Infografis Kanalkalimantan
ASEAN Dengue Day, Ini Sejarah Dicetuskannya
KANALKALIMANTAN.COM – ASEAN Dengue Day (ADD) atau Hari Demam Berdarah ASEAN diperingati pada setiap tanggal 15 Juni oleh negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dalam rangka menyerukan kepada semua untuk memerangi demam berdarah.
Melansir laman Kemenkes RI, sejak tahun 2010, negara-negara anggota ASEAN memperingati Hari Demam Berdarah Dengue atau DBD. Mengingat negara-negara ASEAN merupakan daerah endemik DBD. Hari DBD ditetapkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-19 di Hanoi pada 30 Oktober 2010.
Adanya gagasan itu merupakan bentuk tindak lanjut dari pernyataan WHO. Tujuan peringatan Hari DBD adalah untuk meningkatkan komitmen nasional dan antar-anggota ASEAN pada upaya pengendalian demam berdarah. Baik pencegahan, penanggulangan, hingga tata laksana. Sehingga angka kejadian dan kematian akibat DBD dapat ditekan.
Baca juga: Wakil Ketua I DPRD Kapuas Dukung Visi “Bersinar” dalam Musrenbang RPJMD 2025-2029
Selama tahun 2022, total kasus DBD di Indonesia mencapai lebih dari 143 ribu. Jawa Barat menjadi penyumbang terbesar dengan 36.500 kasus, disusul dengan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Dari 143 ribu itu, sebanyak 1.236 di antaranya berujung kematian. Hampir 63 persen kasus kematian akibat DBD terjadi pada anak usia 0-14 tahun.
Nyamuk Aedes Aegypti merupakan vektor penularan DBD, sedangkan dengue merupakan virus yang dibawa nyamuk. Manajemen pengendalian vektor ini dilakukan dengan berbagai inovasi, antara lain penerapan 4M plus dan teknologi nyamuk pembawa bakteri Wolbachia.
Baca juga: Hakim Ketuk Palu Bebas Syarifah Hayana, JPU Bawa Putusan ke Sentral Gakkumdu
Tahun 2025 Hari Demam Berdarah ASEAN mengusung tema “Menuju Nol Kematian Akibat Demam Berdarah: Sains, Strategi, dan Solidaritas,”. Tema ini bertujuan untuk mendorong upaya kolaboratif dan pendekatan inovatif untuk memerangi ancaman demam berdarah yang terus meningkat, kemajuan dalam pengendalian vektor, pengembangan vaksin, manajemen klinis, pengendalian wabah melalui pengawasan dan diagnostik, serta kekuatan komunikasi dan advokasi. (Kanalkalimantan.com/kk)
Reporter: kk
Editor: bie
-
HEADLINE2 hari yang laluHaul ke-220 Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Sejak Kecil Sudah Punyai Keistimewaan
-
Kota Banjarmasin3 hari yang laluDijadikan Staf Ahli, Ini Kata Mantan Sekda Banjarmasin Ikhsan
-
Kota Banjarbaru2 hari yang laluInstruksi Wali Kota Lisa Putar Lagu Indonesia Raya Setiap Hari
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara3 hari yang laluMusrenbang RKPD 2027, Pemkab HSU Sinergikan Prioritas Pembangunan Daerah
-
Pemprov Kalsel2 hari yang laluCek Program REDD+ di Cempaka, Ini Kata Kadishut Kalsel
-
Kota Banjarmasin1 hari yang laluLima Jembatan Rusak di Banjarmasin akan Diperbaiki






