatiran tidak berdasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan mengarah pada penolakan penguburan secara serampangan, maka hukumnya tidak diperbolehkan. Berkaitan dengan hal ini Al-Qarafi menjelaskan:

أَنَّ الْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ مُحَرَّمٌ إنْ كَانَ مَانِعًا مِنْ فِعْلِ وَاجِبٍ أَوْ تَرْكِ مُحَرَّمٍ ، أَوْ كَانَ مِمَّا لَمْ تَجْرِ الْعَادَةُ بِأَنَّهُ سَبَبٌ لِلْخَوْفِ

Artinya, “Sungguh ketakutan dari selain Allah hukumnya haram jika berakibat menghalangi untuk melakukan kewajiban atau meninggalkan keharaman, atau takut dari hal-hal yang secara adatnya tidak dapat menyebabkan ketakutan,” (Lihat Abul Qasim Al-Qarafi, Idrarus Syuruq ‘ala Anwa’il Furuq pada Al-Furuq, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1418 H/1998 M], juz IV, halaman 400).

Di tengah keprihatinan bersama atas pandemi virus corona, masyarakat harus tetap menjaga akal sehat, kehati-hatian, dan kekhawatiran di satu sisi, dan kemantapan dan keyakinan di sisi lain secara proporsional sesuai ukurannya. Wallahu a’lam.   Ustadz Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

PBNU Umumkan Nisfu Sya’ban 1441 H Jatuh Pada Rabu Malam 8 April 2020

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Putusan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa rukyatul hilal LF PBNU pada Selasa (24/3/2020) petang di beberapa titik di Indonesia tidak dapat terlihat. Foto: nuonline

KANALKALIMANTAN.COM , JAKARTA – Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengikhbarkan bahwa Nisfu Sya’ban 1441 H bertepatan dengan Rabu (8/4) malam. “Nisfu Sya’ban 1441 H jatuh hari Rabu Wage, malam Kamis Kliwon, 8-9 April 2020,” ujar Pelaksana tugas Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa kepada NU Online, Sabtu (4/4/2020).

Putusan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa rukyatul hilal LF PBNU pada Selasa (24/3/2020) petang di beberapa titik di Indonesia tidak dapat terlihat. Pasalnya, tinggi hilal masih di bawah dua derajat sebagai batas imkanur rukyah, tepatnya 1 derajat 36 menit 22 detik.

Ijtimak juga terjadi pada Selasa (24/3/2020) pukul 16.26.43 WIB. Hal itu menunjukkan kurang dari 15 jam menuju terbenamnya matahari pada pukul 18.01 WIB.

Oleh karena itu, bulan Rajab 1441 H digenapkan menjadi 30 hari sehingga awal Sya’ban 1441 H jatuh pada Kamis (26/3). “Awal Sya’ban 1441 H bertepatan dengan hari Kamis Legi, mulai malam Kamis, 26 Maret 2020,” kata Kiai Sirril Wafa pada Selasa (24/3).

LF PBNU mengimbau masyarakat dapat membaca amalan yang biasa dilakukan oleh warga NU pada malam nisfu Sya’ban, yaitu membaca surat Yasin tiga kali. Pada masing-masing bacaan disertai niat permohonan untuk dianugerahi panjang umur dalam keberkahan dan rida-Nya, dijauhkan dari segala macam bahaya seperti fitnah, penyakit, wabah, dan sejenisnya, dan diberi kekuatan iman dengan tidak bergantung kepada sesama manusia.

Setelah itu, lanjutnya, pembacaan diikuti doa-doa yang biasa diajarkan oleh para para ulama salafus salih, mengutip sunnah nabi, dan para sahabat.

“Doa yang dipanjatkan yang garis besarnya berisi agar diberikan keselamatan, kesejahteraan, takdir yang baik serta husnul khatimah,” kata pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Di samping itu, Kiai Sirril Wafa juga menganjurkan untuk membaca doa Nabi Yunus, Lā ilāha illā anta, subhānaka innī kuntu minaz zhālimīn, sebanyak 2374 kali. “Apalagi dalam situasi merebaknya wabah Covid-19 atau Corona sekarang ini,” pungkasnya.   (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->