Connect with us

HEADLINE

El Nino Diprediksi hingga 2027, Risiko Kekeringan dan Berkurangnya Air Bersih

Diterbitkan

pada

Fenomena iklim El Nino perlu diwaspadai, karena dapat mengubah pola hujan dan suhu di berbagai wilayah Indonesia, serta meningkatkan risiko kekeringan, cuaca panas ekstrem, dan gangguan pada sektor pertanian. Foto: Jeffry Surianto from Pexels

KANALKALIMANTAN.COM – El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga Februari 2027 dan berpotensi mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026.

Fenomena iklim ini perlu diwaspadai, karena dapat mengubah pola hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, serta meningkatkan risiko kekeringan, cuaca panas ekstrem, dan gangguan pada sektor pertanian.

Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menyebut El Nino akan terus menguat sebelum mencapai puncaknya sekitar Desember 2026.

Baca juga : Pemkab Kapuas Bersama DPRD Sepakati KUA-PPAS 2027

Dalam pembaruan pada Selasa (8/10/2026), WMO memprediksi anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 mencapai sekitar 3,7 derajat celsius pada periode Oktober–Desember 2026.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, nilainya akan melampaui rekor sebelumnya, yakni 2,6 derajat celsius pada November 2015 hingga Januari 2016.

Di Indonesia, El Nino berpotensi memperpanjang kondisi kering dan mengurangi curah hujan, terutama ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau. Dampaknya dapat merembet ke ketersediaan air bersih, kegiatan pertanian, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Baca juga : Sudah 630 Hektare Lahan Terbakar, Pemkab Banjar Siapkan 150 Personel Gabungan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 22 September 2026 memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 zona musim (ZOM), atau 61,08% wilayah Indonesia, akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

BMKG juga menyoroti kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memperparah serta memperpanjang periode kering di sebagian wilayah Indonesia.

Meski demikian, El Nino yang bertahan hingga 2027 tidak otomatis membuat seluruh wilayah Indonesia mengalami kemarau sepanjang tahun. Dampaknya berbeda menurut karakteristik wilayah, waktu pergantian musim, serta pengaruh fenomena iklim lainnya.

Baca juga : Warga Palangka Raya Terus Menerus Hirup Asap Pekat, Desak Status Bencana Nasional

El Nino Diprediksi Menguat hingga Akhir 2026

WMO menyatakan El Nino telah terbentuk dan diperkirakan semakin kuat dalam beberapa bulan menjelang akhir 2026.

Dalam pembaruan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis bagian tengah dan timur diproyeksikan terus meningkat sebelum mencapai puncak sekitar Desember.

Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau El Nino adalah anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4.

Baca juga : Penyusunan RDTR Dua Kawasan Strategis di Wilayah HSU

WMO memperkirakan anomali rata-rata musiman di kawasan tersebut mencapai sekitar +3,7 derajat celsius pada periode Oktober–Desember 2026.

Angka ini merupakan penyimpangan suhu permukaan laut dari nilai normal, bukan perkiraan kenaikan suhu udara di Indonesia.

El Nino merupakan fenomena iklim alami yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

Baca juga : Diklat BCKS Guru dari HSU Digelar Serentak Bersama Balangan dan Tapin

Perubahan suhu laut tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer, pembentukan awan, serta distribusi curah hujan di berbagai kawasan.

Ketika El Nino berlangsung, sebagian wilayah Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan karena perubahan pola sirkulasi atmosfer dan pergeseran pusat aktivitas konveksi ke kawasan Pasifik.

Namun, besarnya dampak tidak selalu sama di setiap daerah. Kekuatan El Nino juga tidak secara langsung menentukan seberapa parah kekeringan yang akan dialami suatu wilayah.

Baca juga : Nuriah dan Khotib Wakili Indonesia ke Sarawak dan Abu Dhabi, Ini Pesan Bupati Banjar

Dampak El Nino hingga 2027 bagi Indonesia

Jika El Nino bertahan hingga awal 2027, sejumlah risiko perlu diantisipasi, terutama di wilayah yang mengalami curah hujan rendah atau terlambat memasuki musim hujan.

1. Risiko kekeringan dan berkurangnya air bersih

Penurunan curah hujan dapat mengurangi cadangan air di waduk, sungai, dan sumber air lainnya. Kondisi ini berpotensi mengganggu pasokan air untuk rumah tangga, pertanian, serta berbagai kegiatan ekonomi.

Baca juga : Kades Pulau Kaladan Apresiasi Bantuan Pangan ke Warga Terdampak Karhutla

Daerah yang mengandalkan hujan untuk memenuhi kebutuhan air akan lebih rentan jika periode kering berlangsung lebih lama.

Tanpa pengelolaan yang memadai, masyarakat dapat mengalami kesulitan memperoleh air bersih, terutama di wilayah dengan sumber air terbatas. Meski demikian, dampak kekeringan tidak akan seragam di seluruh Indonesia.

Daerah yang telah memasuki musim hujan berpeluang mengalami perbaikan kondisi air setempat, meskipun El Nino masih berlangsung secara global. Oleh karena itu, pemantauan curah hujan dan ketersediaan air di tingkat daerah tetap diperlukan.

Baca juga : PTAM Intan Banjar-BPAM Banjarbakula Olah Air Baku Irigasi Riam Kanan

2. Produksi pertanian berpotensi terganggu

Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang perlu mengantisipasi dampak El Nino. Berkurangnya curah hujan dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi pasokan air irigasi, dan meningkatkan risiko gagal panen pada lahan yang kekurangan air.

Petani juga berpotensi menghadapi perubahan jadwal tanam karena kondisi tanah dan ketersediaan air tidak sesuai dengan perkiraan musim normal. Jika gangguan terjadi di banyak daerah, produksi sejumlah komoditas pangan dapat ikut terdampak.

Baca juga : Bangkai Kapal Virgo Proses Pengangkatan, 53 Korban Belum Ditemukan

Untuk mengurangi risiko tersebut, petani dapat menyesuaikan kalender tanam, mengelola penggunaan air irigasi, serta memilih varietas yang sesuai dengan kondisi setempat.

Informasi prakiraan musim dari BMKG juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan waktu tanam.

3. Ancaman kebakaran hutan dan lahan meningkat

Cuaca kering yang berlangsung lama dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Risiko karhutla semakin besar ketika kondisi tersebut disertai suhu tinggi, kelembapan rendah, dan aktivitas manusia yang memicu api.

Baca juga : Gebyar Gema Syair Maulid Habsyi se-Kalimantan 2026 Sukses Digelar

Kebakaran tidak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas udara. Asap kebakaran berpotensi memicu gangguan pernapasan dan menghambat kegiatan masyarakat.

Pencegahan perlu dilakukan sebelum lahan semakin kering. Pemantauan titik panas, pengawasan kawasan rawan kebakaran, kesiapan personel pemadam, serta larangan membakar lahan secara sembarangan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla.

4. Suhu panas dan cuaca ekstrem perlu diwaspadai

El Nino yang kuat dapat meningkatkan peluang terjadinya suhu di atas normal di sejumlah kawasan dunia. Perubahan pola hujan juga dapat memperbesar risiko kekeringan di beberapa wilayah, sementara daerah lain berpotensi mengalami hujan lebat atau banjir.

Baca juga : Siapkan Pembasahan 1.650 Hektare Gambut di Kalsel

Oleh karena itu, dampak El Nino tidak selalu berupa kondisi kering di semua tempat. Pengaruhnya bergantung pada lokasi, waktu dalam setahun, serta interaksi dengan fenomena iklim lain, termasuk IOD.

WMO mengingatkan bahwa perubahan pola suhu dan hujan akibat El Nino dapat meningkatkan risiko berbagai kejadian cuaca ekstrem di sejumlah kawasan.

Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi cuaca resmi, terutama ketika terjadi perubahan kondisi yang berpotensi mengganggu kegiatan sehari-hari, kesehatan, maupun keselamatan.

Baca juga : Perbaikan Pipa Jebol BPAM Banjarbakula Ditarget Rampung 10 Hari

Indonesia Tidak Otomatis Mengalami Kemarau Sepanjang 2027

El Nino yang diperkirakan bertahan hingga 2027 bukan berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang tahun. Fenomena ini memengaruhi pola iklim, sedangkan pergantian musim hujan dan kemarau tetap berlangsung dengan waktu yang berbeda di setiap wilayah.

BMKG pada September 2026 memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 ZOM atau 61,08% wilayah Indonesia akan mundur dari rata-rata klimatologis

Kondisi ini berkaitan dengan pengaruh El Nino yang kuat dan IOD positif, yang dapat mengurangi curah hujan serta memperpanjang periode kering di sebagian wilayah.

Baca juga : Wali Kota Lisa Halaby Bagikan Masker dan Sembako di Kawasan CFD Murdjani

Wilayah yang terlambat memasuki musim hujan perlu mewaspadai potensi kekeringan lebih lama. Sebaliknya, daerah yang sudah memasuki musim hujan dapat mengalami perbaikan kondisi air sesuai curah hujan setempat.

Dengan demikian, keberlanjutan El Nino secara global tidak berarti semua daerah di Indonesia akan mengalami kekeringan dengan durasi dan intensitas yang sama.

Informasi mengenai awal musim hujan, prakiraan curah hujan, dan kondisi sumber air di tingkat daerah lebih relevan untuk menilai risiko yang akan dihadapi masyarakat.

Baca juga : Pemkab Kapuas Tertibkan Penghunian Rumah Khusus

Cara Mengantisipasi Dampak El Nino hingga 2027

Antisipasi perlu dilakukan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sesuai dengan risiko di wilayah masing-masing.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan, antara lain menggunakan air secara bijak, memperbaiki pengelolaan irigasi, dan menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan prakiraan musim.

Pemerintah daerah juga perlu memantau ketersediaan air, menyiapkan langkah penanganan kekeringan, serta memperkuat pencegahan karhutla di kawasan rawan.

Baca juga : Pipa BPAM Banjarbakula Bocor, PTAM Intan Banjar Optimalkan Air Irigasi Riam Kanan untuk Jaga Pasokan Air

Jika pasokan air berkurang, langkah antisipasi sejak dini dapat membantu mengurangi gangguan terhadap kebutuhan rumah tangga dan kegiatan ekonomi.

Pada sektor pertanian, petani dapat memanfaatkan informasi prakiraan musim dari BMKG untuk merencanakan waktu tanam dan kebutuhan irigasi. Pemilihan varietas tanaman serta pengaturan penggunaan air juga perlu disesuaikan dengan kondisi lahan masing-masing.

WMO menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini untuk menghadapi perubahan pola cuaca. Informasi iklim yang diperbarui secara berkala dapat membantu pemerintah, sektor pertanian, dan masyarakat menyiapkan langkah mitigasi sebelum dampak El Nino semakin terasa. (Beritasatu/kk)

Reporter : kk

Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca