Connect with us

Kanal Pustaka

“Pilanggur” dan “Satipis Apam Barabai”, Mengangkat Budaya Banjar Karya Penulis Banua

Diterbitkan

pada

Penulis buku “Pilanggur” (kiri) bersama penulis buku “Satipis Apam Barabai”. Foto : mario

BANJARMASIN, Bertujuan memperkenalkan budaya Banjar lebih mendalam terhadap pembaca muda, DPD KNPI Kalimantan Selatan menggelar bedah buku bertema “Manggalugai Budaya Banjar di Era Milenial (Melalui Kisah-Kisah Bahasa Banjar)” di Gedung Pemuda KNPI Banjarmasin.

Dengan menghadirkan narsumber Dr Hj Ida Komalasari,penulis buku Satipis Apam Barabai Kambang Rampai Kisah Handap Basa Banjar dan Dr Hatmiyati Masy’ud, penulis buku Pilanggur Salusin Kisdap Banjar. Muhammad Yusuf SE MM, Sekretaris KNPI mengharapkan dari kegiatan ini generasi milenial mengetahui budaya Banjar dan terus melestarikannya.

Ragam peserta dari pelajar, mahasiswa hingga OKP ikut berhadir memeriahkan bedah buku ini. Selain itu, Muhammad Yusuf mengajak generasi muda bisa memperkenalkan budaya Banjar hingga ke pelosok dan daerah. “Sebagai generasi muda, ayo kita jaga dan lestarikan budaya Banjar dan kita sebarkan ke pelosok dan daerah, bahwa budaya Banjar itu bagus,” ungkapnya.

Salah satu alasan kenapa penulis buku “Satipis Apam Barabai” dan “Pilanggur” ini dipilih sebagai nara sumber karena dari judul buku pun yang mereka buat sudah menarik. Sehingga tentu akan sangat bagus jika buku tersebut jauh dikupas dan dibedah lebih dalam lagi.

Selain itu, darah asli Banjar yang menurun di dalam gen kedua penulis ini juga menjadi nilai pertimbangan, di samping masih kurangnya orang-orang Banjar yang berprofesi sebagai penulis.

Hatmiyati mengatakan, budaya Banjar itu sangat menarik, apalagi jika diteliti dan ditulis dengan cermat, baik itu dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah maupun fiksi. Karyanya, “Pilanggur”, sudah terbit pada 2017 lalu,dan memenangi Pengharagaan Sastra Rancage yang diselanggarakan oleh salah satu yayasan di kota Bandung.

Bedah buku karya penulis Banjar di gedung pemuda Kota Banjarmasin. Foto : mario

Sastra Rancage adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah.

“Pilanggur” sendiri menceritakan mitos-mitos yang ada di masyarakat Banjar. “Mungkin masyarakat Banjar, terutama generasi milenial sudah tidak tahu apa itu pilanggur. Pilanggur ini akibat dari sesuatu ketika seseorang melanggar pantangan,” jelasnya secara singkat.

Selain itu, ia menambahkan, jika para pembaca tidak memiliki pengetahuan bahasa Banjar yang mumpuni, pasti akan kesusahan ketika membaca buku “Pilanggur” ini, dimana bahasa Banjar Hulu menghiasi di setiap lembar halamannya.

Sedikit berbeda, kali pertama Ida Komalasari melahirkan buku berbahasa Banjar. “Satipis Apam Barabai” ini lebih banyak berkisah tentang nilai-nilai norma budaya yang ceritanya ia dapat dari ragam kisah mahasiswanya. “Karena saya dosen, banyak cerita dari mahasiswa. Saya jadikan buku,” jelasnya.

Penulis asli Kandangan ini lebih banyak menggunakan bahasa Banjar Kuala di dalam bukunya. Namun, ada juga beberapa tambahan bahasa Banjar Hulu yang ditambahkan oleh editor.

Ketika ditanya apakah ke depannya buku-buku ini akan dialih bahasa ke Bahasa Indonesia agar bisa menjangkau cakupan pembaca yang lebih luas, kedua penulis ini mengaku masih belum mempunyai rencana tersebut. (mario)

Reporter : Mario
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  • 21
    Shares