HEADLINE
Udara Palangka Raya Disebut Normal, Warga: Coba Berkantor Sebulan di Sini
KANALKALIMANTAN.COM, PALANGKA RAYA – Kabut asap pekat masih menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kondisi udara tak sehat memicu protes warga yang menilai situasi di lapangan jauh dari kondisi normal, karena harus menggunakan masker untuk beraktivitas di luar rumah.
Warga mempertanyakan penilaian yang menyebut kondisi Palangka Raya masih normal, seperti yang disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto, Rabu (23/9/2026).
Kondisi kualitas udara Palangka Raya juga menunjukkan tingkat pencemaran yang tinggi. Data IQAir yang dipantau pada 24 September 2026 menunjukkan kualitas udara Palangka Raya berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Baca juga: 300 Pompa Tak Mampu Jinakkan Karhutla Kalsel
Bahkan kandungan PM2.5 sebagai polutan utama sempat menyentuh 2.173 mikrogram per meter kubik. Nilai tersebut berubah secara real time berdasarkan lokasi dan waktu pemantauan.
Wawan, warga Kota Palangka Raya, mengatakan penggunaan masker saja sudah menunjukkan bahwa kondisi udara tidak normal di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah ini.
“Pakai masker saja sudah tidak normal. Apalagi, kondisinya seperti ini,” ujar Wawan saat diwawancarai Beritasatu.com, Kamis (24/9/2026).
Baca juga: ISPA di Kapuas Capai 2.465 Kasus, Kecamatan Selat Tertinggi
Menurut Wawan, sejumlah toko dan tempat usaha yang tetap buka bukan berarti kondisi sudah aman dan normal. Warga terpaksa tetap bekerja dan beraktivitas, karena harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Toko-toko yang buka itu terpaksa. Kalau kami tidak berusaha, kami tidak makan. Asap ini memaksa kami tetap bekerja. Tidak ada kata normal beraktivitas di tengah asap,” ucapnya.
Wawan meminta pemerintah memperhatikan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, termasuk data kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang tercatat di instansi terkait.
Baca juga: Jaga Jaringan Distribusi, PTAM Intan Banjar Kerahkan Karyawan Pantau dan Antisipasi Karhutla
“Kalau bapak bilang normal, coba berkantor di sini 1 bulan tanpa masker. Baru bisa bapak bilang normal,” ujarnya.
Dia menggambarkan kabut asap di pusat kota Palangka Raya sudah sangat pekat. Wawan memperkirakan jarak pandang di kawasan tersebut kurang dari 50 meter.
“Di pusat kota saja jarak pandangnya, saya tidak tahu pasti, tapi pasti di bawah 50 meter. Ini pusat kota saja sudah kuning sekali. Bagaimana bisa dikatakan normal?” katanya.
Baca juga: Guruh Soekarnoputra Wafat Usia 73 Tahun, Dimakamkan di Samping Ibu Fatmawati
Meski mengeluhkan kondisi udara, Wawan mengakui upaya penanganan Karhutla di Palangka Raya terus dilakukan. Pemadaman api dilakukan di sejumlah titik, tetapi kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut.
Menurutnya, hujan menjadi salah satu hal yang paling dibutuhkan untuk membantu mengurangi kabut asap. Untuk jangka panjang, dia meminta sumur bor dimanfaatkan secara optimal untuk membasahi lahan gambut.
“Kalau bisa sumur bor difungsikan untuk membasahi lahan gambut. Jadi kalau nanti kemarau lagi, lahan gambut kita basah dan tidak mudah terbakar,” pungkasnya. (Beritasatu/kk)
Editor: kk
-
HEADLINE2 hari yang laluTemuan Sidak Ombudsman: Hunian Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
-
HEADLINE2 hari yang lalu300 Pompa Tak Mampu Jinakkan Karhutla Kalsel
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluBapperida Banjar Gelar CSR Award 2026
-
HEADLINE1 hari yang laluNapi Kakap di Lapas Cibinong Ada Sambo hingga Harvey Moeis
-
Kabupaten Kapuas2 hari yang laluPosko Induk Karhutla Kapuas Kedatangan Gubernur Kalteng
-
Kota Palangkaraya2 hari yang laluPembunuh IRT di Palangka Raya Ternyata Suami Sendiri


