Connect with us

Politik

Enggan Berpolemik, Nadjmi-Jaya Pilih Fokus Jalankan Sisa 1,5 Tahun Tugasnya

Diterbitkan

pada

Nadjmi-Jaya enggan berpolemik menanggapi kubu penantang di Pilkada nanti Foto: rico

BANJARBARU, Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan enggan berwacana menyikapi dinamika politik jelang Pilkada sehubungan pencalonan Aditya Mufti Ariffin bersama AR Iwansyah. Daripada larut dalam polemik bursa calon walikota dan wakil walikota, Jaya memilih fokus ke pemerintahan untuk membangun Banjarbaru di sisa 1,5 tahun kepemimpinannya bersama Walikota Nadmi Adhani.

“Sisa waktu setahun lebih ini, kami ingin fokus ke pemerintahan dan pembangunan kota Banjarbaru,” ujar Jaya yang juga ketua DPC PPP Kota Banjarbaru, Kamis (11/7) sore.

Ia mengatakan, saat ini bersama dengan Nadjmi ingin bekerja untuk masyarakat dan terus bersinergi dengan berbagai pihak. “Yang pasti kami ingin menjadikan Kota Banjarbaru menjadi lebih baik dan semakin baik,” paparnya.

Ia menyampaikan, bahwa pada saat ini dirinya sedang berada di Purwokerto untuk menerima penghargaan atau tanda jasa bakti Koperasi dan UKM dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. “Tanpa ada dukungan dan sinergisitas dari masyarakat tidak mungkin penghargaan ini bisa diraih. Untuk itulah saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh masyarakat Kota Banjarbaru,” jelas Jaya.

Sementara disinggung soal persiapan maju dan kendaraan yang dipakai untuk maju dalam pencalonan, ia juga enggan berkomentar. “Tetap fokus ke pekerjaan dululah dan menuntaskan,” dalihnya.

Sebelunya, Aditya bersama Iwansyah mendeklarasikan sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru. Tampilnya penantang saudara separtai ini, bisa mengerucutkan pertarungan dalam Pilkada 2020 nanti menjadi head to head. Saat deklarasi Rabu (10/6) di kediaman keluarga mantan Gubernur Rudy Ariffin di Banjarbaru, Aditya dan Iwansyah menegaskan tak hanya maju berbekal kekuatan PPP dan Golkar saja.

Meskipun hitungan di atas kertas,  pada pemilu 2019 lalu kedua partai tersebut merupakan kekuatan tiga besar di parleman. Dimana Partai Golkar dengan 22.143 menempatkan sebagai parpol dengan suara terbanyak dan berhak mendapatkan 5 kursi di parlemen. Sedangkan PPP Banjarbaru menjadi juara 3 dengan meraih 4 kursi di dewan.

“Tentunya kita juga akan melibatkan partai lain dalam koalisi. Komunikasi intensif telah lama kami lakukan selama ini bersama para pimpinan parpol. Jadi kami akan maju dalam koalisi besar. Ada empat sampai enam parpol yang kemungkinan nanti akan merapat,” terang Aditya.

Jika merujuk pada paket politik antara Ketua DPD Partai Golkar Kalsel Sahbirin Noor, saat membuka Konferda PDIP Kalsel beberapa waktu lalu, maka tidak menutup kemungkinan PDIP juga akan menjadi partai penyokong. Apalagi, Iwansyah merupakan Ketua DPD Partai Golkar Banjarbaru yang disebut sudah mengantongi restu dari Paman Birin-panggilan Sahbirin Noor.

Selain PDIP, kemungkinan yang ada dalam barisan gerbong Aditya-Iwansyah adalah Nasdem, PKB, dan PAN. Mengingat, dua parpol tersebut—selain PAN, merupakan bagian dari koalisi nasional pendukung capres Jokowi beberapa waktu lalu. Sehingga komunikasi politik tentunya akan lebih lancar dilakukan.

Terampasnya kendaraan Partai Golkar dari petahana Nadjmi Adhani dan perahu PPP dari Darmawan Jaya, membuat duet ini harus memutar ulang strategi. Pasalnya, sebelum kendaraan politik terampas dengan majunya Aditya-Iwansyah, pasangan Nadjmi-Jaya sudah memiliki kartu sakti untuk melanjutkan pemerintahan dua periode.

Saat ini, incumbent harus melirik kemungkinan maju melalui independen. Kecuali, ada deal khusus Nadjmi dengan Gerindra untuk melakukan koalisi tanpa syarat. Artinya, Gerindra menjadi penyokong paket Nadmi-Jaya dalam Pilkada nanti.

Pada pemilu lalu, Gerindra yang mengantongi 16,2% suara. Ia membuntuti dengan selisih suara 1996 dari Partai Golkar dengan meraup 20.147 suara. Untuk itu, Gerindra berhak mendapatkan 6 kursi dewan.(rico)

Reporter:Rico
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->