Connect with us

Kalimantan Selatan

Banyak Masyarakat Malu Menggunakan Bahasa Daerah

Diterbitkan

pada

Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Armiati Rasyid. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan (Kalsel), Armiati Rasyid menyebut tantangan terbesar dalam melestarikan bahasa daerah adalah sikap masyarakat terhadap bahasa daerah itu sendiri.

Hal itu diungkapkan Armiati usai membuka Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Kalsel 2025, Selasa (11/11/2025).

Menurut Armiati, sikap masyarakat yang cenderung malu menggunakan bahasa daerahnya sendiri menjadi tantangan nyata bagi pihaknya.

Baca juga: Bupati Wiyatno Ingin Kapuas Jadi Tuan Rumah MTQH Kalteng XXXIV

“Anak-anak itu malu menggunakan bahasa daerahnya. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun merasa minder menggunakan bahasa daerah seperti Bahasa Banjar,” tuturnya.

Setelah tiga tahun pendampingan dalam program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD), barulah anak-anak lebih antusias sebab mereka menemukan cara baru untuk melestarikan bahasa daerah masing-masing.

Caranya adalah dengan mengaitkan bahasa daerah ke dalam karya seni dengan genre seperti puisi, cerpen, bercerita, berpidato, dan komedi tunggal.

“Mungkin selama ini bahasa daerah digunakan untuk percakapan biasa, tetapi dengan genre-genre tersebut anak-anak bisa semakin kreatif,” ujar Armiati.

Baca juga: Kantor Setda Kapuas Jadi Lokasi Studi Wisata Anak-anak TK

Tak hanya itu, penerapan teknologi dalam pelestarian bahasa daerah juga sangat penting. Contohnya anak-anak di Banjarbaru yang memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) sebagai sarana mengenalkan kearifan lokal.

Lebih jauh, anak-anak didik yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sudah bisa membuat film pendek dan animasi berbahasa Banjar.

Oleh sebab itu, produk teknologi tidak selamanya berdampak negatif bagi generasi muda. Dengan itu, mereka mampu mengandalkan kemahiran untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa.

Kebanyakan orang dewasa pun akan merasa sulit membuat suatu karya inovasi dengan maksud melestarikan bahasa daerah. Tapi mereka sedari kecil sudah mampu menguasai hal tersebut adalah pencapaian baik.

Baca juga: Masuk Puncak Musim Hujan, BMKG Staklim Kalsel: Waspada Bencana Hidrometeorologi

“Ini anak kecil, anak SD mau membuat film pendek itu kan suatu prestasi yang luar biasa,” ungkap Kepala Balai Bahasa Kalsel.

Untuk itu pesannya kepada pemuda, pelestarian bahasa daerah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pemanfaatan alat teknologi seperti laptop maupun gawai pun diperbolehkan.

Bagi anak muda yang tertarik di bidang budaya atau seni, sangat disarankan untuk ikut serta dalam mengembangkan bahasa daerah.

“Sekarang bukan saatnya sekadar melestarikan, tetapi bahasa daerah itu perlu dikembangkan,” jelas Armiati.

Di samping itu, peran pemerintah daerah baik tingkat kabupaten kota maupun provinsi tak kalah penting. Besar harapannya anggaran dialokasikan untuk pelestarian bahasa daerah.

Agar semua bisa tercapai, perlu adanya terobosan dalam regulasi terkait pelestarian bahasa daerah yang bersifat kuat.

Baca juga: Hadiri Perayaan 50 Tahun GBI, Ini Pesan Wabup Dodo

“Ketika ada regulasi, semua pihak yang terlibat akan berjalan berdasarkan dengan sistem dan struktur yang ada,” beber Armiati.

Paling vital adalah apresiasi dari pemerintah daerah terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelestarian bahasa daerah.

“Bagaimana pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada semua yang terlibat ataupun melakukan inovasi di dalam perlindungan bahasa daerah ini,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca