UMKM
Purun Kristik Ala Komunitas Chanua, Inovasi Berbasis Warisan Budaya
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Kalimantan Selatan (Kalsel) patut berbangga lewat Purun Kristik ala Komunitas Chantik Banua (Chanua) merupakan satu-satunya produk yang ada di dunia.
Berbeda dengan purun yang lazimnya diolah dengan cara dianyam, sebaliknya kristik memanfaatkan teknik tusuk silang membentuk sebuah objek gambar menawan.
Kristik atau tusuk silang adalah salah satu jenis sulaman yang memakai jahitan yang bersilangan di atas kain tenunan sejajar. Teknik jahitan membentuk huruf X disebut setik silang, sehingga kristik populer dengan sebutan “tusuk silang”.
Owner Purun Kristik, Indun Pratiwi mengatakan, jenis kriya ini memiliki kelebihan dari segi keawetan jika dibandingkan produk purun lainnya.
Baca juga: Puncak Peringatan Hari Jadi Ke-75 Kabupaten Banjar di Alun-alun Ratu Zalecha Martapura
“Kelebihannya lebih awet karena kita ini namanya media lukis seolah-olah seperti kanvas. Ini baru, di dunia tidak ada yang namanya purun kristik karena purun adanya di Kalsel,” ucap Indun kepada Kanal Kalimantan, Kamis (21/8/2025).
Inovasi sekaligus warisan budaya Banjar ini menghasilkan sejumlah produk siap pakai seperti tas, dompet, sandal, dan lainnya.
“Purun Kristik dari Kota Banjarbaru ini menggabungkan warisan budaya dengan pemikiran kreatif dan teknologi serta metode yang unik,” tutur Indun.
Dari segi harga pun beragam mulai dari Rp350 ribu, Rp500 ribu, Rp700 ribu, hingga Rp1 juta. Semuanya bergantung kepada tingkat kesulitan dan ukuran besar kecilnya produk.
Baca juga: Lelaki Kesetrum Listrik di Papan Reklame Jalan Panglima Batur Barat Banjarbaru
Peminat dari Purun Kristik ini mayoritas datang dari kalangan menengah ke atas lantaran harga yang terbilang mahal karena kualitas premium.
“Kalau kualitas nilai purun itu kan mahal. Tapi begitu melihat dengan modelnya, inovasinya, ide kreatifnya, mereka jadi berani beli,” jelas Indun.
Dibalik kesuksesan lewat bisnis Purun Kristik, Indun telah mengalami fase jatuh bangun dalam membangun usahanya. Awalnya, dia memulai usaha menggunakan sulam benang selama 3 tahun lamanya.
“Selama 3 tahun saya geluti kristik dan rajut, saya selalu ditolak, sukses ditolak, bolak-balik ditolak, bangkit, bolak-balik ditolak, bangkit.” ungkapnya.
Indun mengaku pernah ditinggal dua rekan kerja yang telah diberikan bimbingan membuat Purun Kristik. Namun, ia tak menyerah dan terus maju mengembangkan usaha sendiri hingga sukses bermitra dengan Perwakilan Bank Indonesia Kalsel.

Owner Purun Kristik bersama dengan mentor dan kurator dari BI Kalsel. Foto: indun untuk kanalkalimantan
Baca juga: Hasil Panen Padi Petani di Palam Diprediksi Turun, Ini Penyebabnya
“Alhamdulillah mereka meninggalkan saya, sekarang akhirnya berbalik, saya tinggalkan mereka. Jadi mereka meninggalkan saya selangkah, oke enggak apa-apa, saya sudah memberikan ilmu, ditinggalkan selangkah, saya bisa melompat beribu-ribu langkah,” bebernya.
Kini, Indun bersama anak dan temannya fokus mengelola Purun Kristik yang dibangun menggunakan keringat usahanya sendiri sedari awal.
Ia mengharapkan partisipasi pemerintah dalam meningkatkan ekspansi produknya agar lebih dikenal di tingkat nasional sampai internasional.
“Saya pengen dibantu sama pemerintah misalnya lewat pelatihan-pelatihan, ayo kita sama-sama membangun Banua lewat produk Purun Kristik,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
-
Infografis Kanalkalimantan3 hari yang laluHaornas 2026: Aktivitas Fisik Jadi Gaya Hidup Keseharian Masyarakat
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara3 hari yang laluKadisdikbud HSU Lepas Peserta GSI Tingkat Provinsi ke Banjarbaru
-
Ekonomi2 hari yang laluBRI Multiguna Pre-Approved, Solusi Kebutuhan Berbagai Rencana Anda
-
HEADLINE20 jam yang laluMaksimalkan OMC Tangani Karhutla, Wapres Gibran Minta Maaf Udara Kalimantan Buruk
-
PLN UIP3B KALIMANTAN20 jam yang laluHumanitrip 2026 PLN Hadirkan Senyum 55 Anak Yatim dan Dhuafa
-
Kabupaten Balangan21 jam yang laluMTQ XIX Tingkat Kabupaten Balangan Digelar di Kecamatan Juai


