HEADLINE
Langka Tapi Masih Dicari, Tukang Jahit Sepatu Bertahan Demi Keluarga
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Salah satu profesi yang sudah jarang ditemui di era sekarang yaitu tukang jahit sepatu atau sol sepatu.
Pendapatan tukang jahit sepatu yang dinilai tidak seberapa dan sering dipandang sebelah mata membuat orang jarang mau menggeluti profesi ini.
Tapi profesi yang tebilang langka ini ternyata masih ada dan bertahan di Kota Banjarmasin.
Di sekitar pertigaan Jalan Kuripan Kecamatan Banjarmasin Timur misalnya, sedikitnya ada 4 tukang jahit sepatu yang mangkal di pinggir jalan padat lalu lintas tersebut.
Berbekal benang nilon, jarum sol, dan lem, para lelaki itu lihai menjahit sepatu pelanggan yang alas sepatunya lepas atau rusak tanpa menggunakan mesin jahit.
Baca juga: Eksotisme Riam Paka dan Aruh Adat Dayak Pitap Desa Kambiyain Balangan

Jasa jahit sepasang sepatu ditarif dengan harga berbeda-beda, tergantung dari ukuran sepatu dan tingkat kesulitan menjahitnya.
“Tarifnya tergantung, kalau sepatu Rp20 ribu sandal Rp15 ribu. Tapi kalau sepatu kecil Rp10 ribu,” kata Udin, salah seorang penjahit sepatu di kawasan pertigaan Kuripan.
Bagi Udin yang baru 5 bulan menggeluti profesi jahit sepatu memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk menyelesaikan jahitan sepasang sepatu.
Lain halnya dengan Anang Muli (55), lelaki ini sudah lama menggeluti dunia jahit sepatu ini mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menjahit sepasang sepatu.
Baca juga: Sungai-Sungai di Banjarbaru Tercemar, Limbah Domestik Rumah Tangga Jadi Masalah Utama
“Setengah jam selesai,” katanya.
Lapak Jualan Es Campur Digusur, Anang Muli Alih Profesi Jadi Penjahit Sepatu
Anang Muli, biasa orang memanggil lelaki yang aslinya bernama Ruliansyah tukang jahit sepatu di simpang tiga Kuripan Kota Banjarmasin.
Setiap pukul 08.00 Wita, lelaki yang tinggal di Jalan Veteran Kecamatan Banjarmasin Tengah ini beranjak jalan kaki dari rumahnya menuju lapak di pertigaan Kuripan.
Baca juga: GOR Selesai Dibangun, Pemprov Kalsel Lanjutkan Bangun Fasilitas Sarana dan Prasarana
Dia bersama tiga kawan seprofesi lainnya mangkal di pinggir jalan menunggu pelanggan hingga sore hari.
Profesi tukang jahit sepatu jalanan digeluti Anang Muli sudah sejak 5 tahun lalu, sebelumnya ia mengaku bekerja sebagai penjual es campur pinggir jalan tidak jauh dari rumahnya.
Namun, karena lapak jualannya saat itu masuk zona terlarang PKL, sehingga terkena penggusuran dan ia memutuskan berhenti berjualan.
“Pas dibongkar berhenti jualan, lalu beralih ke jahit sandal sepatu,” ungkap Anang Muli.
Baca juga: Rotasi 5 Jabatan Strategis di Polda Kalsel, Kabid Humas hingga Kapolres HSU Berganti
Meskipun profesinya sering dipandang sebelah mata, dari hasil menjahit sepatu selama ini pendapatan Anang Muli cukup untuk menghidupi keluarganya di rumah.
Sehari ia mengaku bisa membawa pulang uang Rp80 ribu hingga Rp100 ribu dari hasil menjahit sepatu.
Anang mengaku sudah nyaman dengan profesi selama ini sebagai penjahit sepatu, sehingga ia tak terpikir lagi untuk beralih ke profesi lain.
“Ini aja sudah (jahit sepatu), sudah nyaman ini,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/rizki)
Reporter : rizki
Editor : bie
-
HEADLINE2 hari yang laluKapal Virgo Transport 8 Dibangun 1987, Baru Operasi 8 Juli Layani Rute Surabaya-Banjarmasin
-
HEADLINE2 hari yang laluTenggelam di Laut Jawa, Kapal Virgo Transport 8 Rute Surabaya-Banjarmasin Angkut 243 Orang
-
HEADLINE2 hari yang laluEnam Meninggal Dunia, 103 Orang Dievakuasi dari Kapal Virgo Transport 8
-
Kabupaten Banjar1 hari yang laluPeduli Keselamatan Relawan Pemadam, Bupati Banjar Serahkan 350 Alat Pelindung Diri
-
HEADLINE1 hari yang laluMenhub: KNKT Investigasi Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8
-
Kabupaten Balangan2 hari yang lalu20 Santri Balangan Diberangkatkan ke Hadramaut


