HEADLINE
Berkunjung ke Tatah Makmur Pinggiran Kota Banjarmasin yang Dinamai Kampung Jawa
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Jauh dari hiruk pikuk ramainya Kota Banjarmasin, suasana indah dan sejuk menyelimuti suatu permukiman yang dikenal dengan sebutan Kampung Jawa.
Wilayah yang berjarak 6,8 km dengan waktu tempuh 20 menit dari pusat Kota Seribu Sungai ini berada di Jalan Tatah Makmur, Kelurahan Kelayan Timur, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin.

Anak-anak masih dengan bebas menikmat air di sungai yang masih terawat baik. Foto: fahmi
Baca juga: DKISP Banjar Gelar Sosialisasi Komunitas Informasi Masyarakat
Seturut penelusuran Kanalkalimantan, suasana pedesaan masih sangat kental di pinggiran Kota Banjarmasin ini. Seperti minim suara bising kendaraan bermotor, anak-anak yang berenang di sungai, hingga transportasi tradisional seperti jukung masih terlihat bersandar di pinggir Sungai Tatah Cina.
Ketua RT 30 Tatah Makmur, Hendra menjelaskan, alasan mengapa wilayah ini dinamakan Kampung Jawa adalah karena mayoritas penduduknya yang ber-etnis Jawa. Dari sekitar 800-an warga, 80% diantaranya merupakan keturunan Jawa bagian timur, sisanya diisi oleh Urang Banjar.
Penduduk Kampung Jawa Tatah Makmur dulunya berasal dari Kelayan A dan Kelayan B, namun karena kepadatan penduduk di sana membuat mereka memilih pindah ke Jalan Tatah Makmur atau Kampung Jawa mengingat lahannya juga cocok dalam bertani.

Ketua RT 30 Tatah Makmur, Hendra. Foto: fahmi
Baca juga: Komitmen Pemkab Kapuas Dukung Indonesia Bebas AIDS, Tuberkulosis, Malaria
Jukung sebagai transportasi utama warga Kampung Jawa dulunya selalu digunakan terutama mereka yang berkerja harian sebagai petani untuk keperluan pergi ke sawah. Namun, seiring sungai kian menyempit, jukung mulai ditinggalkan warga. Meskipun masih ada sebagian warga petani yang menggunakan dengan jumlah sedikit.
Sebagai informasi, petani merupakan profesi yang paling dominan warga di Kampung Jawa. Setidaknya, hampir semua orang menggeluti bidang ini dibarengi dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya.
“Beberapa petani di belakang rumah masih menggunakan jukung saat pergi ke sawah misalnya untuk mengangkut padi, tapi sudah tidak banyak,” ujar Hendra ditemui Kanalkalimantan.com di kediamannya, Rabu (19/11/2025).

Baca juga: Pemkab Kapuas Komitmen Dukung Reformasi Birokrasi Sesuai Arahan Nasional
Warga di sini juga masih mempertahankan nilai tradisi adat istiadat budaya Jawa, seperti silaturahmi atau kumpul-kumpul di akhir pekan, penggunaan musik Campursari, bahkan dulu sempat ada kesenian Kuda Lumping. Sayangnya, saat para seniman senior sudah meninggal dunia, tak ada lagi yang meneruskan kesenian tersebut sehingga tradisi Kuda Lumping ikut punah.
“Sekarang sudah gak ada lagi, mereka yang tua-tua itu sudah wafat, jadi gak ada lagi yang mengelola,” ungkap warga asli Kampung Jawa ini.
Di tahun 2022-2023, Kampung Jawa dinobatkan sebagai Juara Harapan II dalam Lomba Maharagu Sungai se-Kota Banjarmasin. Hal ini menjadi penanda baiknya pengelolaan sungai di tempat ini. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
-
HEADLINE2 hari yang laluSDA Kalsel Dikuras, Kerusakan Lingkungan Diabaikan
-
HEADLINE1 hari yang laluBerkas Kasus Pembunuhan Mahasiswi ULM Dilimpahkan ke Kejaksaan
-
Kabupaten Banjar2 hari yang laluPemkab Banjar Tindaklanjuti Kondisi Rumah Zainab Warga Lok Buntar
-
Kabupaten Kapuas2 hari yang laluBupati Kapuas Serahkan KHBS dan Bantuan Pangan ke Warga Mantangai
-
Kota Banjarbaru1 hari yang laluIni Juara Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur 2026
-
Kabupaten Kapuas2 hari yang laluBupati Kapuas Tinjau Puskesmas di Desa Sakata Bangun




