Connect with us

Kabupaten Banjar

Air Sungai Tercemar Limbah Sawit, Mentan Minta Instansi Terkait Beraksi

Diterbitkan

pada

Mentan Amran mendapat laporan soal pecemaran sungai oleh limbah sawit Foto: kumparan

MARTAPURA, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bereaksi cepat setelah mendapatkan kabar dari para petani di Desa Tajau Landung, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, bahwa air sungai tercemar limbah dari perkebunan kelapa sawit. Limbah kelapa sawit membuat tingkat keasaman (PH) air sungai naik yang berdampak pada terganggunya pertumbuhan padi.
Amran langsung menginstruksikan Kepala Polsek, Komandan Kodim, dan dinas teknis untuk memperbaiki tata kelola air perkebunan sawit di kawasan pertanian rawa. “Saya minta Pak Kapolsek, Danramil, Kodim, dan dinas terkait menegur perkebunan sawit. Jangan sampai ada pencemaran, harus dikelola dengan baik,” tegas Amran di lokasi, Selasa (18/12).
Menurut Amran, langkah ini harus ditempuh agar program optimasi rawa sebagai lahan pertanian berjalan sukses. Di Kalsel sendiri, Amran menargetkan bisa mengoptimasi 500 ribu hektare rawa menjadi lahan pertanian. Untuk tahap awal yang dimulai pada tahun depan, baru 200 ribu hektare lahan rawa yang siap untuk dioptimasi. Untuk itu, Amran pun meminta petani Kalsel untuk menanam dua-tiga kali setahun demi optimasi rawa.
“Indeks Pertanaman (IP) tambah satu kali saja, ada potensi Rp 9 triliun – Rp 10 triliun di Kalsel. Kalau IP naik dua kali, ada potensi pendapatan petani Kalsel Rp 13 -15 triliun satu tahun. APBD Kalsel saja hanya Rp 6,3 triliun, artinya potensi pendapatan petani Kalsel di atas APBD,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto menyatakan pembuangan limbah sawit mesti diatur agar tidak mencemari persawahan. Sebab, kata dia, tanaman pangan butuh air segar untuk menghasilkan produksi bermutu. Pihaknya akan melakukan cara persuasif agar limbah sawit tidak mencemari air sungai.
“Enggak boleh jahat-jahat dengan sawit, bagaimanapun juga komoditas pertanian. Harus hidup secara damai dan bijaksana. Memang harus diatur, jangan dibuang ke sungai besar. Pangan butuh air segar terus menerus, kalau kemasukan (limbah) PHnya langsung drop,” imbuhnya dilansir Kumparan.com.
Sementara itu, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdaprov Kalsel, Hermansyah, menambahkan Kalsel punya punya potensi lahan rawa pasang surut sebanyak 186 ribu hektare dan 137 ribu hektare rawa lebak. Saat ini, optimasi pertanian lahan rawa mencapai 154 ribu hektare dengan sebaran di Kabupaten Tapin, Barito Kuala, dan Banjar.
Adapun untuk rawa lebak, pemanfaatannya di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin seluas 88 ribu hektare. Hermansyah mengakui lahan rawa tersebut cuma panen satu kali dalam setahun.
“Jika lahan rawa ini dimanfaatkan optimal, kami yakin produksi padi di Kalsel yang saat ini 2,45 juta ton, akan dapat ditingkatkan. Dalam konteks ketahanan pangan, Kalsel yang saat ini surplus beras mencapai 840.263 ton, akan semakin meningkat lagi kontribusinya untuk swasembada pangan,” tutup Hermansyah.(ren/kum)

Reporter:ren/kum
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share