HEADLINE
Tergerus Zaman, Ini Nasib 11 Jenis Rumah Adat Banjar
BANJARMASIN, Mungkin orang kebanyakan hanya kenal Rumah Adat Banjar itu Bubungan Tinggi. Ternyata terdapat bermacam rumah adat Banjar, rumah adat khas Banjar itu punya keunikan dan filosofi tersendiri yang menarik.
Terdapat 11 macam Rumah Adat Banjar berdasarkan status maupun kasta orang yang bertempat tinggal di dalam rumah itu, tetapi untuk model dan bentuknya tidak banyak yang berbeda sedangkan ukirannya tetap khas Banjar dengan sedikit campuran melayu.
Anggota Komunitas Pecinta Rumah Banjar Rusman Effendi mengatakan, ada 11 jenis rumah adat Banjar yang ada di Kalsel yaitu Rumah Bubungan Tinggi (untuk raja), Rumah Gajah Baliku (untuk saudara dan anak raja), Rumah Gajah Manyusu (untuk warit raja/cikal bakal pengganti raja), Rumah Balai Laki (untuk para punggawa mantra atau para prajurit), Rumah Balai Bini (untuk puteri raja atau warga raja yang perempuan), Rumah Palimasan (untuk ulama/tokoh masyarakat), Rumah Cacak Burung (untuk petani), Rumah Tadah Alas (untuk rakyat biasa), Anjung Surung (untuk para petani / rakyat biasa), Rumah Bangun Gudang (untuk para pedagang kebanyan dari tionghoa), dan Rumah Palimbangan (untuk para saudagar).
Kalau ditelaah dari sejarahnya, rumah adat Banjar ini sudah ada sejak abad ke-16 ketika Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam dikenal dengan Sultan Suriansyah.
Rusman Effendi menjelaskan, dalam proses pembuatan rumah adat Banjar yang sebenarnya tidak menggunakan paku hanya memakai pasak-pasak dari kayu ulin. Di dalam rumah adat banjar ini tidak terdapat kamar mandi karena ketentuanya bahwa kamar mandi harus terpisah dari bangunan rumah. Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal. Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.
“Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil. Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain yang diyakini bahwa ini menjadi tolak bala,†beber Rusman Efendi.
Berbicara mengenai rumah adat tentunya tidak jauh berbeda dari hal-hal yang mistis, begitu pun rumah adat Banjar ini. Banyak ukiran ataupun ornamen-ornamen yang ada dijadikan sebagai tolak bala sang pemilik rumah, meski begitu, pengaruh Islam juga sangat lekat. Dimana Islam melarang segala bentuk ornamen binatang melekat pada rumah, salah satu contohnya pada tatah hujung papilis atau ornamen ukiran.
“Dimana pada ujung papilis ini terdapat ukiran motif flora berupa tumbuhan maupun bunga adapun ukiran binatang berupa burung enggang gading ataupun naga akan di samarkan menjadi bentuk flora/tumbuhan maupun bunga,†jelas Rusman Efendi.
-
Kabupaten Banjar1 hari yang laluWabup Lantik 177 Pejabat di Lingkungan Pemkab Banjar
-
Kota Banjarbaru1 hari yang laluMusrenbang RKPD 2027, Wali Kota Lisa Komitmen Peningkatan Kualitas Hidup
-
HEADLINE3 hari yang laluJemaah Haji Mulai Diberangkatkan 22 April
-
Kabupaten Kapuas2 hari yang laluHari Jadi ke-220 Kota Kuala Kapuas, Gubernur Kalteng: Penguatan Sektor Pertanian
-
Ekonomi2 hari yang laluEkonomi dan Fiskal Kalsel Awal 2026 Positif, Inflasi Bulanan 0,86 Persen
-
Kota Banjarbaru1 hari yang lalu27 PNS dan 5 CPNS Pemko Banjarbaru Dilantik Terima SK





