Connect with us

Ekonomi

Berharap Pemerintah Sediakan Tempat Bagi UKM

Diterbitkan

pada


BANJARBARU- Berbagai macam olahan makanan lokal banyak dijual di warung-warung maupun toko oleh-oleh yang ada di wilayah Banjarbaru. Berbagai macam olahan tersebut sebagian besar memiliki kualitas masing-masing masing-masing dan produk olahan sendiri, salah satunya produk olahan Keripik Tempe.

Dari berbagai macam produk Keripik Tempe, salah satunya produk Keripik Tempe Sagu buatan Srinoto (36). Memulai usaha sejak tahun 2014, lelaki asal Jogja ini hanya bemodalkan Rp 1 juta untuk memulai usahanya tersebut.

Modal Rp 1 juta itu pun sudah termasuk peralatan produksi, seperti kompor, wajan, minyak serta bahan utamanya yaitu tempe sagu yang di produksinya sendiri. Usaha ini ia rintis pertama kali dengan istrinya yang pada saat itu menjadi seorang pengajar (guru) salah satu sekolah di Banjarbaru.

“Waktu itu istri saya kasih pilihan, mau nyari status atau mau nyari uang? jika mau nyari status silahkan pekerjaannya di lanjutkan dan jika ingin cari uang tinggalkan pekerjaan itu,” ungkapnya.



Dengan dibantu oleh istrinya, Sriwoto memulai usaha kecilnya dengan menggunakan alat manual atau masih tradisional. Dengan alat tersebut Sriwoto bisa menghasilkan kripik tempe sagu buatannya sendiri dengan bahan baku yang baik, cara produksi yang baik. Saat ini, keripik tempe sagu olahannya sudah mengantongi sertifikasi halal.

Selain mencari penghasilan, Sriwoto juga mencari kepuasan hatinya sendiri agar dapat membantu orang. Dia pun mempekerjakan 4 orang pegawai yang membantu memproduksi tempe sagunya tersebut.

“Jika ingin menggunakan alat untuk proses pembuatan keripik ini sebenarnya ada, tapi jika saya menggunakan alat tersebut, saya harus mengurangi 2 orang pegawai saya,” ungkapnya.

Produk yang dia miliki hanya memproduksi 1 rasa saja yaitu original namun tidak menutup kemungkinan untuk kedepannya memproduksi dengan berbagai varian rasa.

“Rencananya sih memang ingin menambah varian rasa yang lain, tetapi harus menggunakan perasa buatan sendiri, karena sekarang banyak terdapat perasa serta bahan yang belum ada sertifikasi halalnya, jadi mudah-mudahan insyaallah kedepannya nanti bisa membuat keripik dengan varian rasa buatan sendiri,” ungkapnya.

Sampai saat ini omset penjualan keripik Srinoto Rp 1,2 juta sampai Rp 1,5 juta perhari, dan kalau dihitung perbulan bisa sampai Rp 30 juta sampai Rp 40 juta.
Lelaki dengan perawakan agak sedikit gemuk ini memang sangat berjiwa sosialis dan sangat tergerak hatinya untuk membantu masyarakat.

Keinginannya bisa memiliki toko sendiri namun tidak memasarkan satu produk keripik tempe sagu itu saja,”Saya ingin menampung produk UKM terutama yang ada di Banjarbaru,” ungkapnya.

Srinoto juga mengaku prihatin UKM yang ada di Kalimantan cukup banyak tetapi orang yang maju bukan termasuk UKM itu sendiri. “Orang yang maju malah orang memiliki tempat atau toko sendiri, kenapa tidak pemerintah kotanya saja yang menyediakan tempat untuk para UKM khususnya yang ada di wilayah kota Banjarbaru, itu sangat disayangkan,” lirihnya.


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->