Connect with us

Kalimantan Selatan

Ini Sikap BEM SI Kalsel Soal Taman Nasional Pegunungan Meratus

Diterbitkan

pada

Koordinator Wilayah BEM SI Kalsel, Rizki, menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Taman Nasional Meratus, Selasa (12/8/2025). Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Mencuat rencana pembentukan Taman Nasional Pegunungan Meratus ikut menarik perhatian dari mahasiswa.

Koordinator Wilayah (Koorwil) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kalimantan Selatan (Kalsel), Rizki mengatakan, mahasiswa berperan penting dalam mengawal isu Taman Nasional Meratus ini.

“Mahasiswa sebagai kontrol sosial di masyarakat. Yang pada akhirnya kalau kita berbicara itu artinya mahasiswa perannya begitu sentral untuk mengawal isu ini,” ucap Rizki kepada Kanalkalimantan, Selasa (12/8/2025) malam.

Baca juga: Menolak Status Taman Nasional Pegunungan Meratus, Ini Alasannya

Dia menambahkan, mengapa hal demikian menjadi urgensi bersama lantaran kebijakan tersebut dapat berdampak buruk terhadap generasi yang akan datang.

“Kebijakan ini bertolak belakang dengan prinsip hidup kita. Bahkan kemudian dengan adanya Taman Nasional besar kemungkinan akan terjadi penggusuran, bahkan kemudian pengusiran terhadap masyarakat adat di sana,” jelas Rizki.

Sangat disayangkan melihat masyarakat ada yang menjaga tanah adat sendiri secara turun temurun, tiba-tiba negara datang dan hendak merampas begitu saja secara sistematis.

Baca juga: Apel Kesiapsiagaan Bencana Karhutla Digelar di Halaman Kantor BPBD Banjar

“Seharusnya negara menjadi pelindung terhadap masyarakat adat, hari ini justru malah ingin merampas daripada hak-haknya melalui kebijakan itu,” sambung Rizki.

Lebih jauh, dirinya menekankan peran mahasiswa sebagai agen perubahan sepatutnya membela hak-hak rakyat termasuk masyarakat adat yang berpotensi kehilangan tempat tinggal mereka yang bertahun-tahun di sana.

“Bukan tidak mungkin nanti terjadi eksploitasi seperti deforestasi secara ugalan-ugalan bahkan kemudian kita tidak tahu apakah ini cuma memang pure Taman Nasional atau cuma bungkusnya aja,” tegas Koorwil BEM SI Kalsel.

Baca juga: Menolak Taman Nasional Pegunungan Meratus, Dema Pospera: Masyarakat Adat Terpinggirkan di Hutan Sendiri

Berkaca di Taman Nasional Tanjung Puting, Mongabay Indonesia melaporkan desa-desa seperti Sungai Cabang, Teluk Pulih, dan Sungai Perluh yang awalnya masuk dalam area Taman Nasional kini dikeluarkan pemerintah dari zona konservasi. Pada akhirnya malah memuluskan izin perusahaan sawit.

Akibatnya, kebakaran hutan dan lahan seluas 25% pun tak bisa dibendung oleh pemerintah. Ditambah eksisnya pertambangan emas dan perkebunan sawit di sana dengan akses informasi yang sangat tertutup.

Rizki mengungkapkan, cara mahasiswa dalam mengawal isu ini bisa lewat gerakan-gerakan yang mengandalkan pikiran seperti diskusi, membuka ruang audiensi, hingga puncaknya sampai pada aksi.

Baca juga: Bahas LPG 3 Kg, Komisi II DPRD Banjarbaru Datangi Pertamina

“Pada akhirnya kita sebagai mahasiswa yang berintelektual ya harus turun ke jalan, harus rela panas-panasan untuk membela hak rakyat,” terang Rizki.

Baginya siapa lagi yang dapat diandalkan masyarakat jika bukan dari kalangan mahasiswa. Maka dari itu diperlukan sinergitas tinggi guna mengawal isu ini bersama-sama.

“Peran mahasiswa tadi sebagai kontrol sosial kita bisa melakukan advokasi, memberikan pemahaman bahkan kemudian kita bisa langsung turun ke jalan untuk memprotes daripada kebijakan ini,” beber Rizki.

Baca juga: Eksklusif di Timezone! Animal Kaiser+ Versi 2 Hadir di 41 Lokasi se Indonesia

BEM SI Kalsel bersama Aliansi BEM se-Kalsel berkomitmen untuk terus mengawal isu daerah ini hinga tembus ke skala nasional. Keadilan menurutnya tidak akan didapatkan sampai berita itu viral atau booming.

“Ini adalah salah satu bentuk gerakan kolektif kita untuk terus membersamai kawan-kawan wilayah, untuk terus membersamai kawan-kawan masyarakat adat yang hari ini hak-haknya dirampas,” tukas Rizki.

Selain itu, upaya lain diantaranya diskusi publik hingga propaganda-propaganda turut dilakukan pihaknya dengan tujuan memantik media-media nasional supaya tahu kondisi di Kalsel utamanya perihal rencana pembentukan Taman Nasional Pegunungan Meratus.

“Kami akan coba terus melalui propaganda media dan membuka komunikasi terhadap mereka. Ini sudah coba kami lakukan lah ya pada akhirnya nanti semoga saja ya kita dapat tersorot lah di nasional gitu,” pungkas Rizki. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca