Kanal
Tersisa 7 Pengrajin, Kain Tenun Sari Gading Terancam Punah
AMUNTAI, Komunitas Smart Solution (KSS) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) berupaya untuk melestarikan dan meningkatkan produksi kain tenun tradisional khas Banjar. Pasalnya, kain tenun Sai Gading di Kabupaten HSU memudar digerus zaman.
Salah satu upaya pelestarian dengan menggelar workshop di Desa Sungai Tabukan -satu-satunya daerah pengrajin kain tenun Sari Gading-, Rabu (4/12), bersama sejumlah pengrajin dan warga.
Dari 15.009 jiwa penduduk di Kecamatan Sungai Tabukan, Kabupaten HSU kini hanya tersisa 7 pengrajin kain tenun Sari Gading. Itu pun telah lanjut usia, dimana keahliannya diwariskan secara turun temurun.
Selain itu banyaknya masyarakat yang tidak tahu keberadaan kain tenun Sari Gading, lantaran penggunaannya yang diyakini hanya terbatas untuk pengobatan dan kalangan tertentu.
Ketua Komunitas Smart Solution Ahmad Ismail mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Focus Group Discussion (FGD) yang menggali permasalahan pengrajin kain tenun Sari Gading di HSU.
Ia menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan riset sebagai upaya pelaksanaan program BAKTI-Dayamaya oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Komunitas Smart Solution di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
“Kita ketahui bersama di tengah gerusan zaman, selama ini para pengrajin kain tenun tradisional khas Kalimantan Selatan kian langka, khususnya pengrajin tenun Sari Gading di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang hanya ada di Kecamatan Sungai Tabukan mengalami kejadian serupa,†bebernya.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan komunitas Smart Solution mulai dari riset untuk menggali potensi daerah, lewat Focus Group Discussion (FGD) bersama instansi terkait, hingga workshop dengan mendatangkan narasumber tenun dari Kabupaten Tanah Bumbu. Padahal, pekerjaan menenun di daerah Kalimantan Selatan sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Negara Dipa di Amuntai yang merupakan awal mula terbentuknya Kabupaten HSU.
Tenun tradisional di daerah Banjar (Kalimantan Selatan) mencapai
puncak perkembangannya pada abad ke-19 M, yaitu ketika daerah ini mengirim/menjual benang lawai ke daerah Pulau Jawa. Kemudian pada permulaan abad ke 20, keadaan kain
tenun di Kalimantan Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya mengalami
kemunduran karena terdesak oleh kain tenun dari negeri Belanda yang produksinya sudah menggunakan mesin untuk alat menenun dan mempersiapkan bahan tenunnya.
Salah satu pengrajin kain tenun Sari Gading yang masih bertahan Nor Syaidah mengatakan, saat ini kain tenun Sari Gading hanya digunakan sebatas pengobatan untuk orang yang mempercainya, seperti sakit kepala, sakit pinggang, gatal-gatal, dan sebagainya. (dew)
Editor : Bie
-
Komunitas2 hari yang laluKebersamaan PRTB Banjarmasin dalam Reuni dan Halalbihalal
-
Kriminal Banjarmasin2 hari yang laluTiga Pelaku Pengeroyokan di Sungai Bilu Menyerahkan Diri ke Polisi
-
Kabupaten Banjar11 jam yang laluWabup Lantik 177 Pejabat di Lingkungan Pemkab Banjar
-
Kabupaten Kapuas1 hari yang laluHari Jadi ke-220 Kota Kuala Kapuas, Gubernur Kalteng: Penguatan Sektor Pertanian
-
HEADLINE2 hari yang laluJemaah Haji Mulai Diberangkatkan 22 April
-
Ekonomi1 hari yang laluEkonomi dan Fiskal Kalsel Awal 2026 Positif, Inflasi Bulanan 0,86 Persen







