OPINI
Antara Adab dan Kebebasan: Jalan Sunyi Pesantren
Oleh: Muhammad HS, Mantan Santri dan Ketua Pimpinan Pusat IPNU
KANALKALIMANTAN.COM – BELAKANGAN ini publik dikejutkan oleh tayangan di salah satu stasiun televisi nasional yang menampilkan kehidupan pesantren dengan cara yang menyudutkan.
Tayangan itu dianggap menggambarkan relasi kiai dan santri secara tidak proporsional, bahkan menuduh adanya feodalisme di dalam dunia pesantren.
Pandangan semacam itu lahir dari cara pandang yang sempit terhadap sesuatu yang begitu dalam, yaitu “adab”.
Pesantren tidak dibangun di atas kekuasaan, tetapi di atas ketulusan. Ia bukan lembaga yang mendewakan guru, melainkan ruang pembentukan adab di mana setiap manusia belajar menundukkan ego di hadapan ilmu. Di sanalah letak keindahannya di antara lantunan doa, kesederhanaan hidup, dan hubungan yang penuh kasih antara kiai dan santri.
Budaya “menundukkan diri” di hadapan kiai atau “cium tangan” dan takzim terhadap guru yang sering dianggap feodal sejatinya adalah ekspresi cinta dan kerendahan hati.
Seorang santri melakukan itu bukan karena rendah derajat, tetapi karena ia tahu bahwa ilmu tidak akan menetap di hati yang sombong.
Mencium tangan guru bukan tanda tunduk pada manusia, tapi simbol penerimaan berkah dari tangan yang mengajar dengan keikhlasan. Ini adalah budaya yang lahir dari nilai-nilai luhur, bukan dari rasa takut.
Bagi kiai, santri bukan bawahan. Mereka adalah anak, murid, sekaligus amanah. Banyak kiai hidup dalam kesederhanaan yang nyaris tak masuk akal: makan bersama santri, tidur di rumah kayu, memberi ilmu tanpa pamrih.
Mereka tidak kaya harta, tapi kaya hati. Tidak berkuasa, tapi dihormati karena ketulusan. Itulah wajah asli pesantren yang jarang dilihat oleh kamera yakni wajah keikhlasan yang membentuk peradaban.
Dalam sejarah, pesantren telah menjadi pilar moral bangsa. Dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, kemudian ada Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Kalimantan Selatan hingga para ulama di seluruh Nusantara, pesantren melahirkan generasi beradab yang mencintai tanah air dengan cara yang tenang tapi dalam.
Mereka menulis, mengajar, mendidik, dan membangun masyarakat dengan hati. Bukan karena ingin kuasa, tapi karena cinta kepada ilmu dan bangsa.
Tuduhan feodalisme terhadap pesantren menunjukkan bahwa sebagian dari kita mulai kehilangan pemahaman tentang makna adab.
Di era modern ini, kesetaraan sering disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas, dan kritik mudah bergeser menjadi cemoohan. Padahal, yang kita butuhkan bukan penghapusan hierarki moral, melainkan pemulihan rasa hormat.
Pesantren tidak alergi terhadap kritik. Tapi yang diharapkan adalah kritik yang cerdas dan berimbang, bukan yang meniadakan nilai-nilai luhur hanya demi sensasi.
Media memiliki tanggung jawab moral untuk melihat lebih dalam, bukan sekadar menilai dari permukaan. Sebab yang mereka soroti bukan lembaga biasa, melainkan tempat lahirnya manusia berjiwa luhur.
KH Hasyim Asy’ari bertutur “Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja.”
Jalan pesantren memang sunyi. Tidak gemerlap, tidak viral, tidak sering masuk televisi. Tapi dari jalan sunyi itulah lahir generasi yang tahu cara menunduk sebelum melangkah, menghormati sebelum berbicara, dan berjuang tanpa pamrih.
Selama masih ada santri yang mencium tangan gurunya dengan hormat, selama masih ada kiai yang mengajar dengan cinta, pesantren akan tetap hidup menjaga bangsa ini agar tidak kehilangan adab di tengah kebebasan yang sering salah arah. (Kanalkalimantan.com)
Editor: Dhani
-
Kota Banjarmasin2 hari yang laluIni Aturan Warung Makan Selama Ramadan di Banjarmasin
-
HEADLINE2 hari yang laluHendak Tawuran, 16 Remaja Bawa Sajam Diamankan
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara2 hari yang laluBerbagi Semangat Mengaji dengan Dansatgas TMMD di TPA Al Ikhlas
-
HEADLINE1 hari yang laluMalam Imlek Penuh Khidmat di Klenteng Karta Raharja Banjarmasin
-
Lifestyle1 hari yang laluIni Makna di Balik Shio Kuda Api Imlek 2026
-
Kota Banjarmasin1 hari yang laluArti Warna Merah dalam Tradisi Imlek

