Connect with us

Pendidikan

Mengenal Seorang Dosen Praktisi Berlatar Anggota Polri di Banjarmasin

Diterbitkan

pada

Aiptu Budiono SH MH saat diwawancarai Kanalkalimantan, Selasa (25/11/2025). Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Di sela kesibukan sebagai Bintara Tinggi Kepolisian, Aiptu Budiono SH MH turut mendedikasikan hidupnya menjadi seorang pendidik.

Aiptu Budiono atau akrab disapa Budi mengawali karir sebagai anggota aktif Polisi Republik Indonesia (Polri) sejak tahun 2000 sampai 2025.

Lulusan Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) Sekolah Polisi Negara (SPN) Banjarbaru ini awalnya ditugaskan ke Satuan Lalu Lintas (Satlantas) sejak tahun 2003 dan kini menjabat sebagai Kepala Sub Unit (Kasubnit) 3 Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Banjarmasin.

Menurut Aiptu Budi, kegiatan-kegiatan di bidang Kamsel sangat menarik karena bisa berinteraksi dengan masyarakat luas lewat edukasi-edukasi keselamatan di jalan.

“Kamsel ini tidak hanya masalah edukasi saja tapi berkaitan dengan enginering atau rekayasa lalu lintas yang berkolaborasi dengan pemerintah kota kaitannya dengan pembangunan dan sarana prasarana jalan di Kota Banjarmasin,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (25/11/2025) siang.

Baca juga: Pemkab Kapuas Bekali ASN Perkuat Deteksi Dini Penyalahgunaan Narkoba

Aiptu Budiono SH MH ketika mengajar di dalam ruang kelas salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin. Foto: ist

Tawaran Menjadi Seorang Pendidik

Keseharian memberi edukasi kepada masyarakat mulai kalangan usia dini hingga dewasa di Satlantas Polres Banjarmasin membuat dirinya berfikir menjadi seorang pendidik.

Terlebih lelaki yang senang mini soccer dan bola voli ini telah lulus dalam jenjang pendidikan tinggi yakni Sarjana Hukum di tahun 2017 dan Magister Hukum pada tahun 2019 di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam (STIHSA) Banjarmasin, sehingga kualifikasi pendidikannya dianggap memenuhi standar.

“Di situ muncul jiwa-jiwa saya, kok pengen mengajar di salah satu perguruan tinggi, dan kebetulan gelar saya sudah mencukupi untuk menjadi tenaga pengajar,” ungkap Budi.

Pada tahun 2022, angan-angan itu berubah menjadi kenyataan saat Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB, Dr Hj Dewi Merdayanty SPd MAP menawarkan kepada dirinya menjadi Dosen Praktisi di Program Studi (Prodi) Administrasi Publik.

Atas izin pimpinan, Aiptu Budi menerima tawaran tersebut dengan catatan bisa menyesuaikan kapan waktu mengajar di kampus dan kapan waktu pekerjaan dinas.

Pihak universitas pun paham terkait kondisi Budi yang juga bekerja di kepolisian sehingga jadwal yang diberikan menyesuaikan waktu kerjanya, antara lain Kelas Reguler Malam pada Senin pukul 20.00 Wita dan Kelas Reguler Siang pada pukul 16.00 Wita. Sementara Kelas Non-Reguler pada Sabtu pukul 08.00 Wita.

“Saya dikasih jam mengajar itu hari Senin malam setelah Isya. Terus reguler siang itu pukul 16.00 dan tentunya jam kerja di kantor sudah habis. Terakhir itu di hari Sabtu yang non-reguler, nah kantor juga libur,” ucap polisi kelahiran Ambawang, Kabupaten Tanah Laut ini.

Dengan jam mengajar tersebut, aktivitas Budi sebagai pendidik sama sekali tidak mengganggu pekerjaannya di Kepolisian. Kalaupun ada tugas mendadak dari pimpinan saat jadwal mengajar maka dia cukup memberikan tugas atau mengalihkan kegiatan lain kepada mahasiswa, sebab kepolisian masih jadi prioritasnya.

Keseharian Menjadi Pendidik Berlatar Kepolisian

Sejak hari pertama menjadi seorang pendidik, Budi mengaku tak ada perasaan canggung sama sekali sebab kegiatannya di kampus hampir mirip dengan kegiatannya di kepolisian. Bertatap muka dengan mahasiswa bukanlah hal baru baginya sebab Budi mengemban fungsi edukasi di Kamsel yang targetnya salah satunya mahasiswa.

“Kegiatannya hampir sama, bedanya kalau di kepolisian itu mengkampanyekan keselamatan dan etika berlalu lintas di jalan. Kalau di kampus kita harus menguasai mata kuliah yang diajarkan,” kata Budi.

Dari segi pakaian pastinya berbeda, saat di kepolisian Budi harus memakai baju kedinasan sedangkan di kampus dia harus memakai pakaian rapi layaknya seorang pendidik.

Di Prodi Adminstrasi Publik FISIP Uniska MAB, dia mengampu mata kuliah Hukum Administrasi Negara dan Sistem Hukum Indonesia. Sebagai dosen, tentu dirinya harus mempelajari materi tentang mata kuliah tersebut sebelum mengajarkan ke murid-muridnya.

Di dalam kelas, Aiptu Budi mengkomposisikan berapa persen praktek dan berapa persen teori supaya mahasiswa mendapat gambaran tentang teori-teori yang disampaikan dan praktek-praktek yang diberikan.

Harapan di Hari Guru Nasional 2025

Sebagai dosen yang juga merupakan pendidik, Budi menyampaikan kesan dan pesannya di Hari Guru Nasional yang jatuh 25 November 2025 ini bahwa seorang guru merupakan sosok yang tak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membentuk cara pandang diri dan dunia. Setiap pelajaran terasa seperti nasihat kehidupan yang disampaikan secara perlahan dan penuh kesabaran.

“Dari bapak ibu guru saya memahami bahwa belajar bukanlah sekadar mendapatkan nilai, tetapi memahami makna di balik prosesnya,” terang Budi.

“Teruslah menjadi cahaya yang menerangi langkah-langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca